Cagub, Capres, Rakyat dan Negara yang Ajaib: INDONESIA

Oleh: Robbi Gandamana
 

Walau aku apolitis, tapi aku salut pada Cagub2 itu. Karena orang yg nyalon jadi Cagub dan Capres itu hebat dan nekad. Sudah tahu negeri ini 'remuk', morat-marit gak karu-karuan kok ya pede berjanji sanggup ndandani (karena hanya Tuhan yg sanggup).

Tapi bangsa Nusantara itu kayak film kartun, nggak bisa mati. Walau negaranya hancur, mereka tetap bisa hepi. Walau sudah diinjak-injak sampai gepeng, tetap mampu bangkit lagi.

Rupiah diinjak-injak Dollar, harga2 melambung, rakyat tetap bisa gonta-ganti hp cuanggih (gaya hidup tak sesuai income). Nggak peduli esok hari akan jadi apa, penting tetap bisa ketawa-ketiwi, cengengesan, gumbira olwis.

Ada beberapa hal yang menyebabkan rakyat Nusantara begitu kedot luar biasa, monyet terlatih tahan banting :

- 'MULTI TALENTA'
Rakyat Indonesia rata-rata mempunyai bakat lebih dari satu. Karena keadaan ekonomi yang carut marut membuat rakyat harus atau terpaksa belajar apa saja.

Maka tak heran jika pekerjaan orang Indonesia buanyak yang tak sesuai jurusan. Sarjana Pertanian jadi desainer, Sarjana Ekonomi jadi tukang servis HP, Sarjana Filsafat jadi pengusaha roxy (rongsokan besi), ahli IT jadi Menpora (di era SBY).

Walau multi talenta itu juga yg bisa membuat bangsa ini terpuruk (karena tidak fokus pada satu bidang ; di Barat, orang fokus pada satu bidang sehingga di sana banyak melahirkan para ahli). Tapi setidaknya saat lapangan kerja sempit atau di-PHK, mereka bisa survive dengan ilmu dan bakat yang bermacam-macam.

- PINTER MAIN 'AKROBAT'
Pasti ente pernah lihat betapa luwesnya orang mengendarai motor (ngebut) sambil main hengpon. Atau juga penjual kasur lipat yang menjajakan dagangannya hanya pakai motor atau sepeda ontel. Kasur lipat ditumpuk di jok. Dan masih sempat-sempatnya zig zag di jalan saat jam sibuk. Belok kiri (keluar dari gang) nggak pakai noleh ke kanan (belakang).

Hebatnya, dengan keadaan jalanan yang kacau balau tersebut, angka kecelakaan tak setinggi negara maju yang masyarakatnya sangat tertib : Jepang, Korea dan atau negara maju lainnya.

Karena pinter 'akrobat' itulah rakyat Indonesia oke-oke saja. Kuli bangunan di gedung tinggi, rileks tanpa alat pengaman yang memadai. Begitu juga saat menambang pasir, batu kapur, sarang burung walet, emas, akik, atau apa saja di tempat yang berbahaya..mereka oke saja. Bahkan masih sempat-sempatnya selfie.

- TIDAK TERGANTUNG APA-APA
Ini salah satu asyiknya orang Indonesia. Mereka tidak masalah jadi apapun. Jadi orang kaya Alhamdulillah, miskin juga nggak masalah. Jadi orang sukses..syukurlah, nggak sukses..biarlah.

Yang penting mangan ora mangan kumpul, nabung buat beli gadget yang canggih buat ngeksis, sehari makan 3 kali, beresss.

Bandingkan dengan orang Korea, Jepang atau bangsa lain. Begitu hidupnya gagal, nggak sukses..langsung bunuh diri.

- SENGSARA ADALAH PRESTASI
Kebanyakan ini terjadi pada orang lama yang masih teguh pada budaya nenek moyang. Mengamalkan berbagai laku tirakat untuk melatih dan meneguhkan diri. Misal orang Jawa yang Puasa Ngebleng, puasa selama 3 hari nonstop nggak makan minum dan menahan hawa nafsu.

Karena tahan sengsara itulah ketika krisis datang, mereka nggak akan pernah kaget. Krisis opo se rek? Dan mereka tetap berangkat bekerja, ngojek, nguli, bakul di pasar, berburu rongsokan, bahkan jangan kaget kalau masih menemui orang yang memanggul dipan kayu (tempat tidur) dijajakan keliling kampung.

- HIDUP DENGAN SUGESTI
Pernah dengar khan ada anak yang hobinya makan batu bata tapi tubuhnya oke-oke saja. Secara logika atau teori pastilah nggak baik makan benda seperti itu, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Bahkan di Jawa ada tanah liat yang dijadikan cemilan (Ampo).

Saat harga melambung tinggi, susu tak terbeli, maka tajin pun jadi. Anehnya tajin malah lebih dahsyat dari susu (instan). Bayi bisa tumbuh normal layaknya bayi yang minum susu mahal. Dan itu semua karena kekuatan sugesti.

-kurang lebih begitulah kata simbah-

 

(Sumber: Status Facebook Robbi Gandamana)

Tuesday, October 4, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: