Cacing Parasit Itu Memang Mematikan

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Terlepas dari kontroversi masalah cacing parasit pada ikan, saya memang tidak terlalu menyukai mengkonsumsi ikan kalengan dan lebih memilih ikan segar. Selain lebih sehat, mengkonsumsi ikan segar juga membantu penghidupan nelayan lokal dan tradisional. Kok bisa?

Seorang teman yang sering melakukan patroli laut pernah bercerita bahwa kapal asing pencuri ikan yang berkeliaran di perairan kita bukan sekedar kapal. Tapi sekaligus juga ada aktivitas pengemasan didalamnya. Sebuah sindikat mafia lintas negara yang tertata rapi. Termasuk juga melibatkan orang-orang kita. Mulai menyewakan bendera RI (untuk kapal) serta juru bicara orang (berbahasa) Indonesia jika sewaktu-waktu ada patroli. Menyewakan KTP aspal jika sampai di razia, hingga supply BBM ilegal utk armada kapal mereka yang kadang juga melibatkan aparat.

Miris nggak sih! Sudah ikannya nyolong, merusak mental aparat, merugikan nelayan lokal, bahkan menggerus devisa negara. Hmm.., menggerus devisa? Ya! Setelah disortir dan dikemas diatas kapal, ikan-ikan itu akan "pulang kampung" sebagai komoditas bahan baku impor Made in China, Japan, Thailand, Vietnam dan lain-lain dengan harga kompetitif dan lebih murah dari supply nelayan lokal. Wajar saja, karena biaya produksi mereka jauh lebih murah karena menggunakan alat-alat yang canggih dan modern. Bahkan teman saya sampai menggambarkan bagaimana keadaan laut kita yang tampak berkilau kerlap kerlip akibat pantulan cahaya dari punggung ikan karena saking banyaknya koloni ikan yang berkumpul dan siap untuk ditangkap (panen). Kapal-kapal itu memiliki alat khusus yang memancarkan gelombang suara tertentu yang mampu "memanggil" ikan untuk berkumpul pada titik lokasi yang telah ditentukan.

Jadi, tidaklah heran ketika Bu Susi dengan aksi penenggelaman nya ternyata mampu membuat para cukong kelabakan dan kabarnya menawarkan angka hingga trilliunan rupiah agar beliau meletakkan jabatannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Tawaran ini menunjukkan betapa besarnya nilai perputaran uang dalam bisnis ilegal ini.

Menurut saya, isu cacing parasit dalam ikan kemasan bisa jadi salah satu strategi perang asimetris untuk memutus mata rantai para mafia laut itu. Cacing itu kini benar-benar "mematikan". Masyarakat instan sebagai konsumen ikan kemasan berangsur-angsur kembali kepada ikan segar sebagaimana yang sering dikampanyekan oleh pemerintah. Merosotnya permintaan komoditas ikan kemasan memang mengorbankan "sebagian" produsen lokal meskipun faktanya bahan baku yang didapatkan melalui "impor". Tapi setidaknya "strategi cacing" ini sudah menyelamatkan jutaan nelayan tradisional, mencegah penjarahan sumber daya laut kita, menyadarkan mental aparat yang dirusak oleh bisnis laut ilegal, bahkan mampu menyelamatkan cadangan devisa kita dari potensi belanja bahan baku "ikan impor" rasa lokal tersebut. Sepatutnya saya angkat topi terhadap siapapun anda yang berada dibalik strategi perang ini.

Jadi jika ada yang berteriak-teriak menyalahkan pemerintah yang dianggap menyebabkan terjadinya pengangguran akibat merosotnya permintaan pasar akan ikan kemasan, mudah-mudahan sekedar gagal paham. Bukan berangkat dari nuansa kebencian terhadap pemerintah apalagi bagian dari lingkaran setan mafia laut.

Hal ini sekaligus mengingatkan kita saat patroli laut TNI AL berhasil menggagalkan penyelundupan berton-ton Sabu. Justru oleh para haters malah dikatakan bahwa ini adalah rezim pengimpor narkoba. Piye jal?! Apakah cacing parasit itu yang sebenarnya sudah bersemayam di otak mereka? Jika iya, kasihan micin yang selama ini sudah menjadi kambing hitam. Iya nggak cin? Eh, cing?!

Sumber : facebook Fadlu Abu Zayyan

Tuesday, April 3, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: