Cak Imin dan Manuver Ecek-eceknya

Oleh : Kajitow Elkayeni

Yenny Wahid benar, PBNU mestinya menjaga diri untuk tidak jatuh pada kubangan politik praktis. Sejak kembali ke khitah 1926, NU mestinya konsisten mengurus kepentingan umat. Godaan politik itu bermacam-macam, yang paling ringan adalah mengatasnamakan kepentingan kader NU.

NU struktural yang menyebut Mahfud MD bukan kader NU itu menyakiti NU kultural seperti saya. Jika yang dimaksud kader NU adalah NU struktural, apakah yang di luar itu tidak sahih keNU-annya? Atau tidak berhak mengaku sebagai jamaah NU?

Penilaian sempit seperti itu mungkin tidak terlahir melalui kata-kata terang. Orang-orang hanya akan berkasak-kusuk di ruangan yang dingin itu sambil menunjukkan KartaNUnya. Satu identitas keNUan yang dulu diberikan secara cuma-cuma untuk AHY oleh ketua umumnya secara langsung.

Memang mengecewakan, NU yang dicintai begitu banyak orang yang tak punya KartaNU itu, *cedak karo kebo gupak* (dekat dengan kerbau kotor). Lumpur yang ada di tubuh kerbau itu akan menempel pada jubah keulamaan NU.

Si kecil Imin adalah seorang politikus. Adalah *kebo gupak* itu. Ia dengan cara yang rendah sedang pamer manuver politik ecek-ecek. Si Kecil Imin bermimpi ingin memeluk bulan. Dulu Gusdur bisa dijungkalkan, barangkali sekarang ia ingin setingkat lebih tinggi, mungkin jadi Cawapres.

Dengan itu si Kecil Imin menghalalkan segala cara, termasuk "menginjak" nama PBNU. Agar ia bisa sedikit menjulang. NU struktural berkumpul di ruangan sejuk itu dengan satu kesimpulan paling menggelikan, "Kalau bukan kader NU yang diusung sebagai Cawapres, maka NU tidak akan berhutang moral. NU tidak akan *cancut taliwondo* (berjuang total)."

Pernyataan itu membuat NU mulai bergerak mundur ke jaman kegelapan. Ke masa ia menjadi partai politik. NU dikendalikan oleh beberapa elit demi kepentingan politik. Ini sebuah manuver yang mencengangkan. Orang-orang mulai kehilangan kontrol untuk menahan diri dari bujukan tarian politik praktis yang molek dan menggairahkan.

NU seolah-olah ingin meniru langkah PKS jualan agama. Logikanya, kalau yang maju kader NU, apa yang akan dilakukan demi *cancut taliwondo* itu? Khutbah pakai ayat pesanan di masjid? Menyebarkan surat ancaman ke masyarakat? Jamaah salat subuh berjamaah dengan misi politik? Lalu apa bedanya dengan trik PKS?

Organisasi keagamaan sudah sepantasnya mengambil jarak dari kubangan kotor politik. Cukup mengawasi. Kalau ada yang keliru diingatkan. Memangnya kalau kader NU yang memimpin sudah jaminan kerjanya bagus?

Dua menteri agama terdahulu itu juga dari NU, dan keduanya korup.

Apalagi kalau kadernya hanya sekelas si Kecil Imin. Kepemimpinan model apa yang mau ditunjukkan? Keberhasilan "mengkudeta" Gusdur?

Kehadiran si Kecil Imin dalam rapat para petinggi NU struktural itu sebuah indikasi kuat, bahwa itu semua telah diplot. Sebuah manuver politik. Ironisnya, itu dilakukan oleh ormas keagamaan yang selama ini terlihat paling dewasa dalam menyikapi dinamika politik. NU telah berhasil mengambil sikap tawasuth (berada di tengah) dan tawazun (seimbang).

Apakah karena si Kecil Imin, sikap NU berubah? Apa karena si Kecil Imin punya KartaNU, lantas membuatnya sahih untuk dibela mati-matian?

NU memang tidak perlu berjuang total, tak usah *cancut taliwondo*, siapapun yang maju sebagai Capres atau Cawapres. NU tak perlu mengotori diri seperti itu. Kalau mau mendukung, silakan lakukan sebagai pribadi masing-masing. Jangan bawa-bawa NU. Itu bukan organisasi warisan. Itu amanah dari guru-guru kita sebelum jaman ini.

Tantangan terbesar NU bukan melawan bahaya Wahabi, HTI, PKS, kelompok puritan, tapi bagaimana menjaga jarak dari kubangan kotor politik. Menjauhi politikus seperti si Kecil Imin yang besar nafsu politiknya itu.

Muktamar NU yang ricuh itu saja telah mencoreng muka kita semua. Saat muktamar Muhamadiyah teduh, muktamar NU gaduh. Hanya demi jabatan struktural, kabar tak sedap beredar: ada politik uang. Lalu ada semacam muktamar tandingan sesudahnya.

Ini dulu yang mesti dibereskan. Tak perlu jauh-jauh *cancut taliwondo* ngurusi politik. NU harus diselamatkan dari orang-orang yang tak tahu malu mengedarkan amplop itu. Bersihkan dari anasir struktural yang menyimpang. Mereka yang menjadikan NU sebagai ajang kekuasaan.

Kembalikan NU kepada khitahnya, jauh-jauh dari kubangan politik. Ulama itu lebih agung dari itu. Biarkan kami yang penuh dosa sesama *kebo gupak* ini saja yang berkubang. Biarkan kami yang saling tanduk, saling dorong, saling injak, karena beginilah kelakuan kebo gupak itu.

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Thursday, August 9, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: