Cacat Logika Gelar Imam Besar Habib Rizieq Shihab

Ilustrasi

Oleh Fajar Arifin

Entah apa yang yang ada di segolongon orang Islam yang mendukung pemberian Gelar Imam Besar kepada Sayyid Rizieq Shihab. Mereka terus-terusan menyuarakan isu itu. Para pendukung itu merupakan kelompok FPI, HTI, alumni Aksi “Ngaku” Bela Islam. Muhammadiyah dan NU tidak masuk kelompok ini. Entah dari mana usulan ini muncul yang jelas status awal Habib Rizieq Hanya Imam Besar Front Pembela Islam (FPI).

Seseorang akan dipilih, diberi gelar, diberi kehormatan dikarenakan jasanya bagi kelompok tertentu baik secara agama, adat, suku, organisasi maupun kelompok lain. Maka dari itu berikut akan diuraikan cacat logika pemberian gelar Imam Besar pada Habib Rizieq.

Pertama, dalam sejarah dunia Islam, pemberian gelar Imam Besar hanya untuk masjid-masjid saja misalnya Masjid Istiqlal maupun Masjid terbesar diberbagai belahan Negara lain. Sementara untuk gelar Imam, disematkan pada 4 madzhab yang sudah diakui keilmuan Islam diseluruh dunia yakni Imam Syafii, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi. Apakah ilmu KeIslaman beliau sudah seperti 4 madzhab tersebut?

Kedua, perilaku Sayid Rizieq Shihab yang justru membuat umat Islam tercerai berai. Silahkan simak berbagai video yang ada. Fitnah bertebaran keluar dari mulutnya dan memaki bahkan founding fathers Indonesia. Jangankan pada non mslim, pada sesame muslim saja memaki. Lihat rekaman tayangan TV one saat masih bernama Lativi, mencaci Gus Dur yang mantan Ketua Umum PBNU buta mata buta hati. 

Ketiga, hidupnya berfooya-foya tidak mencerminkan kehidupan seperti yang dicontohkan Rasulullah. Rasulullah selalu hidup sederhana, bahkan bajunya tidak jauh berbeda dengan orang miskin yang hidup di Negara yang dipimpinnya. Tapi lihatlah bagaimana Imam Besar FPI itu tampil. Pada aksi 212, beliau menaiki mobil New Pajero Sport baru padahal sebelumnya bertebaran mobil dengan plat nomor 3 huruf dibelakang FPI dengan harga mobil bahkan lebih dari Rp 1 M.

Keempat, organisasi binaannya lebih dikenal merugikan disbanding jasa yang diberikan. Okelah FPI membantu mengatasi korban gempa, membantu masyarakat yang tertimpa bencana namun sejarah mencatat berbagai aksi FPI yang melakukan berbagai tindak kekerasan. Terakhir mereka membakar sekretariat GMBI. Hal itu makin menunjukkan organisasi binaannya bukan menggunakan hukum sebagai landasan bergerak tetapi kekerasan yang diajukan.

Kelima, Memutarbalikkan fakta. Kita bisa lihat diberbagai kejadian. Kasus Ahok jelas, ketika masih banyak perbedaan penafsiran tentang makna Auliya pada Al Maidah 51, Sayid Rizieq ngotot makna Auliya itu pemimpin. Faktanya diberbagai Negara makna Auliya yakni sekutu atau teman karib. Dan kejadian ini diputar menjadi menista Al Qur’an.

Keenam, Tidak menunjukkan sifat seorang pemimpin yakni memenuhi kriteria Sidiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah. Adakah beliau mencerminkan syarat ini? Sederhana saja contohnya, selama ini darimana FPI dapat duit? Bagaimana pertanggungjawabannya? Sama sekali tidak jelas.

Sebetulnya masih banyak lagi argumentasi yang menunjukkan cacat logika pemberian gelar Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Belum lagi, sudah banyak organisasi keagamaan yang mempertanyakan pemberian gelar tersebut seperti Anshor, Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya. Sederhananya begini, menjadi ketua RT saja ada syaratnya apalagi Imam Besar Umat Islam.

Tuesday, January 17, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: