Cadangan Devisa dan Jejak Khilafah di Nusantara

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Hal yang paling dirasakan oleh banyak negara saat Pandemik Covid-19 seperti saat ini adalah dampak ekonomi. Semua negara mengalami performa ekonomi yang merosot tak terkecuali Indonesia. Salah satu variabel pemicunya adalah berkurangnya volume eksport dan impor sebagai dampak kebijakan "isolasi" oleh berbagai negara. Otomatis hal ini juga akan mengurangi potensi pendapatan devisa.

Namun begitu, ada fenomena menarik mengenai ekonomi kita. Yaitu naiknya cadangan devisa. Hmm.., kok bisa? Bukankah perdagangan global sedang tidak bergairah? Bank Indonesia menyampaikan bahwa ini adalah dampak dari penerbitan Global Bond. Lalu darimana sumber dananya?

Tiga tahun lalu, selang beberapa lama setelah Perjanjian Transparansi Keuangan Global berlaku, saya sudah menyinggung bahwa kita adalah salah satu pemilik kolateral terbesar di dunia. Baik itu berupa Solid Collateral (emas), Heritage Collateral (artefak berharga), maupun Cash Collateral (cadangan devisa). Hal ini saya paparkan setelah mendapat "wangsit" melalui SILIT (Saluran Internasional Langsung Ilmu Telepati).

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=469808400079693&id=100011516113440

Memang peningkatan cadangan devisa kita saat ini adalah hasil dari penerbitan Global Bond. Tapi ibaratnya, kita sedang berhutang pada brangkas kita sendiri. Ya! Transparansi Keuangan Global juga telah menguak adanya aset2 peninggalan Kakek Moyang dari bangsa2 yang pernah mengalami kejayaan di masa lampau yang kini tersimpan di Eropa. Diantaranya adalah Indonesia (Nusantara), China (Mongolia), India dan juga Russia (Tsar). Negara2 inilah yang akan menjelma menjadi negara besar yang ditopang dengan kekayaan kolateralnya.

 

Itulah juga kenapa saat ini di Indonesia mulai muncul gerakan dan propaganda jejak Khilafah di Nusantara. Tujuannya agar mereka nantinya bisa mengklaim bahwa Kejayaan Nusantara di masa lampau adalah bagian dari Khilafah Utsmaniyah. Ini supaya Khilafah merasa berhak berdiri (kembali) di Nusantara. Pun seandainya klaim ini benar adanya, dalam sejarahnya Khilafah terakhir bukanlah beraliran Wahhabi sebagaimana paham dari kelompok pengusung Khilafah yang eksis pada saat ini. Dan perlu diketahui, kelompok Wahhabi jugalah yang turut berkontribusi atas runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada saat itu.

Jadi, jangan anggap remeh propaganda Jejak Khilafah di Nusantara saat ini. Klaim palsu dari Khilafah Palsu adalah by design. Ini tentang aset Nusantara yang mereka incar setelah modus ala Sunda Empire dan Keraton Sejagat telah gagal. Dan yang pasti, mereka hanya proxy dan terdapat Mastermind di balik semua ini. Boleh percaya, boleh tidak. Namanya juga SILIT! Hehehe...

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Tuesday, August 11, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: