Cara Gila Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Denny Siregar

Seorang teman masih minta dijelaskan bagaimana cara Jokowi membangun jalan tol dengan cepat pake bahasa yang sangat sederhana..

Sesudah putar otak dengan bantuan segelas kopi sebagai penghangat, akhirnya kucoba menjawabnya..

"Begini, anggap kita ini punya rencana untuk bangun jalan tol dari ujung ke ujung. Tapi kita gak punya duit.

Akhirnya kita panggil si Udin pengusaha. "Din lu bangunin jalan tol buat gua ya. Semua biaya lu yang keluarin, mulai dari pembebasan tanah sampai pembangunan. Nanti jalan tol itu berbayar untuk ganti duit lo.."

Ini yang dinamakan skema PPP atau Private-Public Partnership atau kerjasama pemerintah dengan swasta. Ini yang sejak dulu dilakukan pemerintah.

"Darimana untung si Udin ?" Ya, dari pembayaran setiap ada kendaraan yang pake jalan itu.

"Trus, darimana untungnya kita sebagai pemerintah ?" Nanti setelah 30 tahun, sesudah duit si Udin balik modal, jalan tol itu milik kita semua. Ini yang dinamakan KONSESI. Bangun infrastruktur gak pake uang pemerintah..

Dan skema ini sudah ada sejak lama, sejak zaman Soeharto. Jadi kalau Sandiaga Uno kembali praktekkan skema lama ini, trus apa yang baru ? Gak ada.

"Ada masalah di skema PPP itu ?"

Nah ini dia. Sesudah menang lelang kontrak pembangunan tol, si Udin ternyata gak punya duit. Dia menang lelangnya aja sogok sana sogok sini.

Akhirnya Udin dagangkan saham surat menang lelang itu ke si Ocay. Ocay beli, tapi dia juga tidak punya duit, akhirnya dia jual saham surat itu ke si Abud. Begitu terus yang mereka lakukan.

Dan ini terjadi di tol BecakAyu sejak 1996 dan tol Bocimi sejak 1997. Sekian puluh tahun tidak dibangun-bangun padahal sudah peletakan batu pertama segala. Mereka cuman dagang-dagang surat doang, niat bangunnya kagak. Mangkrak krak..

"Apa bedanya dengan yang dilakukan Jokowi ?"

"Nah, Jokowi ini cara berfikirnya berbeda. Kalau model skema PPP begitu terus, kasusnya bisa seperti si Udin. Akhirnya dibangunlah satu model baru yang butuh keberanian tinggi. Dengan hutang. Pemerintah ambil alih sebagai pelaksana, bukan cuman bikin lelang doang.

Lewat BUMN, Jokowi berhutang untuk bangun jalan2 tol itu. Bahkan Tol BecakAyu dan Bocimi pun dibeli sahamnya, lalu langsung dikerjakan gak nunggu lama. Makanya pembangunannya cepat sekali..."

"Wah, kok hutang ? Nanti bayarnya gimana ??"

"Bentar dulu.." Aku tersenyum sambil seruput kopiku.

"Sesudah tolnya jadi, atau bahkan setengah jadi, BUMN itu sudah menjual saham-saham tol itu. Tentu akan jauh lebih menarik buat si Udin, si Acoy dan si Abud sebagai investor, karena mereka gak perlu pusing lagi dengan harus bebasin tanah, perijinan dan segala macam.

Bisnisnya sudah pasti, sudah bisa dihitung. Meskipun mereka beli agak mahal daripada waktu belum jadi, setidaknya mereka keluar duit sudah tahu kapan modalnya kembali.

Itu sama seperti bisnis properti. Ada investor yang baru mau beli, kalau unitnya dah jadi dulu, bukan baru bentuk gambar doang. Kalau unit sudah jadi kan gak deg2an, meski belinya sudah pasti lebih mahal dari jika masih bentuk gambar..

Nah, kalau sahamnya sudah dibeli si investor, kita bisa bayar hutang yang kemaren. Selesai kan ? Kita masih dapat untung dari KONSESI selama 30 tahun itu.."

"Ohhh pantas cepat banget itu tol dibangun. Rupanya model pembiayaannya dibalik ma Jokowi. Pintar juga dia ya.."

Ya pintar dong. Dia pengusaha, jadi paham skema-skema bisnis yang menguntungkan. Pengusaha itu, masalah aja dijadikan peluang. Bukan peluang malah dijadikan masalah.

"Kalau gitu, tolong bayarin dong bang. Gua tadi kopi dua gelas, sama tahu isi 3 biji.."
"Lah kok malah jadi gua yang bayarin ??"

"Kan abang talangi dulu pembayarannya, nanti gua bayar nyicil ke abang. Daripada gua hutang ke ibu warkop, nanti kita gak bisa lagi ngopi disini.."

Sungguh aku geram. "Nama gua Denny, bukan Udin !!!"

Sumber : Status Facebook Denny Siregar

 

Wednesday, January 9, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: