Catatan Kebaikan

ilustrasi
Oleh : Budi Santosa Purwokartiko
Kemarin saya baca cerita hikmah yang dikirim saudara ke WAG. Isinya tentang seseorang yang ahli ibadah ritual, Abu bin Hasyim. Selama 20 tahun ia sholat tahajud tiap malam tanpa putus. Lalu pada suatu malam saat akan wudhu, ada makhluk menunggu dia di tempat wudhu. Saat dia akan wudhu, dia bertanya
"Siapa Anda?" Lalu makhluk itu menjawab bahwa dirinya malaikat. Sang malaikat membawa buku tebal berisi nama2 orang yang akan masuk surga. Abu tentu penasaran dan ingin memastikan namanya ada di buku itu. Kemudian dicek oleh malaikat. Ternyata namanya tidak ada.
Abu tidak percaya, masak ibadah ritualnya begitu hebat, masih belum cukup untuk masuk daftar penghuni surga.
Ia meminta malaikat mengecek lagi daftar itu. Lagi2 malaikat bilang tidak menemukan namanya.(tentu malaikat kemampuannya canggih, lebih dari fungsi 'find' dalam excel atau ms word)
Kemudian malaikat menjelaskan kenapa nama Abu bin Hasyim tidak ada di buku itu.
"Bagaimana kamu mau masuk surga, sedangkan di kanan kirimu ada orang sakit dan lapar kamu tidak peduli. Kamu asyik dengan dirimu sendiri, kamu bangga dengan ibadahmu dan bersenang-senang memikirkan dirimu sendiri. Bagaimana kamu akan menjadi kekasih Tuhan jika kamu sendiri tidak pernah mencintai makhluk yang diciptakan Tuhan."
Kira2 begitu penjelasan sang malaikat. Abu bin Hasyim seperti disambar petir mendengar penjelasan itu.
Sebenarnya teman2 di sini sudah tahu cerita2 semacam ini. Saya menulis ulang untuk mengingatkan terutama diri saya sendiri, tidak mudah menjadi manusia yang bertanggungjawab atas kemanusiaannya. Betapa sering kita berlaku egois memikirkan diri sendiri. Ada banyak hal di sekitar kita yang butuh perhatian kita. Kadang sedikit tindakan kita itu sangat bermanfaat bagi orang lain. Kita sering berlebih mentreat tubuh kita dengan kemewahan entah berupa makanan, pakaian atau fasilitas meski kita tidak benar2 butuh.
Cerita di atas tentu saja hanya cerita hikmah yang belum tentu terjadi. Namun hikmahnya yang justru sangat penting. Untuk agama apa saja saya kira prinsip mencintai Tuhan dengan mencintai makhluknya akan berlaku. Makanya pernah ada teman yang usul harusnya sila ke-1 itu "Kemanusiaan yang adil dan beradab" bukan Ketuhanan. Malah ada yang ektrim harusnya Ketuhanan justru jadi sila ke-5. Karena wujud kecintaan pada Tuhan harus diwujudkan lewat sikap kemanusiaan, keadilan, persatuan ke sesama manusia. Eh yang ini saya sih nggak berani komen. Itu kata teman.
Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko
Monday, January 11, 2021 - 19:00
Kategori Rubrik: