Catatan Kecil untuk Engkau, Anakku Kelak, Tentang Bapakku, Kakekmu

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Ini katanya Hari Ayah. Presiden keenam SBY yang meresmikannya, anakku.

Mbah kakungmu, bapakku, meninggal di usia relatif muda, 45 tahun. Karena kanker kolon akibat ga mau dioperasi (dengan teknologi yang sudah lumayan bagus saat itu, awal 2000). Saat aku masuk semester tiga dan adek-adek perempuanku (bulik-bulikmu) masih remaja tanggung.

Mbahmu lahir di Semarang dari orang tua (mbah buyutmu) pindahan dari daerah Bungo, Demak. Hidup di lingkungan kumuh Layur-Petek-Sleko-Barutikung, di pinggiran kali Semarang. Yang sering terhadang rob jika pasang.

Mbahmu itu juga lama sekali menderita ambeien. Salah satunya karena di masa mudanya sempat jadi kuli angkut di Johar pas SMP untuk membiayai sekolahnya. Dan ambeiennya turut menyertai sakit2nya. Bahkan saat berhaji tahun 2001 awal (5 bulan sebelum sedho-nya) harus memakai kursi roda dan sempat dirawat inap di Mekah.

Seperti kebanyakn orang2 Indonesia kelahiran 1940-60an, mbahmu berasal dari keluarga miskin yang harus bekerja keras untuk sekedar sekolah. Sehingga generasi bapakmu, kelahiran 1970-1980an bisa menikmati kehidupan yang lebih baik berkat kerja keras dan tekad generasi mbahmu untuk bersekolah.

Dan ya, mbahmu termasuk pemuda bertekad kuat. Sepulang sekolah SD mbantu mbah buyut putri jualan nasi di Johar. Beranjak remaja di pagi hari jadi loper koran dan mbantu pakdheku (mbahmu juga) jualan baju di Johar. Trmasuk nguli.

Saat berhasil masuk Akubank (sekarang namanya Unisbank, sebelumnya Stikubank), mbahmu termasuk yang berprestasi. Untuk membayar uang kuliah, mbahmu jualan stempel dan letter di emperan Jalan Bojong dekat Johar (sekarang jalan Pemuda). Mbahmu jago nglukis trmasuk bikin spanduk dengan cetakan huruf dengan kertas (dulu belum rame mesin cetak sablon). Tapi kemampuan mbahmu dan mbah2mu yang lain (om dan pakdhemu) tidak menurun kepada bapakmu n om2mu (sepupu bapakmu).

Trus sesekali ngamen lewat nglawak di panggung Ngesti Pandowo. Deket dengan seniman2 lawas Semaramg, salah satunya pak Jawahir Muhammad dan Abdul Wahid (penjahit sekaligus seniman), bapaknya Tukul (gugling saja siapa itu Tukul). Termasuk memberi les kepada teman2 sekelasnya tentang materi kuliah. Termasuk kepada ibukku, mbah putrimu.

Bertahun kemudian..
Jelang bapakmu menikah dengan ibumu, tahun 2015, Aku bertanya pada ibukku (mbah putrimu), "Kenapa dulu ibuk mau sama bapak? Kan bapak wong kere, urip nang kampung Layur trus Sleko seng kumuh. Omahe cilik. Akeh premanne. Bahkan 5 sepupu bapak adalah pendiri salah satu ormas preman terkenal di Semarang yang menguasai pelabuhan dan nJohar.

Malah sakdurunge mendalami Islam maneh (1993 trus naek haji tahun 1997), mbah Sleko (mbah buyut) pengikut kejawen. Bapak nembe rajin solat bar aku kelas enem SD. Kui wae nek dadi imam isone ming "Qul Hu karo surat An nas.. hhe. Lha ibuk kan saka keluarga dengan tradisi NU seng kuat. Koq iso mbah Kudus (mbah buyutmu, anakku) nerimo bapak?"

Lalu jawaban mbah putrimu, 
"Mbah Kudus melihat bapak itu orang yang brtanggung jawab. Hasil jualan stempel ama nglawak untuk biaya sekolah 5 adeknya juga. Semester akhir sudah keterima kerja. Kalo ibuk pulang ke Kudus, dianter dan dikasih uang saku, padahal gajinya juga masih kecil waktu itu. Mbah Kudus percaya bahwa suatu saat nanti pasti bapakmu akan belajar solat bahkan naek haji. Sesuatu yang kemudian terbukti. Walo jarang solat, bapakmu kan minta kamu sama adek2mu sinau ngaji tiap sore. Bapakmu ga pengen anak2nya seperti dia, yang awam Islam."

Di zamanmu, anakku, calon menantu lelaki mungkin akan banyak ditolak menikahi seorang perempuan, jika ia seorang muslim tapi ga pernah solat. Walo ia lelaki yang kukuh, punya pekerjaan atau bisnis yang mapan karena sekolahnya pinter, lalu sayang sama ibunya dan pelindung adik2nya. Maka kamu harus jauh lebih baik dari zaman mbah maupun bapakmu, anakku. Ada kesempatan sekolah, ya lakukan yang terbaik dan penuh suka cita

Bapakku, mbahmu, adalah tipe lelaki konservatif dan tipe yang jarang mengekspresikan pujian, rasa sayang atau bilang "I love u" kepada istri dan anak2nya. Dan selalu ingin anak lelaki satu-satunya tumbuh menjadi pemuda yang kuat, cerdas dan tidak cengeng.

Yang paling bapakmu inget tentu ketika SMP, bapakmu ini mendalami olahraga Karate dan mengikuti kejuaraan-kejuaraan dan lumayan juga menang prestasi lombane. Suatu saat, bapakmu pernah sedang brtanding di kumite beregu. Lawan adalah seorang satpam Matahari department yang sudah dewasa. Dari dojo yang dikenal kuat juga. Bapakmu masih 14 tahun. Dengan curang, lawan itu memukul hidung dan mata bapakmu dengan keras, sesuatu hal yang dilarang dalam kumite. Bapakmu tumbang dan alhasil mata bapakmu ini trtutup sebelah karena luka. Mbahmu yang hadir di stadion cuman terpaku diam menyaksikan bapakmu ini dirawat medis. Ga nglakuin apa2 atau cemas, cuman diam di kursi tribun Mugas.

Sampe rumah, mbah putrimu, ibukku menangis menyaksikan wajah anak lelakinya lebam penuh luka, walo bapakmu ini terlihat ceria karena kami juara. Dan mbah kakungmu hanya diam. Tak memuji atau menghibur. Cuman bilang, "besok ke dokter" dengan kaku.

Tapi juga bisa sangat marah ketika mendapati saya tiap hari pulang malem demi TC Karate jelang Kejurda Jateng tahun 1997. Padahal saat itu, bapakmu ini sudah menerima surat panggilan seleksi akhir masuk SMA TN Magelang. Mbahmu waktu itu bilang "kowe milih sekolah opo Karate? Nek milih Karate, rak sah sekolah sisan.". Rupanya, mbahmu kuatir bapakmu ini cidera sehingga ga lolos masuk SMA TN. Pikir bapakmu ini, toh sudah keterima di SMA 3 Semarang. Tapi mbahmu mengajarkan satu hal. Jangan setengah-setengah menjalani hidup.

Lalu ada lagi saat mbah kakungmu "tega" meminta bapakmu ini berangkat ke Banda Aceh, di cuti pertamanya setelah 4 bulan masuk asrama SMA, dengan bus lintas Sumatera. Perusahaan2 bus Aceh memang yang terbaiksaat itu, Kurnia. Bus-bus Aceh sampai saat ini tetap paling bagus.

Jadi, bapakmu, 15 tahun, sendirian, harus menyeberang selat Sunda dengan feri, menyusuri jalan lintas timur Sumatera dari Lampung, lalu Sumsel, Jambi, Riau dan Sumut. Turun di Medan untuk berganti bus ke Lhokseumawe-Banda Aceh. 4 hari 3 malam pertama tanpa teman dan itu bulan puasa. Bapakmu ini jengkel berat karena mbahmu itu pasti sangat mampu membelikan bapakmu ini tiket pesawat.

Sampai di Banda, bapakmu disambut mbah putrimu di terminal dengan haru. Semua deg-degan, trmasuk om yang nganter saya di terminal Rawamangun, Jakarta. Karena tahun 1997 akhir itu, konflik bersenjata di Aceh mulai pecah kembali. Sweeping thdp tamu dari Jawa sangat rentan terjadi. Dan bus bapakmu sempat dihentikan di ruas Lhokseumawe-Bireun kayaknya. Kapan2 aku critain lagi tentang ini.

Bapakmu ini mendiamkan mbah kakungmu selama 3 hari, sebelum lalu mbahmu bilang, "Dam, ayo ganti klambi. Trus melu bapak cukur rambut cepakmu, trus mangan sate kambing ning cedhak Mesjid Raya". Mendengar kata sate, bapakmu ini langsung ganti baju. Sampai di warung, mbahmu hanya ngeliat bapakmu makan sate dengan lahap. Ga berani lagi makan sate katanya. Rupanya di Aceh lah mbahmu mulai sakit itu.

Tanpa kata "cinta", "maaf" atau "terima kasih" atau pujian dan pelukan, seperti lazimnya orang tua dengan prkembangan ilmu psikologi dewasa ini. Mbahmu memilih mengungkapkan rasa sayangnya kepada istri dan anak2nya (bapak dan bulik2mu) lewat perbuatan. Istrinya diberi perlindungan jiwa dan raganya. Anak-anaknya diberikannya pendidikan yang berkualitas dan didorong untuk berprestasi melebihi pencapaiannya. Dengan diam tentunya.

Lalu, apa bapakmu ini memaafkan tindakan berani penuh resiko mbahmu saat "memaksa" bapakmu ini naek bus sendirian, dalam perjalanan perdana ke Aceh itu? Setelah mengerti maksudnya, bapak tidak hanya memaafkan, tapi juga menghargai cara mbahmu membuat bapakmu, anak lelaki satu-satunya, menjadi kuat menjalani hidup. Zaman bapakmu kan enak. Sekolah tinggal milih sekolah yang bagus. Tinggal mikir nilai.

Caraku mendidikmu pasti berbeda anakku. Tiap zaman ada ciri khasnya. Tiap ciri khas ada zamannya. Nanti kusambung lain kali.

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Friday, April 27, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: