Cara Ahok Menghargai Temannya

Oleh : Daniel H. T

Akhirnya, pada Senin siang (25/01), di Balai Kota DKI Jakarta, komunitas relawan pendukung Ahok, yang menamakan dirinya “Teman Ahok”, untuk pertama kalinya, bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta itu. Selama setahun dengan sukarela mereka mengumpulkan dukungan dari warga DKI Jakarta dalam bentuk formulir dukungan dilampiri fotokopi KTP kepada Ahok – sebagai syarat calon perorangan (independen) maju di pilkada DKI Jakarta 2017 nanti -- , Teman Ahok memang belum pernah bertemu dengan Ahok.

Namun demikian, selama itu pula, mereka terus-menerus, bahkan semakin lama semakin gencar melakukan kegiatan pengumpulan KTP dukungan kepada Ahok itu, melalui sekitar 25 posko yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, dan melalui jasa pengiriman (kurir).

Hasilnya sangat menggembirakan, berkat kesungguhan dan kerja keras mereka yang cukup militan, Teman Ahok sudah berhasil mengumpul dukungan melampaui syarat minimal calon gubernur DKI Jakarta yang ingin maju melalui jalur independen.

 

Komitmen Ahok

Pada 29 September 2015, Mahkamah Konstitusi (MK) telah menggabulkan permohonan dari Fadjroel Rachman dan kawan-kawannya uji materi terhadap Pasal 41 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilu, dan mengubah ketentuan yang ada di dalamnya.

Semula berdasarkan pasal tersebut ditentukan bahwa syarat bagi calon independen kepala daerah di provinsi yang berpenduduk 6 juta – 12 juta jiwa adalah harus bisa mengumpulkan dukungan dari warga di provinsi yang bersangkutan minimal 7,5 persen dari jumlah penduduk provinsi itu. Maka, DKI Jakarta yang berpenduduk 10,20 juta jiwa, Teman Ahok harus mampu mengumpulkan minimal 765.000 dukungan.

Tetapi, kini tidak lagi demikian. MK memutuskan bahwa ketentuan itu diubah menjadi persentasi dukungan minimal bukan lagi dari jumlah penduduk, tetapi dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pilkada sebelumnya. Sedangkan, DPT di pilkada DKI Jakarta 2012 jumlahnya adalah 6,9 juta. Jadi, Teman Ahok cukup minimal mendapat dukungan 517.500 untuk Ahok. Faktanya, sampai saat artikel ini ditulis, Teman Ahok sudah berhasil mengumpul dukungan melampui jumlah itu, yakni 634.247 dukungan. Sebelumnya, sudah terlebih dahulu melampui jumlah suara yang diperoleh semua partai politik di pemilu legislatif DKI Jakarta 2012.

Kembali ke pertemuan Teman Ahok dengan Ahok di Balai Kota tersebut di atas.

Menurut Juru Bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas, kunjungan mereka itu bermaksud untuk meyakinkan Ahok agar tetap maju di bursa calon gubernur melalui jalur independen. Amalia Ayuningtyas, mengemukakan kekhawatiran mereka, melihat mulai gencarnya manuver politik parpol yang mulai mengincar Ahok seiring dengan semakin populernya Ahok di mata warga DKI Jakarta. Hal itu, menurut Amelia, berpotensi menjebak Ahok.

 “Pak Ahok didukung rakyat, terbukti dari pengumpulan KTP yang sudah melebihi syarat minimal pencalonan independen. Kita juga sudah yakinkan Ahok kalau kita sanggup menggenapkan dukungan hingga satu juta KTP. Ini jelas membuat parpol was-was. Maka sebagai teman, kami tidak mau Pak Ahok sampai terjebak dengan permainan politik parpol” tegas Amalia.

Amelia juga mengatakan, Ahok sudah berjanji kepada mereka, bahwa ia akan tetap pada komitmen semulanya, yaitu tetap akan maju melalui jalur independen, apalagi dengan melihat jumlah dukungan yang berhasil dikumpul oleh Teman Ahok itu.

“Tadi Pak Ahok sendiri sudah pastikan akan maju independen bersama Teman Ahok. Soal parpol ada yang mau dukung beliau silakan, yang jelas, Ahok tetap maju bersama kita” papar Amalia bersemangat.

Teman Ahok juga bertekad untuk terus mengumpulkan dukungan dalam bentuk KTP itu, sampai mencapai minimal 1 juta dukungan, sebagai syarat yang ditetapkan Ahok untuk ia dapat mengdeklarasikan pencalonanannyua melalui jalurindependen itu.

 Amelia juga menyampaikan kesan yang diperoleh dia dan kawan-kawannya dari Teman Ahok saat bertemu, makan siang bersama, dan berbincang-bincang dengan Ahok.

“Obrolan antara Ahok dan Teman Ahok berjalan cair meski berada dalam suasana makan siang yang cukup formal. Pada kesempatan tersebut, relawan Teman Ahok juga sempat menceritakan beberapa pengalaman yang dialami saat proses pengumpulan KTP. ‘Pak Ahok orang yang menyenangkan dan baik. Meski kita baru sekali ketemu, tapi beliau sangat welcome dengan kedatangan kita. Mudah-mudahan ini bisa jadi penyemangat lagi buat kita kedepannya” tutup Amalia, sebagaimana ditulis di www.temanahok.com.

Sedangkan dari Ahok sendiri, saat dimintai komentarnya tentang pertemuan dengan Teman Ahok itu, mengatakan, ia menangkap adanya kekhawatiran dari Teman Ahok soal potensi dirinya meninggalkan jalur independen untuk Pilgub DKI 2017, berpindah ke rangkulan partai politik. Jangan-jangan Ahok tergoda dengan rayuan maut partai politik, lalu meninggalkan para pendukungnya yang sudah bersusah-payah mengumpulkan sedemikian banyaknya dukungan itu

"Justru mereka (Teman Ahok) khawatir saya tidak menjaga komitmen (di jalur independen)," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (25/1/2016) malam.

 "Mereka mendengar kita (Ahok) mau ke partai. Mereka juga bisa enggak semangat kan. Ya alasannya itu (Teman Ahok minta bertemu Ahok di Balai Kota). Mereka juga merasa sudah mencapai target 600 ribuan KTP. Ini kok mendengar sepertinya bisa ke partai," tutur Ahok.

 Ahok kemudian meyakinkan pendukungnya itu, bahwa bila pendukungnya mau dirinya tetap independen maka Ahok juga tetap akan berada di jalur independen. Ahok tak ingin mengecewakan pendukung.

"Kita kasih mereka semangat lah. Takutnya mereka berpikir kerjaan mereka (mengumpulkan KTP) sia-sia," tutur Ahok (detik.com).

Komitmen Ahok di hadapan para pendukungnya di saat pertemuan 25 Januari 2016, bukan baru pertama kali dilontarkan ke publik. Sebelumnya, sudah ada sedikitnya dua kali dia menyatakan penghargaan setinggi-tingginya kepada Teman Ahok yang sudah sedemikian sungguh-sungguh dan bekerja keras mencari dukungan untuknya, agar ia bisa maju di pilkada DKI 2017. Karena sejak keluar dari Partai Gerindra, sampai sekarang Ahok tidak punya partai apa pun sebagai basis politiknya untuk maju sebagai calon gubernur pada pilkada DKI 2017 itu.

Padahal pembentukan Teman Ahok itu murni seratus persen merupakan ide dari para sukarelawan itu sendiri, karena melihat integritas, kejujuran, dan dedikasi pengabdian Ahok yang begitu tinggi kepada warga DKI, tanpa pamrih pribadi apapun. Juga ketegasan dan konsistensi Ahok dalam pemberantasan korupsi, dan penataan ulang untuk menjadi jauh lebih baik jajaran Pemprov DKI Jakarta.

Pembentukkan Teman Ahok oleh para sukarelawan muda itu juga tanpa diketahui Ahok, bahkan kedua belah pihak sama sekali belum pernah berkomunikasi dalam bentuk apapun, apalagi sampai bertemu langsung, sebelum pertemuan 25 Januari tersebut di atas.

Karena tidak punya partai sebagai basis politiknya, maka satu-satunya jalan bagi Ahok untuk bisa mengikuti pilkada DKI Jakarta 2017 adalah ia harus maju melalui jalur independen. Untuk memastikan Ahok memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan oleh Undang-Undang itulah, Teman Ahok sejak setahun lalu bekerja keras, mulai menggalang dukungan untuk Ahok, dan ternyata mendapat hasil yang luar biasa, sebagaimana diulas di atas.

Maka itu, Ahok sangat mengapresiasi perjuangan Teman Ahok, dengan berkomitmen untuk tetap maju dari jalur independen sebagaimana dicita-citakan sejak semula, baik oleh Ahok sendiri, maupun oleh Teman Ahok.

Pada 11 Januari lalu, di Balai Kota, Ahok untuk kesekian kalinya menyatakan penghargaaannya kepada Teman Ahok itu. Dia mengakui perjuangan Teman Ahok untuk dirinya itu bukan suatu hal yang mudah. Karena bukan hanya KTP yang dikumpul, tetapi juga para pendukung itu harus mengisi formulir dukungan lengkap dengan tandatangan aslinya. "Melihat caranya susah banget. Saya pikir bisa enggak sampai. Kalau bisa sampai satu juta KTP masa enggak menghargai mereka," ucapnya tentang Teman Ahok ketika itu. S

Saat itu juga, Ahok menepis kabar yang beredar, perihal dirinya akan digandeng partai politik,termasuk PDIP, yang semakin kelihatan dekat dengannya. Meskipun demikian, seperti juga yang dinyatakan Teman Ahok, pihaknya tidak menampik jika ada partai politik yang hendak mendukungnya, selama visi dan misi mereka sama (Tribunnews.com).

Nasdem Mengincar

Kekhawatiran Teman Ahok, bahwa Ahok bisa tergoda dengan rayuan partai politik, meninggalkan mereka dengan semua jerih-payahnya itu, lalu bergabung dengan partai politik itu agar memperoleh dukungan politiknya di pilkada DKI 2017, cukup beralasan. Sebab seiring dengan semakin populernya Ahok di mata warga DKI Jakarta, apalagi dengan semua hasil survei setahun belakangan ini terkait elektabilitas calon di pilkada DKI 2017, Ahok selalu unggul dengan selisih persentasi yang jauh melebihi para pesaingnya.

Misalnya, sebagai contoh terkini, hasil suvei dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang diumumkan pada Senin, 25 Januari kemarin.

Dari kategori elektabilitas, di antara dua belas nama, yakni Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Adhyaksa Dault, Hidayat Nur Wahid, Tantowi Yahya, Abraham Lunggana, Nachrowi Ramli, Alex Noerdin, Djarot Saiful Hidayat, Djan Faridz, dan Sandiaga Uno, mayoritas responden (43,25 persen) memlih Ahok. Diikuti oleh Ridwan Kamil dengan 17,25 persen, dan Risma Triharini sebesar 8 persen.

Dari kategori kemantapan pemilih di DKI Jakarta, sebanyak 54,25 persen responden mengaku sudah mantap dengan pilihannya yang sebagian besar adalah Ahok.

 Kategori lainnya juga menunjukkan pemilih partai tertentu dalam pemilihan legislatif akan tetap memilih Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta, meski Ahok tidak diusung partai politik.

Bersamaan dengan itu, partai politik sendiri merupakan lembaga yang tingkat kepercayaan publiknya paling rendah dalam survei tersebut, hanya 27,75 persen. Hal ini turut mendorong dukungan lebih bagi Ahok yang maju melalui jalur independen.

Peneliti CSIS, Arya Fernandes, di Metro TV, 25 Januari 2016, mengatakan, alasan publik memilih Ahok adalah karena, pertama Ahok mendengar suara publik. Untuk bertarung di Jakarta, yang paling penting adalah bagaimana kandidat mampu membaca persepsi dan perilaku publik, dan mendengar suaranya. Kalau kandidat tak mampu membaca ini, sulit untuk melawan petahana (Ahok). Apalagi dengan petahana di tingkat kepuasaan di atas 60 persen. Ketika kita survei, sekitar 67 persen publik Jakarta mengaku puas dengan kinerja Ahok. Kepuasaan itu tampak dalam beberapa program unggulan yang diterima oleh publik. Misalnya, meskipun, di dalam beberapa program publik menyatakan tidak puas. Yang puas, misalnya, pelayanan kesehatan yang memuaskan, dan sudah berubah dibandingkan pemerintahan sebelumnya, pembangunan infrastruktur, transparansi dan birokrasi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Sebenarnya, tanpa survei-survei itu, dengan memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat DKI Jakarta, kita sudah bisa merasakan bahwa dukungan kepada Ahok di pilkada DKI 2017 mendatang itu, semakin lama memang semakin besar.

 Maka, tak heran, sebagaimana sudah disebutkan, partai politik pun mulai serius berupaya menarik Ahok di bergabung dengan mereka untuk mendapat dukungan politiknya. Misalnya, Partai Nasdem. Pada 16 Januari 2016 lalu, di suatu acara di Hotel Discovery Kartika Bali, adalah Ketua Umum Partai Nasdem sendiri, Surya Paloh yang terang-terangan mengatakan partainya siap mendukung Ahok untuk pilkada DKI 2017.

"Hari ini meskipun belum terjelaskan, bolehlah anda catat Ahok adalah pilihan prioritas bagi Partai NasDem, untuk meneruskan jabatannya di DKI," kata Surya Paloh (Metrotvnews.com).

Semakin Dekat dengan PDIP dan Megawati

Selain Nasdem, Ahok juga semakin populer dan dekat dengan PDIP, seperti yang terlihat di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP, di Jakarta, 10 Januari lalu. Ketika nama Ahok disebut oleh Megawati Soekarnoputri dalam pidato politiknya, para peserta Rakernas menyambutnya dengan tepuk tangan dan sorak-sarai meriah, melebihi nama-nama lain saat nama mereka juga disebut Megawati.

Ahok mengatakan, sambutan yang meriah itu karena dirinya memiliki hubungan baik sejak dulu dengan PDIP. "Saya sama teman-teman partai hubungannya baik dari dulu. Apalagi sama Bu Megawati hubungannya baik," ucap Ahok di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta, tempat berlangsungnya Rakenas PDIP, Minggu (10/1/2016).

Sedangkan saat ditanya wartawan tentang kepastian dengan siapa dia akan maju di pilkada DKI 2017, Ahok tetap konsisten, katanya, dia akan maju dari jalur independen, dan belum berpikiran untuk maju melalui partai politik, termasuk dengan PDIP.

"Kalau dukungan silahkan. Sekarang juga dukung kok PDIP sama saya dari dulu. Cuma kalau untuk pencalonan, Teman Ahok sudah kerja, kami enggak keluar duit," katanya.

Dukungan itu, lanjut Ahok, tak serta merta datang. Ahok menegaskan dukungan itu ada lantaran dia yang mengenal hampir semua politikus PDIP. Terlebih, sambung dia, ayahnya yang juga sempat bergabung dengan partai.

Saat perayaan HUT Ketua Umum PDIP Megawati Soekanrnoputri, yang diselenggarakan secara sederhana di bilangan Sentul, Bogor, Jawa Barat, 23 Januari siang lalu, popularitas dan kedekatan Ahok dengan Megawati dan para kader PDIP pun semakin kelihatan.

Pada kesempatan itu, ada acara Megawati membagi-bagi tumpeng kepada beberapa tamu tertentu, termasuk kepada Jusuf Kalla dan Ahok.

Saat giliran Ahok, suasana pesta tiba-tiba berubah semakin meriah, dengan tepuk tangan dan teriakan: “Ahok, Ahok.” Ahok pun menjadi bintang di pesta HUT Megawati itu. Ke sudut mana saja dia berjalan, selalu saja ada peserta pesta yang mengikutinya, jabatan tangan, dan minta foto bersama (kompas.com)

 Cara Ahok Menghargai Temannya

Dari pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh tentang Ahok, dan semakin akrabnya Ahok dengan PDIP/Megawati, wajar jika lalu muncul spekulasi bahwa Ahok akan digandeng partai politik, terutama sekali oleh PDIP. Meskipun, berulangkali Ahok telah menyatakan tetap memegang komitmennya untuk maju dari jalur independen bersama Teman Ahok, tanpa menepis dukungan dari partai politik asalkan mereka satu misi dan visi dengannya.

 Namun, dari berbagai hasil survei, dan dari berbagai opini yang beredar di masyarakat dan dunia maya, dapat dikatakan bahwa publik, jauh lebih senang jika Ahok maju dari jalur perorangan (independen). Sikap ini dikemukakan karena persepsi publik terhadap partai politik secara umum sudah terlanjur rusak. Maka itu, publik juga khawatir Ahok akan ikut rusak jika mau dan berhasil dirangkul partai politik manapun juga.

 Jika Ahok adalah seorang oportunis dan penggila jabatan sejati, besar kemungkinan dia akan tergoda dengan begitu hebatnya godaan dari partai politik untuk bergabung dengan mereka demi tercapai cita-citanya menjadi gubernur DKI Jakarta lagi untuk periode 2017-2022 mendatang. Apalagi dengan tingkat elektabilitas yang sedemikian tinggi, ditambah dengan kekuatan politik dari partai pendukung.

Jika dua partai besar, seperti Nasdem dan PDIP berkoalisi berhasil merangkul Ahok, tentu parpol-parpol lain, terutama sesama parpol yang bergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat akan ikut tertarik untuk bergabung, maka betapa luar biasanya dukungan politik yang akan diperoleh Ahok, demikian pula akan semakin besarnya peluang dia menang di pilkada DKI 2017 mendatang itu.

Dengan sedemikian kuatnya dukungan partai politik serta peluang keuntungan besar yang diperolehnya, maka jika Ahok adalah seorang oportunis dan penggila jabatan sejati, mengejar jabatan demi kepentingan pribadinya, maka ia bisa saja akan tidak menghargai perjuangan Teman Ahok, mengkhianati mereka, melupakan, meninggalkan mereka sendirian dengan seluruh KTP pendukung yang sudah mereka peroleh dengan sangat susah payah itu, demi bergabung dengan partai politik. Ia bisa saja membuat berbagai alasan ala pejabat dengan hipokrit untuk membenarkan tindakannya itu.

Tetapi, karena Ahok bukan seorang oportunis, hipokrit, dan penggila jabatan sejati, maka ia tetap dapat bertahan dari godaan partai politik itu, ia tetap dengan prinsip dan komitmennya dengan tetap setia kepada rakyat DKI Jakarta secara langsung. Karena jika rakyat banyak sudah percaya dan menentukan pimpinannya, maka sebesar dan sekuat apapun partai politik, termasuk jika mereka semua bergabung melawan Ahok, maka dapat dipastikamn Ahok tetap menang. Karena yang dipilih rakyat itu adalah pimpinannya secara langsung, bukan melalui partai politik.

Seperti yang tejadi di Pilkada DKI 2012, ketika 11 partai politik besar dan menengah bersatu padu bersama pasangan calonnya melawan Jokowi-Ahok, yang hanya didukung oleh PDIP dan Partai Gerindra. Kemenangan besar justru diperoleh oleh Jokowi-Ahok.

 Selain itu, Ahok juga pasti punya komitmen moral, bahwa adalah tindakan yang sangat hina, jika saja ia demi mendapat dukungan parpol itu, lalu berkhianat kepada Teman Ahok yang selama setahun belakangan ini dan masih terus berjuang, dengan sukarela mengumpulkan dukungan kepadanya.

Lebih baik berpegang pada prinsip moral dengan tetap bersikukuh berpegang pada komitmen semula untuk maju dari jalur independen bersama Teman Ahok, serta sebanyak mungkin rakyat Jakarta, meskipun toh akhirnya kalah, daripada menang bersama partai politik, tetapi menjadi seorang pengkhianat.

Maka itulah, berulang kali pula Ahok menyatakan komitmen untuk tetap maju dari jalur independen. Komitmen yang sama diulangi lagi di hadapan Teman Ahok, saat mereka bertemu secara langsung untuk pertama kalinya pada 25 Januari 2016, di Balai Kota itu.

Ahok bahkan berjanji kepada teman Ahok bahwa ia segera akan mengdeklarasikan majunya dia dari jalur independen itu, begitu Teman Ahok berhasil mengumpulkan 1 juta KTP dukungan terhadapnya.

Itulah cara Ahok menghargai temannya, “Teman Ahok”. Tentu saja juga teman-teman lainnya, warga DKI Jakarta yang punya prinsip, visi dan misi yang sama dengan Ahok, yakni untuk mengubah Jakarta menjadi Jakarta Baru, dengan birokrasi yang bersih, mengabdi sepenuhnya kepada rakyat Jakarta, Jakarta yang moderen, disiplin, patuh pada hukum, dan berperikemanusiaan. *****

 

Sumber : Kompasiana

Wednesday, January 27, 2016 - 13:00
Kategori Rubrik: