Capres Jogetan

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Jika benar klaim bahwa media sosial akan mempengaruhi pilihan seseorang ketika masuk bilik suara, Prabowo harus haiti-haiti.

Yup.. jika anda tertawa atau tersenyum, maka sudah terpatri dalam memori Anda bahwa Prabowo itu pandir dan bodoh karena bilang Haiti di Afrika.

Selanjutnya, memori ini akan terbawa ke bilik suara. Anda yang sampai bilik suara belum menentukan pilihan akan memilih Jokowi ketimbang Prabowo, gara-gara kata Haiti itu. Hal sama berlaku untuk jutaan orang yang tertawa lepas ketika ada kata Haiti disebut.

Bukan hanya soal negara miskin di beranda negara kaya Amerika Serikat yang bakal terpatri dalam benak Anda dan banyak orang yang terpingkal-pingkal karena aneka semburan dan perilaku aneh Prabowo dan Sandiaga Uno.

Kata-kata kunci itu hulaihi, tidak hafal Fatihah, wudhu mulai dari kiri, tidak layak jadi imam, akan terus menerus mengguyur media sosial sampai semua itu terpatri dalam benak Anda semua untuk semakin mantap memilih Jokowi.

Mobilisasi kontra informasi pihak Prabowo dipastikan akan semakin massive dilakukan tim Jokowi sebagai konsekuensi arahan Erick Tohir yang meminta pasukan Jokowi untuk bergerak agresif setelah bersikap defensif. Sambil menjaga agar Jokowi jangan sampai kelepasan ngomong seperti Ahok.

Sejauh ini tim Jokowi sudah melakukan "tes pasar" dengan membiarkan sang petahana menyebut Sontoloyo dan Genderuwo. Dan daya hantam nya ternyata cukup manjur. Dua kata itu dipakai khalayak medsos untuk menyebut pernyataan dan kelakuan kubu Prabowo yang aneh-aneh. 
Nampaknya jika tidak kepepet banget, tidak ada kata kunci lain yang dikeluarkan untuk mengkonter isu-isu pihak lawan.

Tim Jokowi yakin bahwasanya kejadian bernuansa Islam seperti tertangkapnya penceramah karena menghajar anak orang, reuni 212, insiden pembakaran bendera, hanya akan terpatri di memori sebagaian kecil Muslim Indonesia.

Sentimen Jokowi anti Islam diyakini telah berhasil diisolasi hanya pada cluster cluster suara yang kecil dan didesak sampai ke sudut hingga larinya ke masjid-masjid yang pengelolanya fanboy 212.

Itupun mereka harus berhati-hati karena tim Jokowi ada di ceramah-ceramah di masjid-masjid yang diduga dipakai sebagai ajang politik kaumnya Prabowo.

Berhasilkah upaya itu? Kabar burung mengatakan ya karena konter informasi dari masyarakat akan kebohongan yang dilakukan Prabowo sungguh telak menghajar metode disinformasi yang dilakukan tim mereka.

Kelemahan strategi ala Trump Prabowo sudah terdeteksi yakni tidak ada tim yang punya kredibilitas tinggi dan dipercaya masyarakat untuk membenarkan klaim yang Prabowo dan Sandi buat. Jadi terpaksa capres dan cawapres yang turun tangan sendiri membersihkan muka mereka yang berlepotan karena ludah mereka sendiri.

Jika Jokowi punya sederet menteri dan kiyai untuk mengkonter informasi, Prabowo punya apa? Sekelas Joko Santoso saja tidak mampu menaikkan kredibilitas Prabowo di medsos. Apalagi tim medianya diisi orang-orang yang cari makan lewat menulis bukan secara ideologis membela Prabowo.

Melanggar HAM itu perlu. Justru pengalan kata dari Joko Santoso itu yang tertanam di benak netizen yang langsung mengkaitkan Prabowo dengan tuduhan pelanggaran HAM.

Ketika Joko Santoso mengibaratkan pertarungan pilpres laksana Musa dan Fir'aun, netizen ngakak sambil bertanya: Prabowo itu Musa atau Fir'aun.

Kegagalan demi kegagalan kampanye disinformasi kubu Prabowo akan menyebabkan tagline 2019gantipresiden menjadi sesuatu yang menjijikkan, termasuk orang-orang yang memujanya.

Karena dipastikan kubu Jokowi akan berbuat sedaya upaya agar khalayak percaya bahwa Prabowo dan Sandi bukan calon pemimpin yang cocok.

Karena bisanya cuma jogetan dan lebay menyebarkan kebohongan. 

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Sunday, December 30, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: