Cara Berdamai dengan Pandemi

ilustrasi

Oleh : Atoillah Isvandiary

Bismillah.
Bukan karena nama saya disinggung setidaknya dua kali, ditambah bonus sambal istimewa dikirim ke rumah. Tapi lebih karena mungkin saya nggak mampu melakukan kontemplasi se-telaten dr Alim sampai2 secara maraton melakukan live 3 hari berturut2 (mungkin syarat dari wangsit yang diterima beliau) dan menghasilkan tulisan yang informatif tapi ringan dikunyah kunyah ini, maka dengan ini saya merasa wajib meng-kurasi tulisan beliau ini. Bukan menambahi karena sudah komplit.

Tapi kurasi saya lebih ke aspek spiritual, bukan kesehatan, mumpung ini 10 hari terakhir di bulan ramadhan.

Bahwa ternyata, kita memang banyak belajar dari pandemi ini (kalau sedang makan permen karet biasanya saya terpeleset lidah jadi mengucapkan 'plandemi').

Terutama adalah soal mengenali diri sendiri, bukan virusnya. Karena ternyata benar kata orang, situasi krisis bukannya membentuk karakter kita, tapi hanya mengungkapkannya.

Bisa bicara banyak tentang virus ini, akan mengungkap dominasi karakter kita: kita bisa jadi arogan, merasa tahu segala dan orang lain tidak. Kita paling benar dan yang lain salah.

Dan ini dosa favorit iblis yang membuatnya di-kartu merah dari surga. Atau sebaliknya, jadi semakin kagum dan bertafakur akan kebesaran Tuhan serta semakin menyadari kekurangan dan kebodohan kita, seperti Adam yang ber istighfar seraya berdoa "Maha Suci Engkau, Tiada ilmu yang kuketahui melainkan sebatas apa yang telah Engkau ajarkan".

Begitu pula, virus ini telah mengungkap bagaimana orang menyikapi bencana. Ada yang sabar dan tabah serta meningkat empatinya pada sesama, ada yang terlalu panik sehingga lupa dengan takdir-Nya, ada yang cuek tapi mengira ini cara beriman yang sempurna, tapi ada yang memanfaatkan ketiga-ketiganya untuk panjat sosial demi ketenaran sesaat dan semata.

Dan semoga kita semua, saya dan anda, jadi golongan yang pertama.

Karena itu, mudah2an kalau kita sudah cukup mengenal diri kita dan kita beristighfar, Allah berkenan mengangkat wabah ini, dengan atau tanpa melalui jalan yang kita prediksi lewat pengetahuan yang kita punya, karena jika Allah berkehendak, "Jadi!", Maka jadilah. Tanpa harus menunggu persetujuan kita.

Tapi selama itu belum terjadi, sebagai epidemiolog dan sepanjang yang saya tahu bahwa dalam epidemiologi tidak ada teori, definisi, maupun rumus matematik maupun statistik untuk bagaimana caranya berdamai dengan penyakit, maka sepanjang itu pula saya akan terus melakukan jalan ninja epidemiologi yang saya tahu, bukan bentuk arogansi tapi lebih ke tuntutan melakukan ikhtiar: tidak ada kata damai untuk Corona.

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary

Monday, May 18, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: