Cara Hidup Hemat

ilustrasi

Oleh : Retno Hadiwidjaja

Lupa hari Minggu tanggal berapa, kami didatangi seorang petugas Sensus Sosek BPS. Beliau datang diantar petugas RT kami dan dengan gesit melancarkan pertanyaan2 standar seputar masalah ekonomi, kesehatan dan kependudukan.

Setelah beberapa pertanyaan awal, Ibu Petugas Sensus tadi sempat tertawa ramah dan berusaha meyakinkan saya untuk menjawab pertanyaan dengan lebih jujur. Kesan tidak jujur beliau tangkap atas jawaban saya mengenai nilai nominal biaya kehidupan dan kesehatan kami per bulannya, yang menurut beliau tampak ganjil karena rendahnya.

Setelah beliau bertanya lebih banyak, beliau menjadi paham kenapa biaya hidup kami amat rendah.

Pertama adalah biaya kesehatan. Kami memang pernah sakit, tentu saja. Tapi kami amat berusaha keras untuk mencegah daripada mengobati. Untuk pusing2, kembung, pegal2, kami tidak pernah mengobatinya dengan obat2an. Cukup makan, istirahat, olah raga, kompres air hangat atau berjemur. Akibatnya, biaya obat2an kami per bulannya rata2 nol rupiah.

Biaya air, listrik dan gas amat rendah. Bagaimana tidak rendah. Lampu segera kami matikan begitu cahaya matahari cukup terang untuk menerangi rumah. Kami amat jarang nonton TV. Biaya gas rendah. Dan biaya air bersih pun amat kecil. Sejak kecil kami terbiasa amat berhati2 menggunakan air bersih, yang berpuluh tahun kemudian menjadi trend, karena kesadaran manusia yang meningkat akan keselamatan planet bumi.

Kami pun punya halaman untuk ditanami. Ada beberapa pohon buah di sana, yang hasil panennya bisa jadi sumber vitamin bagi kami dan kawanan kelelawar2 lapar. Kami juga punya pot yang kami tanami cabe dan beberapa tanaman bumbu masak.

Bahkan untuk sumber protein, kami dapatkan gratis. Kami pernah menolong sepasang ayam dari kandang sempit dan sumpek di pasar becek. Setiap hari mereka kami beri makanan alami yaitu jagung, beras merah dan kacang hijau. Apa yang kami dapat setelahnya amat tidak terduga. Ayam tadi tumbuh sehat dan bertelur amat banyak. Setelah berkembang biak, beberapa tetangga datang untuk membeli ayam2 kami. Kami dengan senang memberikan ayam2 itu kepada mereka dengan cuma2. Sesuatu yang sekali lagi tidak kami sangka dan harapkan, kembali kepada kami dalam bentuk sumber gizi yang bermutu dan amat kami butuhkan. Tetangga2 tersebut rajin mampir ke rumah sekedar mengantarkan buah2an hasil kebun mereka dalam jumlah cukup. Tidak banyak dan tidak sedikit. Pas betul dengan kebutuhan kami untuk menjamin kesehatan kami sekeluarga.

Sekali waktu anggota keluarga saya sakit dan harus berobat, bahkan rawat inap. Tentu biayanya tidak sedikit. Tapi karena sehari-hari kami biasa hidup hemat dan tidak mengeluarkan uang hanya untuk obat2 yang tidak perlu, maka total biaya berobat dalam setahun kami amat rendah nilainya.

Salah satu pos biaya yang menurut Ibu Petugas Sensus menjadi penyumbang terbesar dalam membengkaknya nilai pengeluaran sebuah keluarga adalah biaya rokok. Beliau bahkan sempat curhat bagaimana beliau sedih dan bingung menghadapi defisit keuangan rumah tangganya sementara suaminya tidak sanggup bahkan malah terus meningkatkan konsumsi rokoknya. Sebuah curhat yang hanya bisa saya jawab dengan doa agar masalah beliau bisa segera teratasi, dan saya menjawab pertanyaan sensusnya dengan kalimat : Tidak ada biaya.

Begitu sesi tanya jawab selesai dan saya mengucapkan terimakasih, Ibu Petugas Sensus balik mengucapkan terimakasih dengan mata berkaca2. Menurut beliau, saya bukan saja telah membantu pekerjaannya menjadi lekas selesai dengan cara menjawab yang jelas, tapi juga karena kebersamaan kami yang hanya sesaat itu telah banyak menginspirasi beliau untuk hidup dengan lebih baik, agar biaya2 tidak perlu yang selama ini membebani keuangan rumah tangganya bisa banyak sekali ditekan. Beliau juga berniat untuk membeli pot dan kompos agar bisa menanam cabai dan tanaman2 bumbu dapur lainnya di rumah demi penghematan dan juga kebahagiaan efek berkebun, dimana kebahagiaan ini tentu akan berpengaruh positif pada kesehatan fisik dan mental beliau sekeluarga.

Senang sekali rasanya melihat Ibu Petugas tadi gembira. Beliau mengeluarkan sebuah souvenir mungil, sebuah kantung belanja lipat berwarna biru, dan mengangsurkannya pada saya. Beliau bilang, kantung belanja tersebut hanya sepuluh jumlahnya. Dan beliau memutuskan saya sebagai salah satu penerima souvenir karena dianggap telah bekerjasama dengan amat baik saat menjawab pertanyaan2 beliau yang sedang menjalankan tugas.

Akhirnya beliau pamit dan satu pesan saya sampaikan padanya saat beliau hendak meninggalkan teras rumah kami : Kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang makmur. Jangan mau jadi seperti ayam yang mati di lumbung padi. Beliau mengangguk, kembali matanya berkaca2, dan pamit pergi dengan sebelumnya mencium tangan saya seolah saya adalah seorang nenek yang dipamiti cucu yang hendak pergi menjalani hidupnya .

Sumber : Status Facebook Retno Hadiwidjaja

Thursday, September 19, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: