Cara Terbaik Mencintai Islam

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Awalnya saya pikir yang paling berat tentang Islam adalah menghapal bacaan shalat dalam bahasa Arab. Ketika bersyahadat pertama kali, saya belum hapal betul seluruh bacaan shalat dengan runut. Surah yang saya hapal pun masih sangat sedikit. Al Fatihah, Al Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, ayat kursi dan Al-Kautsar tentu saja.

Saya diantar beberapa orang senior pergi bersyahadat di suatu petang, berbekal mukena pemberian kawan. Sepulang dari sana, saya justru kuatir. Saya takut Bapak tahu dan entah apa yang akan menimpa saya. Lalu saya berpikir, sungguh lucu saya takut Bapak saya yang manusia itu murka sementara saya baru saja membaca kalimat syahadat. Saya sudah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maka seharusnya tidak ada satu manusia pun yang bisa membuat saya gentar.

Saya kemudian membawa buku bacaan shalat ke mana-mana dalam tas. Yang paling terakhir saya hapalkan adalah bacaan tahiyat. Maka buku kecil itu selalu terbuka di tengah sajadah saat saya shalat di musholla kampus. Bagian yang belum saya hapal, saya baca. Tak ada yang mengritik apa yang saya lakukan. Teman maupun senior paham, saya mengejar ketertinggalan yang cukup banyak. Di rumah, saya pun tak ada yang bisa membantu.

Setelahnya ujian yang lebih berat lagi adalah berpuasa sepanjang hari. Puasa pertama saya boleh dibilang separuh gagal. Saya waktu itu tidak menjiwai makna berpuasa. Hanya sebatas menahan lapar dan haus. Tidak ada sahur dan berbuka bersama keluarga. Tarawih sendiri di keheningan, di kegelapan. Sebab saya masih sembunyi-sembunyi dari Bapak yang tidak setuju saya masuk Islam.

Saya belajar mengaji nanti setelah anak-anak saya bisa. Baru tergerak, maka tanpa malu saya bergabung bersama anak-anak saya yang masih kecil-kecil waktu itu mengaji dituntun seorang guru mengaji. Suatu petang saya mengulang membaca apa yang saya pelajari sore sebelumnya. Bacaan surah Al-Maidah. Saya mendengar suara saya sendiri patah-patah melantunkan ayat demi ayat. Saya kemudian menangis. Sebagiannya karena malu sudah sekian tahun saya sengaja menunda entah atas alasan apa. Sebagiannya karena terharu, saya masih diberi kesempatan untuk mengejar.

Saya kemudian memakai jilbab saat anak ketiga lahir, bukan atas kesadaran bahwa menutup aurat itu wajib. Saya bernazar, dengan kata lain menantang Allah, jika kehidupan kami membaik dan suami saya mendapat pekerjaan yang layak, saya akan berjilbab. Maka setiap kali saya mendapati diri saya dipuji dan disanjung sebagai perempuan yang taat dan sholehah, sebenarnya saya tak pantas besar kepala. Pujian justru seolah menyindir saya. Saya belum seberapa baik dan taat, kebetulan saja Allah menutup isi hati dan kepala saya dari diketahui orang lain.

Soal teori dan praktik beragama, saya masih sangat jauh dari teladan. Saya hari ini masih begini-begini, hanya pandai menghitung nikmat yang saya diberi, serta mengukur seberapa besar saya harus mengembalikan. Saya pernah ugal-ugalan menjadi manusia, sombong dan bebal, kerap mengecewakan, ber-Islam membuat saya seolah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri saya dan akhlak saya yang begitu tercela.

Ber-Islam bagi saya seperti belajar terus-menerus, mungkin sampai mati. Akhlak ternyata tidak ditentukan oleh rupa dan pakaian. Tapi seberapa keras kau mencoba memperbaiki diri dan meneladani mereka para manusia mulia yang diberi prestise untuk memberikan teladan. Bagaimana menjadi manfaat bagi sekitar, bukan mudharat. Bagaimana boleh mengejar kemuliaan tapi tanpa menistakan manusia lain. Bagaimana mencintai Allah sekaligus merawat hubungan dengan sesama manusia.

Ber-Islam pun seperti sebuah perjalanan pulang. Seperti seorang anak yang sudah puas bermain dan sudah jera terluka, pulang ke rumah adalah penawarnya. Pulang ke rumah adalah obat dan kegembiraan.

"Bagaimana jika nanti kau menyesal masuk Islam?" Begitu saya pernah ditanya.

23 tahun alhamdulillah, saya masih lebih banyak bergembira daripada bersedihnya. Saya belum pernah menyesal. Semoga seterusnya.

***

Saya tidak pandai menyuruh anak-anak saya shalat tepat waktu, puasa senin kamis atau mengejar menghapal isi Quran. Saya berbaik sangka bahwa mereka harus mengalami semua pengalaman spiritual mereka sendiri supaya kelak mereka tidak menjadi orang beriman dengan gaya angkuh. Saya menasihati, mengambil contoh manusia-manusia taat tapi tawadhu, memberi dukungan sebesar-besarnya, tapi tidak menakut-nakuti apalagi memberi ancaman.

Saya meyakini mencintai Allah tidak harus dengan berteriak. Mengimani Islam tidak mesti dengan pakaian dan sebanyak mungkin atribut agama yang tersemat atas diri. Tapi menjalani hidup dengan hati lapang sembari membawa lisan dan perilaku yang sekuatnya dijaga agar tidak membuat malu diri, Rasulullah, terlebih Allah; ternyata itu ujian yang paling berat yang harus dilulusi.

Shalat, berpuasa, membaca Quran, bersedekah, berhaji, semua kemudian terasa tidak seberapa sulit jika disandingkan dengan menjaga tutur kata, perilaku dan prasangka baik atas sesama.

Melawan hawa nafsu dan menaklukkan ego sendiri.

Tidak merasa lebih baik dan lebih benar.

Bersikap adil dan ikhlas sebagaimana Allah sudah bersikap adil terhadap dirimu dan ikhlas mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

Mengenyangkan orang lain seperti kau telah dikenyangkan.

Memperlakukan manusia lain tanpa pilih dengan sikap mulia, seperti Allah memuliakanmu.

Tetap rendah hati meskipun Allah sudah meninggikan derajatmu, sebab kau sadar betul asalnya darimana segala kemuliaan yang kau sandang hari ini.

***

”Pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah SWT. Kemudian dia mempersembahkan shalatnya kepada Allah SWT. Lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal, kemudian dibantingkan ke wajahnya. Allah tidak menerima shalatnya “

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, November 17, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: