Cagub DKI Agus - Silvy Intimidasi Pendukung dengan Bai'at

Ilustrasi

Oleh Aldi Bhumi

Entah ini hal baik atau bukan. Tapi d mataku terlihat begitu menyedihkan. Lagi2 Islam di pergunakan sebagai alat politik kelas comberan demi kepentingan kekuasaan. Sebuah strategi yg hanya akan d lakukan oleh para calon pemimpin yg justru tidak memiliki bekal cukup untuk bertarung dalam era demokrasi.

Semenjak ayat2 suci Al-Quran ikut kampanye, sebetulnya sudah terlihat penurunan derajat Islam d mata masyarakat. Dengan mengandalkan statistik mayoritas, maka para oknum penyalahguna agama dimajukan untuk mencari ayat2 yg menguntungkan, membawanya keluar ruang lingkup ibadah. Keluar ruang lingkup majelis, keluar dari masjid, turun ke jalan dan d paksa maju paling depan sebagai tameng sekaligus senjata andalan.

Bukan hanya ayat2 suci yg d rendahkan serendah2nya. Allah SWT pun d seret2 kedalam pilkada melalui bai'at.

Apakah itu bai'at?

Bai'at dalam terminology berarti “Berjanji untuk taat”. Seakan-akan orang yang berbaiat memberikan perjanjian kepada amir (pimpinan)nya untuk menerima pandangan tentang masalah dirinya dan urusan-urusan kaum muslimin, tidak akan menentang sedikitpun dan selalu mentaatinya untuk melaksanakan perintah yang dibebankan atasnya baik dalam keadaan suka atau terpaksa.

Cocokkah bai'at dalam iklim demokrasi? Pemimpin dalam terminology demokrasi memiliki arti yg berbeda dengan pemimpin (amir) yg dmaksudkan dalam terminology bai'at.

Dalam demokrasi, kepemimpinan berasal dari rakyat, untuk rakyat, pada rakyat. Dalam demokrasi, rakyatlah pemegang kekuasaan tertinggi. Hal ini d wujudkan dengan meletakkan hukum d atas segalanya. Seorang lurah, camat, walikota, gubernur, mentri, bahkan presiden pada teorinya tdk kebal hukum.

Dengan bentuk pilkada langsung, saat ini kita dapat merasakan kekuasaan tertinggi seperti janji demokrasi. Yang pilih kita sendiri. Dan bila d masa depan kita tidak suka keputusan gubernur? Silahkan teriak. Tidak suka keputusan presiden? Demontrasi sah dalam ruang lingkup demokrasi dan kebebasan mengemukakan pendapat. Tidak suka keputusan seorang pemimpin dalam demokrasi? Anda memiliki kebebasan dan hak untuk menentangnya.

Pemimpin dalam demokrasi adalah pelayan rakyat. Pemimpin dalam demokrasi bukanlah pemimpin dalam agama. Tidak semua keputusan pemimpin wajib d dukung bila tidak sesuai dengan hati nurani dan akal sehat anda.

Sedangkan bai'at dalam iklim demokrasi memaksa anda untuk menyerahkan kemerdekaan anda pada seseorang yg berdiri d bawah hukum. Seperti bai'at pada salah satu peserta pilkada, memaksa anda untuk menyerahkan kemerdekaan dan hak2 anda yg d lindungi oleh konstitusi Indonesia pada seorang calon tertentu.

Siapa yang untung? Sudah pasti sang calon. Lalu siapa yg rugi? Tentunya yg d bai'at.

Hmm,.. ide bagus sebetulnya...
Besok2 kalo aku intervew calon karyawan baru ku bai'at dulu baru ku ACC.

Kalau pemimpin dalam konteks demokrasi dapat d samakan dengan pemimpin dalam konteks bai'at, mengapa pemimpin dalam sebuah perusahaan tidak bisa?

Liberté, égalité, fraternité

(kwek)

Sumber : Status Facebook Aldi Bhumi

-----===** Source **===-----

http://megapolitan.kompas.com/…/warga.yang.hadir.di.acara.i…

https://m.detik.com/…/pendukung-dibaiat-akan-terima-risiko-…

http://jateng.tribunnews.com/…/ketua-mui-jakarta-barat-baia…

http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20170209173536-516-192442/pen...

https://almanhaj.or.id/243-baiat-secara-syari-dan-kebiasaan…

 

Friday, February 10, 2017 - 11:30
Kategori Rubrik: