Catatan Tim Kemanusiaan NU di Asmat (2)

Ilustrasi

Oleh : M Wahib Emha

Permasalahan gizi buruk dan campak sebenarnya bukan hanya kali ini, sudah terjadi sejak lama, dan tidak hanya di Asmat, namun ini booming karena adanya media social yang mengungkap kejadian tersebut dan menjadi KLB atau Kejadian Luar Biasa.

Karena permasalahan yang sudah lama dan akut, maka penanganannya juga tidak bisa hanya sekejap, tentu kami (Tim NU) yang dari luar Asmat tidak bisa membantua dalam waktu yang lama, tapi bukan berarti kami tdak bisa, kaeuntungan kami NU memiliki setruktur sampai tingkat kecamatan di Papua (kalau di Jawa sudah sampai tingkat RW)

Selain sulitnya akses yang super susah, keamanan yang mengancam (jika tanpa pengawalan TNI/POLRI) ada 23 distrik yang berjauhan, hal ini tidak memungkinkan kami untuk menanagninay secara keseluruhan, selain keterbatasan sumberdaya manusia juga sumber dana, sebagai santri kami memilikilandasan teori berdasarkan pada kaidah fiqhiyah (kaedah fiqih) “ Ma La Yudraku Kulluhu La Yutraku Kulluhu”, Program / kerjaan yang Tidak Bisa Kita Kerjakan Semuanya jangan ditinggalkan Keseluruhannya, bahwa kami tidak mungkin bisa membantu ke semua distrik, namun bukan berarti kami tidak membantu sama sekali.

Menjembatani persoalan yang ada, Tim NU melaksanakan kunjungan ke para ketua-ketua adat yang ada di Agats, Asmat, ini adalah kulonuwun, assalamualaikum atau darmom (dalam Bahasa Asmat) yang berarti salam sebuah penghormatan kepada tuan rumah, Tim diterima oleh pata ketua adat di JEW (rumah adat), kami melaksanakan sosialisasi tentang apa yang akan kami laksanakan untuk waktu yang lama dan terprogram, yang kedua penguatan kapasitas local yang ada, penguatan ini diikuti oleh para pengurus NU Asmat dan juga diikuti oleh para pemuda dari 3 kampung (Syuru, Aswet dan Kaye) mereka diberi pembekalan tentang pengelolaan program NU yang terkait dengan kesehatan anak dan keluarga, kami menyadari bahwa penguatan kapasitas local merupakan sebuah kewajiban, “Ma La Yatimul Wajib Ilaa Bihi Fahuwa Wajib” “Perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib” menolong anak-anak di Asmat hukumnya wajib, maka penguatan ilmu untuk bisa menolong mereka hukumnya juga wajib

Alhamdulillah, dengan melaksanakan penguatan kapasitas yang melibatkan masyarakat local merupakan investasi dan amal jariyahyang tak ternilai, meski kami sudah di Jakarta, program terus berjalan, setiap hari mereka melaksanakan kegiatan di CEM GIZI NU, CEM dalam bahasa Asmat yang berarti tempat , ruang. berupa : dengan kegiatan mengontrol dan mendatangi anak-anak yang sudah di screening dan diagnosa, memberikan makanan pokok dan makanan tambahan, hal ini dilaksanakan 4 kali dalam 1 minggu, pagi diberi makanan pokok, sore makanan tambahan, dan tim melaporkannya ke Jakarta, sehingga kamipun tahu perkembangannya setiap waktu

Semoga ini menjadi amal ibadah sebagaimana janji Allah Tuhan Yang Maha Pengasih, berfirman: “Dan siapapun yang memilahara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS: Al-Maidah 5:32) yang berarti jika kita bisa menolong seorang untuk bisa hidup, nilai pahalanya sama dengan telah memberikan penghidupan kepada seluruh manusia.

#NUPeduliKemanusiaan
#LPBINU
#LAZISNUcare
#LKNU

Sumber : Status Facebook M Wahib Emha

Thursday, February 8, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: