Candu Guru Spiritual

ilustrasi

Oleh Andre Pramudya

Saya punya seorang teman sekelas di SMA yang sampai sekarang belum menikah. Terakhir kali kami bertemu adalah saat reuni kecil-kecilan sebelum istri saya hamil. Suatu hari, kami mendapat kabar di WhatsApp (WA) group alumni kelas kalau ia mengalami kecelakaan yang cukup berat dan membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Sejak ia sembuh, ia mulai berhijab. Biasa saja, saya pikir. Tetapi saya menjadi heran karena ia lebih rajin berselancar di media sosial dari biasanya. Posting-nya pun mulai aneh-aneh: soal agama dan politik yang menjurus ekstrem. Bahkan beberapa kejadian yang sedang ramai ditanggapinya dengan mengunggah tautan artikel-artikel agama yang berisi teori konspirasi dan hal-hal irasional lainnya.

Terakhir, tiba-tiba saja di WA group, ia melampirkan undangan tabligh akbar yang diisi oleh FPI dan berbagai organisasi radikal lainnya. Momennya bertepatan dengan kampanye pilkada DKI. Seketika group yang tadinya santai dan penuh canda menjadi medan pertumpahan darah antara dirinya dan beberapa teman lain yang radikal versus teman yang liberal atau moderat. Saya, satu-satunya Kristen di group itu dan nyaris tak pernah bicara, memilih diam sambil menahan kesal; bukan karena saya (atau iman saya) disinggung, tetapi karena mereka membuat bising di tengah malam.

Saya tak habis pikir: teman saya itu dulunya ceria, lemah lembut dan tidak pernah berbicara yang aneh-aneh. Sementara teman-teman lain terpengaruh radikalisasi di kampus, ia lurus-lurus saja. Bagaiman mungkin ia tiba-tiba dengan gampangnya mendukung preman berjubah seperti FPI? Pandangan politik atau agama boleh saja beda, tapi FPI? Lalu saya teringat, suatu ketika teman-teman mengajak berkumpul, ia tidak menyanggupi karena ada janji dengan ustadznya.

Maaf, saya memang su’udzon. Saya curiga setelah pulih dari kecelakaan, ia merasa mendapat ‘pengalaman spiritual’ dan memutuskan berguru kepada seorang ustadz tertentu yang celakanya berpandangan radikal. Saya juga mempunyai seorang rekan kerja yang demikian. Suatu ketika ia mendapat musibah, lalu memutuskan berhenti bekerja dan membantu menjalankan usaha milik ustadz pemimpin pengajian yang diikutinya. Rupanya ia diajari bahwa musibah yang dialaminya adalah akibat bekerja di bisnis yang bertentangan dengan tafsir Islam mereka.

***

Dalam budaya timur, khususnya Indonesia, guru spiritual atau tokoh rohani memang mendapat tempat yang spesial di hati masyarakat, apapun agama yang mereka anut. Kasus Dimas Kanjeng atau Gatot Brajamusti yang belakangan ini heboh, sebenarnya hanyalah puncak gunung es. Entah hanya mengajarkan agama atau sampai menjanjikan keuntungan material, mereka bukan hanya dihormati atau dikagumi, tetapi juga dijadikan standar absolut.

Mereka bukan monopoli politisi atau selebritis saja. Beberapa direktur yang dulu pernah memimpin perusahaan kami juga punya guru spritual. Bahkan dalam beberapa hal, mereka enggan menandatangani kontrak atau pengajuan proyek jika ‘sang guru’ mengatakan tidak atau belum waktunya.

Kita mengetahui ada banyak orang Kristen yang menganggap pendeta atau pastor tertentu mempunyai karunia mujizat, khususnya penyembuhan. Bahkan kehebatan berkotbah saja juga dianggap sebagai karunia Tuhan yang luar biasa. Kebaktian mereka selalu dipadati jemaat yang terbelalak. Dalam kadar yang lebih ringan, saya juga mendapati penghormatan yang ‘lebih’ terhadap pendeta di gereja saya: Setiap kali ada kebaktian Natal dan Paskah, konsumsi untuk pendeta dipisahkan dari jemaat dan bentuknya lebih ‘pantas’ (kalau tidak mau dibilang lebih mewah).

Bahkan sejak kecil kita dididik bahwa guru agama tidak bisa salah. Kita hanya bisa manggut-manggut dan menjawab “Paham!” jika sang guru menjelaskan dalil atau perintah agama tertentu. Contoh yang paling mudah: Adit, Sopo & Jarwo. Alangkah absolutnya pengetahuan dan kekuasaan Pak Haji dalam film kartun tersebut. Tidak ada yang membantah karena beliau sebagai penyampai pesan moral di akhir cerita selalu benar. Atau seperti kata si Ucup: “Kalau nggak percaya, tanya aja sama Pak Haji!”

Pendeknya, saya hampir tidak pernah menemukan ulama, guru agama atau tokoh rohani yang ‘salah’ di mata masyarakat kita (sampai mereka terlibat kasus kriminal). Bahkan dalam beberapa hal, jika mereka sampai terjerat kasus, tidak sedikit dari pendukungnya yang menuduh adanya konspirasi jahat untuk menjatuhkan sang guru, atau bahkan menistakan agama yang diajarkannya.

Karena itu jangan heran ketika ada yang bersikap kritis terhadap ulama, sontak reaksinya adalah amarah. Jangankan sambil melotot; jika anda mempertanyakan dalil mereka secara halus dan logis, iman anda akan balik dipertanyakan. (“Agama sampeyan apa???” Atau yang lebih halus, “Semoga kamu dapat hidayah.”) Reaksi akan semakin keras ketika rohaniwan tersebut dikritik karena berbicara negatif terhadap agama atau umat beragama lain.

Di lain pihak, guru-guru ‘sekuler’ yang mengajarkan ilmu pengetahuan sehari-hari malah semakin minim menerima penghormatan. Sekali lagi, kasus kekerasan siswa dan orang tua murid terhadap guru hanyalah puncak gunung es. Tetapi sudah jelas bahwa pendidikan ‘duniawi’ memang semata dipandang sebagai investasi masa depan, dan para guru hanyalah alat (atau, seperti dalam tulisan saya sebelumnya, broker) untuk mencapai kesuksesan duniawi. Sebaliknya semakin sering kita dengar kekhawatiran berlebihan bahwa orang tua lebih mementingkan anak belajar ilmu dunia daripada ilmu surga.

Absolutisme guru agama atau spiritual ini sesungguhnya menyebabkan orang mudah goncang jika mereka mengalami krisis dalam hidup mereka. Mereka tidak bisa mengambil hikmah dengan wajar, misalnya lebih berhati-hati atau lebih pasrah pada Tuhan. Ini bukan logika atau teologi yang rumit, hanya saja sikap rasional dan spiritual mereka tidak terbangun dengan sehat. Akibat goncangan mendadak, mereka ingin mencari jawaban dadakan juga. Siapa lagi, pikir mereka, yang bisa memberi jawaban ‘benar dan cepat’ selain para rohaniwan dan dukun sakti?

Akhirnya mereka sendirilah yang mengejawantahkan pendapat Marx bahwa ‘agama itu candu masyarakat’. Agama dijadikan pelarian masalah duniawi. Rohaniwan dan guru spiritual diminta memberikan jawaban cepat atas masalah-masalah tersebut. Akibatnya mereka memberikan jawaban instan: penggandaan uang, jin sampai khilafah solusinya. Seperti orang sakaw tanpa narkoba, mereka seolah tidak dapat hidup tanpa guru-guru ini.

Anda lihat, memang banyak faktor yang menyebabkan orang ketergantungan guru spiritual. Budaya kita sudah sangat mendukung. Belum lagi, seperti teman-teman saya, yang mengalami krisis dalam perjalanan hidup mereka. Pengaruh lingkungan, ekonomi, orientasi pendidikan dan bahkan iklim politik juga bisa membuat orang berduyun-duyun mendatangi guru spiritual. (Atau sebaliknya, memunculkan guru-guru dadakan yang melihat potensi pasar pada momen-momen tertentu.) Tetapi ya itu masalahnya: mereka dianggap tidak bisa salah.

Memang sangat sulit mengubah pola pikir seperti ini, mengingat bahkan profesor lulusan luar negeri saja bisa terjerat pada guru-guru spiritual palsu. Lalu bagaimana? Kata anda: kita harus memperbaiki kualitas pendidikan! Betul, tetapi bagaimana? Kita selalu berfokus pada penambahan kuantitas: jam belajar ditambah, materi pelajaran agama ditambah. Hasilnya tidak berubah: dalam belajar sains kita rajin mencontek, sementara belajar agama kita hanya membebek.

Jika kita memandang pendidikan sebagai pembentukan karakter dan pola pikir, sebetulnya mudah saja kita menyikapi para guru dan ajaran mereka. Guru sains bukanlah alat penyampai ilmu pengetahuan untuk kita timbun sebanyak-banyaknya: mereka adalah pembimbing logika dalam menyelami ilmu pengetahuan. Guru agama dan rohaniwan bukanlah penyampai kebenaran Tuhan yang satu arah, tetapi mitra senior dalam usaha bersama memahami kebenaran Tuhan.

Kita tidak perlu, dan tidak boleh, kehilangan rasa hormat terhadap guru manapun. Tetapi kita harus memiliki pandangan yang sehat terhadap setiap guru dan para pendidik bidang apapun. Dengan demikian kita mudah membedakan mana guru yang benar dan yang tidak benar, mana yang asli dan yang palsu. Terlebih dalam usaha mencari Tuhan, kita harus bisa melihat melampaui sang guru, karena kita dan dia adalah sesama pencari.

Sumber : Qureta.com

Sunday, October 30, 2016 - 14:00
Kategori Rubrik: