Catatan Miranda Gultom tentang Pemilu 2019

Oleh: Miranda Gultom

Dear…
Ada haru kemarin ketika rehat seminar. Saya mendengar sekelompok orang berbicara tentang pemilu di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa Hasil Quick Count Jokowi menang, berselisih hanya 9% dari rivalnya. Namun yang hebatnya, Jokowi bisa membuat partisipasi Pemilu di atas 80%. Selisih kemenangan tidak penting. Yang penting itu adalah memberikan kesadaran kepada rakyat akan hak pilihnya sebagai warga negara. Kamu tahu dear, Indonesia yang pluralis dengan luas terbentang sama seperti jarak London Siberia itu, tidaklah mudah melaksankan pemilu secara demokratis. Ini benar benar people power. Dunia terkejut. Betapa tidak. Indonesia yang baru 15 tahun melaksanakan demokrasi langsung, mampu melahirkan kesadaran demokrasi yang begitu tinggi.

 

 

Kamu tidak bisa membandingkan demokrasi seperti Era Orba, atau seperti Pemilu Anggota Komite rakyat China, Pemilu ala Korea Utara, atau pemilu di Singapore di mana orang dipaksa untuk datang ke bilik suara. Ada ancaman serius bagi yang tidak ikut Pemilu. Di indonesia, orang hanya dilarang mengkampanyekan golput. Namun kebebasan memilih dilindungi haknya sama dengan yang memilih. Faktanya lebih banyak yang menentukan hak pilihnya daripada yang tidak. Itulah nilai demokrasi yang luar biasa, yang tidak mungkin bisa dicapai oleh AS sebagai penyokong utama sistem demokrasi. Tidak juga di Eropa yang mengenalkan paham sekular dalam politik.

Tapi dear, membuat populasi lebih dari 200 juta orang seperti Indonesia itu, untuk memahami demokrasi tentu tidak mudah. Namun seni pengelola kebebasan dilakukan dengan begitu indah oleh Jokowi. Saya katakan indah, karena hanya orang yang berjiwa bersih dan penuh keimanan yang bisa memberikan kebebasan orang untuk bersuara. Bahkan sepanjang kekuasaanya tidak pernah sepi dari hujatan dan fitnah. Jokowi menikmati perbedaan itu walau kadang menyakitkan bagi sebagian orang yang mencintainya. Massa menyemut berdatangan ke Jakarta. Mereka menentangnya. Di depan istana mereka berteriak lantang. Jokowi tidak menghadapinya dengan moncong senjata TNI. Aksi itu dihadapi dengan cinta. Semua selesai begitu saja.

Begitu banyak yang percaya bahwa Jokowi harus diganti. Apalagi melihat lautan massa berdatangan menentangnya. Bukan hanya di Jakarta tetapi hampir di semua kota besar bergema aksi ganti presiden. Ini semakin meyakinkan para elite Politik bahwa Jokowi tidak disukai rakyat. Banyak orang yang tadinya dekat dengan Jokowi akhirnya memilih oposisi. Namun dear, dibalik aksi dan gemuruh kebencian datang bertalu talu itu, ada kelompok diam yang terus berdoa untuk seorang Jokowi. Mereka tidak menampakkan diri dengan aksi berjilid jilid. Mereka tidak bersuara dengan taburan amarah kepada mereka yang membenci Jokowi. Mereka terus bekerja dalam diam dan berdoa tentunya. 

Kemarin, ketika Pemilu mereka yang diam itu datang ke bilik suara untuk menentukan pilihan politiknya. Ternyata mereka bukan sedikit, tetapi merekalah silent majority di Indonesia. Hukum demokrasi berlaku. JOkowi sebagai pemenang dalam hitungan cepat. Dan Prabowo bersama kelompoknya harus menyadari bahwa sistem demokrasi tidak menghitung kerumunan orang. Tidak melihat siapa yang peling kencang bicaranya. Tidak melihat siapa yang paling banyak titelnya. Tidak melihat orang berbicara dengan lantunan firman Tuhan dan janji negeri utopia. Demokrasi ditentukan oleh rakyat yang menggunakan hak pilihnya. Prabowo kalah bukan karena dia tidak hebat tapi begitulah demokrasi. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan demokrasi. Kemenangan akal sehat. Itulah people power sesungguhnya. Tidak ada yang bisa menentangnya. 

Dear,
Kalau orang mengatakan bahwa Jokowi meminggirkan islam, itu juga tidak tepat. liatlah fakta hitungan cepat. PKS yang merupakan satu satunya partai idiologi islam, yang terpuruk di Pemilu sebelumnya, justru di era Jokowi mendapatkan suara terbaiknya. Bahkan mengalahkan partai islam nasionalis lainnya. Mengalahkan Partai Demokrat. Apa artinya itu? itu fakta bahwa narasi idiologi islam punya tempat terhormat diera kekuasaan Jokowi. Itu hanya mungkin karena pemahaman Pancasila yang bersumber dari Tauhid , yang memang tidak seharusnya melarang orang berpolitik menggunakan agama. Tentu sepanjang ia tetap patuh kepada palsafah Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Eka dan NKRI. Umat islam harus bersyukur dengan munculnya Jokowi sebagai presiden. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan akhlak, yang menghormati pluralisme atas dasar cinta bagi semua. 

Dari kebebasan yang dikelola Jokowi dengan baik, tingginya partispasi Pemilu, dan terpilihnya pemimpin sesuai kehendak Tuhan terjadi di Indonesia. Takdir berlaku menjadi hikmah bagi semua. Semoga om Wowok bisa mengerti. Menjadi pemenang itu penting tetapi jauh lebih penting menerima kekalahan dengan ikhlas. Bukankah kekuasan itu bersumber dari Tuhan. Dan kepada Tuhanlah semua itu kembali, ya kan dear..

Wednesday, April 24, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: