Buzzer-Buzzer yang Lebih Keji Timbang Joker

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Musibah yang menimba Pak Wiranto dan petugas yang melindunginya, ternyata disikapi berbeda oleh para netizen. Kebanyakan netizen tentu mengutuk peristiwa ini, mendoakan supaya korban segera lekas sembuh, dan meminta supaya penegakan hukum ditegakkan dengan tegas kepada pelaku teror penusukan.

Namun saya melihat adanya banjir nirempati dari para buzzer terhadap peristiwa ini. Ada yang menanggapinya dengan gaya becandaan. Ada yang mensyukurinya. Ada yang menyebutkan ini adalah drama, setingan, skenario. Tanpa sedikitpun menunjukkan simpati kepada korban musibah ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

Akun FP Jonru Ginting New, yang diduga dikelola oleh buzzer terkenal sejak 2014 yang sempat difollow 1.5 juta orang, misalnya, menulis status "Lain kali jangan langsung ditusuk. Matikan dulu, lalu badannya dicincang, setelah itu baru ditusuk dan dibakar. #BelajarNyate". Ia sangat cerdas, statusnya tentu tidak bisa diperkarakan, karena tidak spesifik menyebut seseorang. Namun jelas tidak bisa dipungkiri statusnya terkait dengan konteks peristiwa penusukan Wiranto kemarin.

Ada juga Gilang Kazuya Shimura yang difollow 38.000 orang lebih. Ia diduga menulis, "Pingin melayat bapak yang ditusuk, ehh belum boleh mengucapkan innalillahi". Sikap nirempati ini dikutuk oleh ribuan netizen, lebih dari 10.000 komentar negatif membanjiri laman akunnya, sebagian besar dengan kata-kata kasar karena emosi memuncak atas statusnya yang tidak pantas itu.

Belum lagi ada Nina Asterly, dengan follower 22 ribu orang. Ia menulis komentar, "Kenapa di perut, bukan di dada kiri". Juga menulis, "Sudah sepantasnya Wiranto dibegitukan, karena itu tuaian akibat perbuatannya sendiri selama ini."

Dan ada cukup banyak, puluhan akun lain, dalam catatan saya, yang juga membuat status dengan nada bercanda, dan menyebut peristiwa ini drama untuk mengkambinghitamkan kelompok tertentu.

Tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita, bagaimana mungkin orang, apalagi dalam jumlah banyak, bisa kehilangan rasa kemanusiaan, tidak ada rasa iba, ketika terjadi musibah terhadap orang lain? Belajar akhlaq kemana mereka? Joker-kah? Karena agama, Islam, jelas menentang perilaku iblis seperti itu.

Orang boleh tidak setuju dengan kebijakan Wiranto yang mungkin kadang dinilai kontroversial. Orang boleh mengkritik keras, atau bahkan mendemo kebijakan seorang pejabat seperti Wiranto, karena hal itu diatur dalam undang-undang.

Namun ketidaksetujuan itu tidak sepatutnya mematikan nalar kemanusiaan. Karena ia adalah adab yang paling dasar dalam menjalani hidup sesama manusia. Tak ada gunanya orang bisa pamer ilmu, kalau adabnya tidak lebih mulia ketimbang sampah jalanan.

Ini adalah musibah besar di abad digital ini, ketika orang bisa tampak manis di dunia nyata, namun ia bisa amat buas di dunia maya. Tinggal menunggu waktu ketika perilaku buas di dunia maya beresonansi dengan sikap dunia nyatanya, maka sikap buas di dunia nyata itu yang akan membuka jalan konflik kemanusiaan.

Fenomena ini yang sepatutnya menjadi perhatian para pengajar, para ustadz, para ulama, para pendidik. Bahwa banyak dari warga kita yang masih bermasalah dengan adab. Padahal adab jauh lebih penting untuk didahulukan ketimbang ilmu. Adab bisa mendadak hilang ketika emosi politik yang dikedepankan.

Tidak perlu menunggu kebiadaban dunia maya termanifestasi dalam kebiadaban dunia nyata, karena kalau sudah terlanjur, maka nasib anak cucu kita yang akan dipertaruhkan.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Friday, October 11, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: