Cara Bedakan Muslim Asli Ya Dari Cara Mereka Berdoa

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
Mungkin bahasa yang saya tulis diatas sangat keras , tetapi ini hanya sebuah pernyataan untuk bermuhasabah atau introspeksi diri karena di Indonesia saat ini penyelewengan aqidah islam sudah begitu masif dan Tak terarah, mungkin Juga Itu rencana iblis untuk menyesatkan umat manusia , bukankah seperti Kita ketahui, "Akan sia-sia kebaikan seseorang walaupun berbuat baik seumur hidupnya tapi meninggal dalam keadaan fasik, maka dia akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya".
Kemudian apa yang bisa membawa Kita kepada kefasikan ?
Dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an Surah Al Hujarat ayat 6
Q.S 49:6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Terjemahan dalam bahasa indonesianya :
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.
Nah dalam perkembangan kehidupan sosial apalagi dengan euforia orang yang mengaku suci dan Paling benar bahkan mengaku Ulama terkadang Kita sulit membedakan antara orang yang Sholeh dan yang fasik , ada cara Paling mudah Kita lihat adalah bagaimana mereka bisa mengendalikan diri melalui do'a karena do'a merupakan representasi keinginan yang disampaikan kepada Allah SWT baik secara pribadi maupun berjama'ah , Saya Tak perlu ceritakan lagi siapa yang melakukan dan bagaimana seharusnya.
Ada adab do'a yang justru membawa Kita kepada kefasikan, mari Kita bahas :
Melaknat manusia Itu hukumnya haram , kecuali yang terzolimi itupun dalam konteks secara pribadi , apa yang dizolimi Terhadap Kita dari orang tersebut , misalnya dia menipu , cukup Kita katakan , misalnya: " kamu sudah menipu Saya tidakah kamu takut dengan hukuman dari Allah ?!! , atau perkataan lain yang tidak mendahului Hak Allah, misalnya : kamu bakal masuk neraka , dsb. Karena islam tidak mengajarkan demikian , bahkan. Ketika Kita memohon perlindingan dari Iblis sekalipun Kita tidak melaknat iblis tapi Kita membaca ta’awudz: “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
Pada Iblis saja Kita tidak diperkenankan melaknat apalagi manusia yang Masih Hidup ?.
Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak zalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang menzaliminya, berarti ia telah membalasnya.
Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT’.” Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, mendoakan jelek atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain agar tertimpa suatu bencana sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kezaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama buruknya sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah.
Doa yang sebaiknya diucapkan untuk orang yang telah berbuat zalim adalah doa yang baik saja, misalnya agar ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyadari kesalahannya dan bertobat. Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain agar tertimpa bencana bisa sama saja dengan melaknat diri sendiri.
Alasannya, sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah bisa saja pada saat kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada saat itu Allah sedang menghendaki terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan karena tidak bersalah, misalnya. Kutukan atau laknat seperti itu bisa berbalik kepada diri sendiri .
“Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimany , atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”
Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa kutukan atau laknat memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena bencana jika memang menurut Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, jika ternyata Allah memandang lain, maka bencana itu akan menjadi bumerang atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melakukan kutukan atau melaknat orang lain.
Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh atau teladan yang baik ketika beliau dizalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT.
Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.”
Dari kutipan di atas semakin jelas bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu manusia maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir sekarang bisa saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya hingga akhir hayat seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Iblis juga boleh dilaknat karena rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah sampai kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).
Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz: “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
Wallahu a'lam bishowab ,
.
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.
 
Sunday, January 17, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: