Caliphate

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Saya pernah punya murid unik, dulunya mantan anak jalanan, anggota gank motor, hidup ugal-ugalan. Namanya saya rahasiakan, tapi biasa dipanggil Mbah sama teman-temannya.

Saya tidak tahu asal-usulnya, mungkin karena gayanya yang kayak mbah, atau boleh jadi karena jenggotnya yang lebat, atau apa lagi sebab lainnya.

Tapi orangnya santai, ramah, dan oke-oke saja disapa dengan panggilan keakraban, Mbah.

Meski dulu pernah jadi gank motor, singkatnya terus dia taubat, banting stir lah, hijrah kalau kata artis.

Dia lantas ikut banyak kegiatan keislaman. Pernah beberapa bulan ikut jamaah tabligh khuruj keliling Indonesia.

Permah juga ikut macam-macam jenis pengajian, mulai dari HTI, Salafi, FPI, NU dan banyak lagi.

Terakhir jadi mahasiswa di LIPIA Fakultas Syariah. Ya, ujung-ujungnya ketemu saya di Rumah Fiqih Indonesia, jadi mahasiswa Kampus Syariah beberapa bulan.

Waktu itu dia tinggal di sebuah masjid di Jakarta, dengan status imam rawatib. Suara bacaan Qurannya lumayan merdu, plus punya beberapa juz hafalan Quran juga.

Meski masih kuliah, rupanya dia sudah berkeluarga. Ada istrinya, tapi tinggal di kampung katanya.

Waktu itu liburan LIPIA musim panas, tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Saya tidak lagi dengar kabarnya. Padahal jatah liburan 3 bulan LIPIA sudah habis, tapi tak satu pun temannya yang tahu keberadaanya.

Sampai suatu hari saya terima WA atau SMS dari seorang yang mengaku sebagai si Mbah ini. Isi teksnya cukup panjang. Tapi intinya dia mengabari bahwa minta maaf tidak bisa ikut kajian lagi, karena posisi sudah di Suriah.

Alamak, ternyata dia gabung ISIS. Dia juga cerira tentang harga budak yang terjangkau, kalau yang usianya di atas 40 tahun. Kalau yang belasan tahun, mahal dan kurang terjangkau tarifnya.

Innalillahi dalam hati saya. Kok bisa ya anak ini sampai gabung ajaran aneh-aneh. Sampai ikutan ISIS segala, pakai acara nawar-nawarin budak segala.

SMS atau WA nya sama sekali tidak saya balas, cuma saya baca saja, lalu saya hapus. Khawatir nanti saya dikejar polisi anti teroris, bisa panjang urusannya.

Tapi terakhir saya baca di media, ada benerapa WNI yang tewas disana, ketika ISIS ditumpas. Dengar-dengar si Mbah ini termasuk yang dinyatakan meninggal.

Ketika saya nonton Netflix, ada satu film yang berkisar tema itu yang berjudul : Caliphate. Saya membayangkan kayak apa korban-korban putera puteri muslim disana.

Sumber : Ahmad Sarwat

Tuesday, November 24, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: