Buzzer Tukang Fitnah, Buzzer Ngaku Aktivis & Buzzer NKRI

Oleh: Ricky Apriyansyah

 

Ingat fitnah biadab terhadap ibunda Presiden Jokowi yang dilakukan Jonru? Ingat presiden Jokowi dibilang hajinya palsu oleh Hazmi Srondol? Ingat fitnah-fitnah kejam lainnya yang dilancarkan  begitu massifnya oleh para pembenci bayaran terhadap Jokowi bahkan saat beliau masih menjabat gubernur dan baru disebut-sebut namanya sebagai calon Presiden RI? Ingat jugakah dengan pose buzzer khusus fitnah itu di kandang kuda?  

Nah, dari situlah sejarah buzzer dimulai. Buzzer bukan baru ada saat sekarang ini, melainkan sudah lama. Sejak media sosial ada, setiap perusahaan besar punya buzzer. Mereka bertugas menjadi agen yang mensosialisasikan produk-produk barang dan jasa di medsos. Istilah buzzer makin berkembang definisinya sejak panah-panah fitnah dilancarkan dengan kejam dan membabi buta oleh pasukan tantara khusus fitnah, pada tahun 2012. Dimulai dari Jonru yang membuat postingan fitnah, intinya menuduh bahwa Jokowi sebenarnya bukan muslim. 

 

 

Fitnah dengan gosokan sentimen agama menjadi senjata menebar kebencian terhadap seorang Jokowi. Beberapa buzzer khusus fitnah, sudah tumbang dan mungkin masih beroperasi secara undercover. Namun banyak yang bahkan sampai sekarang masih bertahan. Mereka terus memfitnah, terus menggonggong memperkeruh suasana dengan hoaks-hoaks bersentimen agama untuk memecah belah bangsa.                                 

Buzzer-buzzer tukang fitnah itu sungguh bising memenuhi setiap ruang media sosial di semua platform. Bayaknya fitnah dan serangan fitnah secara massif yang dilakukan para buzzer antipemerintah seperti Jonru cs bukan tanpa perlawanan. Maka lahirlah para relawan di media sosial yang tak terima Jokowi diserang dengan fitnah-fitnah biadab itu. Mereka melawan, mereka membantah dengan fakta dan data. 

Akhirnya satu demi satu para buzzer yang mendapat upah untuk menyebar fitnah dan kebencian itu kena batunya. Ada yang masuk penjara. Ada yang hilang, walau masih banyak yang bertahan dan banyak juga tukang fitnah baru karena terkena hasutan. Tiap hari posting fitnah tapi katanya membela agama. 

Kini para relawan di media sosial itu bangkit kembali mendukung pemerintahan Jokowi, ketika tidak ada elite politik yang membela Jokowi sama sekali. Padahal dia sedang diserang habis-habisan oleh oposisi dan buzzer antipemerintah melalui media sosial.  Namun ada upaya labelling setiap yang mendukung pemerintahan Jokowi disebut buzzer istana. Kemudian yang menuding itu mengaku sebagai aktivis. Sungguh sangat menggelikan.

Yang menggelikan lagi, sebuah perusahaan media begitu panik, terus-terusan setiap hari membahas isu buzzer istana dengan samgat tendensius. Ini sangat lucu karena secara tidak langsung sesungguhnya media itu mengakui bahwa pengaruh “buzzer” sudah setara dengan pemberitaan media. Maklumlah, memang aneh tingkah media yang tidak kreatif, sehingga mulai ditinggalkan pembacanya. 

Jadi jangan takut dituding sebagai buzzer. Benar, kita semua para pendukung Jokowi memang buzzer yang mati-matian mempertahankan NKRI agar tetap utuh berdiri. Bukan mereka para buzzer tukang fitnah atau yang mengaku aktivis tapi aslinya hanyalah agen LSM asing yang punya agenda untuk memecah belah NKRI. 

Salam buzzer. Lo jual, gue beli.

Friday, October 4, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: