Cadar dan Cingkrang

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Apa hubungan pakaian yang dikenakan manusia dengan kadar keimanan atau tingkat religiusitas, sikap mental, dan moralitas seseorang? 

Jawabnya; entahlah. Terserah masing-masing. Ini bukan uraian tentang itu. Melainkan lebih merupakan tinjauan empirik seorang lelaki, yang awam mode dan awam agama. Boleh dilanjut, boleh berhenti sampai di sini kekepoannya.

 

Masih lanjut? Begini. Ini mungkin pandangan agak sexys. Juga mungkin agak bias gender. Tapi resiko sampeyan tanggung sendiri. Apalagi ternyata masih juga membaca sampai di paragraph ini. 

Bagi perempuan, utamanya yang sudah beranjak dewasa, dan super dewasa, mereka yang overseks (di atas seket atau 50 tahun), penampilan bagi sebagian besar mereka, adalah sesuatu yang sangat eksistensial. Kecuali bagi yang kepedean atau ndableg. Keras kepala, alias cuek dengan penampilan fisik yang super-jumbonya.

Penampilan fisik, bagi perempuan, mungkin jauh lebih urgent dibanding aica aibon. Apalagi dengan angka segitu, bisa dipakai untuk beli paket melangsingkan tubuh secara efektif dan efisien. Karena semakin tumbuh usia perempuan, body alias tubuh, sungguh merupakan masalah. Lebih-lebih, jaman Romawi Kuna sudah lewat. Karena perempuan yang dianggap sexy itu kini bukan yang ndut. Tapi yang twigy. Simply twist. Tidak kurus banget. Agak ada isinya tapi masih memunculkan puisi kekosongan! Halah, gambis!

Meski bagi kebanyakan lelaki, perempuan padat berisi rasanya lebih berbobot. Setidaknya jika ditimbang. Meski timbangan, juga cermin, adalah benda paling terkutuk bagi perempuan golongan ini. Lha, terus apa kaitan dengan cadar dan cingkrang? 

Duh, masih membaca? Saya terusin sajalah: Bentuk pakaian perempuan Timur Tengah, bisa dilihat di gambar, terasa sangat nyaman dana man. Setidaknya bagi yang bermasalah dengan bentuk tubuh. Ada dua alasan, kenapa pakaian tertutup brukut semacam itu lebih mudah diterima. (1) Secara psikologis, benar-benar bukan hanya menutup aurat, tapi real body dengan segala kelebihannya. (2) Secara keyakinan agama, memberinya kenyamanan psikologis dan sosiologis. Artinya tidak dikuya-kuya ketika bersosialitas di arisan RT, pasamuan trah, atau layatan. Bebas dari pertanyaan; “Insya Allah besok hijrah, ‘kan?”

Menurut Musdah Mulia, konon fenomena hijrah yang marak dewasa ini, adalah pemandangan umum di kota-kota besar. Tidak di desa-desa kecil. Saya menyangsikan hal itu. Apa maksud kota dan desa di situ? Di banyak wilayah, batas kota dan desa menjadi makin tak jelas. Apalagi dengan maraknya gadget. Di banyak desa, fenomena hijrah juga banyak terjadi. Yang dulunya “tidak beragama”, alias golongan yang “dikafir-kafirin”, sekarang banyak yang ‘nyadar’, berhijrah, dengan bukti berhijab. 

Karena tantangan dengan pakaian tradisional seperti kebaya, luar biasa beratnya bagi kaum perempuan yang bertumbuh kembang itu. Kebaya Jawa, entah itu Yogya, Surakarta, Sunda, Betawi, konsepnya memang menonjolkan yang kurang menonjol. Lha kalau sudah dikutuk menonjol semua dari sononya? Tidak sedikit perempuan Indonesia yang nggak pede memakai kebaya dan jarit yang ketat. Dengan songkok susu yang mlethet. Apalagi harus menguningkan kulit yang gelap, karena jenis kain broklat yang sengaja tembus pandang itu. 

Kalau celana cingkrang? Menurut guru ngaji saya dulu, sejarahnya sebagai gerakan sosial yang dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam. Sebagai aksi perlawanan terhadap para sayid, kaum ningrat, borjuis, yang pakaiannya grembyah-grembyah sampai nyapu padang-pasir. Kira-kira hampir sama macam gerakan Gandhi bagi rakyat India waktu melawan penjajahan Inggris. Karena kreativitas mendapat tempat, maka komodifikasi kesederhanaan a la Gandhi tumbuh adaptif sampai kini. 

Nha, kaum miskin di Mekkah, dari segi kepraktisan (ngirit kain juga), cukup terbantu karena setidaknya minimal berwudlu lima kali sehari. Tak akan seheboh Sultan dan para Pangerannya. Timbul pertanyaan: Lha kenapa dalam soal pakaian grembyah-grembah, logika yang sama tak dipakai untuk perempuan? Lho, kalau bagi perempuan ‘kan tadi sudah dituliskan, ada kepentingan yang mendesak dan menonjol? 

Kaum lelaki, sih, biar perutnya hamil 9 bulan, cuek bebek. Nggak penting tampilan fisik, apalagi kalau isi dompetnya juga buncit. Atau biar miskin tapi rayuannya maut. Meski berbahan baku gombal. Soalnya, ada lho lelaki yang berbekal kata-kata klasik; “Kamu sexy deh dengan hijab itu,…” Lebih celaka lagi, ada saja yang ketipu, rela dinikah siri atau dipoligami. Katanya ibadah sosial.

Jadi kalau Novel Baswedan tampak gagah dengan celana cingkrang, dia protes pada siapa? Pada Jokowi yang belum nerbitin Perppu atau belum juga nuntasin kasus matanya? Itu sih soal lain lagi. Apalagi dengan kaos kaki pendek dan sepatu yang sporty gitu kan Nampak modis juga penyidik kita itu. Nggak usah baper. 

Begitulah kira-kira. Sila nyesel membaca tulisan ini sampai habis. Karena penulis percaya, pakaian menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Tinggi atau rendah, meneketehek. Karena kita nggak boleh sexys, apalagi bias gender. Kita juga mesti membela hak-hak perempuan, agar tak jadi objek sex mulu. Selalu jadi korban pelecehan seksual dalam relasi kuasa dan politik tubuh.

Terakhir nih, kalau ada laki-laki Indonesia, dan di Indonesia, pakai pakaian brukut sebagaimana kaum perempuan di Iran dan Irak? Dan kemudian rajin ikut majelis takelim ibu-ibu di mana-mana? Kata Z. Dolgopolova, ‘mati ketawa cara rusia’; Pertanyaan bodoh tak perlu dijawab!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Monday, November 4, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: