Cara Membedakan Antara Bencana Alam Azab atau Ujian Keimanan

Oleh : Muhammad Masrur

Kita turut berduka cita atas peristiwa bencana alam yang terjadi di wilayah kota Palu dan Kabupaten Donggala kemarin. Mengutip laman Kompas, Gempa berskala lebih dari 7 SR mengakibatkan terjadinya tsunami yang lumayan parah. Salah satu laporan menyebutkan bahwa tinggi ombak tsunami ada yang mencapai 6 meter. Sampai jam 10.00 lalu, korban tercatat sudah mencapai 384 orang. Selain korban, banyak bangunan-bangunan yang rusak dan listrik masih padam sehingga komunikasi rata-rata terputus.

Selain memberikan bantuan semampu kita, kita juga senantiasa mendoakan para korban agar diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Keluarga yang ditinggalkan juga semoga diberikan kesabaran atas musibah yang menimpa mereka. Allah Swt. memuji dalam Alquran orang yang bersabar saat ditimpa musibah dengan sebutan al-muhtaduun:

 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ .  أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“orang-orang yang tertimpa musibah (lalu) mereka berkata sesungguhnya kita (semua) kembali kepada Allah, dan hanya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali (156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Terkait persoalan apakah bencana tersebut merupakan sebuah bentuk balasan atas dosa yang dilakukan oleh seseorang atau masyarakat tertentu. Jawabannya adalah belum tentu. Dan tidak patut bagi kita segera melabeli bahwa orang yang terkena bencana alam adalah bagian dari balasan atas dosanya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani – seperti dikutip oleh Ustz. Muhammad Al-Faiz Sa’di, MA. dalam ceramahnya – memberikan penjelasan tentang tanda-tanda apakah sebuah bencana adalah bentuk sanksi atas dosa atau kenaikan derajat seorang manusia. Menurut al-Jilani, sebuah bencana bisa jadi membuat seorang hamba menjadikan kita tidak bersabar, menumpahkan keluh kesah kita kepada manusia, dan semakin jauh dari Allah. Jika begitu, maka itu adalah tanda bahwa bencana merupakan sebuah sanksi atas dosa-dosa kita.

Namun, jika bencana malah membuat kita tidak putus asa, bersabar, dan ketaatan justru semakin berlipat ganda, maka itu adalah tanda bahwa bencana tersebut menjadi penghapus dosa-dosa kita.

Semoga kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’aala. Wallahu A’lam.

Sumber : islami.co

Monday, October 1, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: