by

Buya Syafii Ma’arif dan Keteladanan

Oleh : Nurbani Yusuf

Seorang aktifis mahasiswa bercerita tentang Buya —- kami bertiga, pada senja yang hangat, setelah seharian matahari yang terik memagut Kota Jogja. Kedatangan kami ke rumah buya bukan sekedar silaturrahim biasa , ada hal penting yang kami tak sanggup utarakan.

*^^^^^*

Nogotirto, di rumahnya yang sejuk, sengaja kami berkunjung, bukan di masjid tempat yang biasanya beliau pakai menerima tamu.

Setelah basa-basi sebentar, Buya yang orang Minang terbiasa bercakap pendek kata dan terus terang — berkata memecah ketegangan: ‘ada perlu apa ? Apa yang bisa saya bantu ?

Salah satu diantara kami saling menunjuk karena malu, hingga seorang diantara kami berkata : Buya kami terlambat bayar spp semester genap orang tua kami di dikampung berkabar panen an gagal hasil sawah dan kebun hanya cukup untuk dimakan.

Sontak yang kedua menyusul : Buya saya sudah tiga bulan tak bayar sewa kos — minggu depan saya diusir jika tak bayar sewa. Dan yang ketiga bilang : Buya saya mau menikah orang tua kami jauh, saya tak punya bekal.

*^^^^*

Buya tersenyum tipis yang tulus tak ada perubahan mimik di wajah, tetap biasa — diam sembentar kemudian masuk ke ruang dalam. Sebentar keluar sambil bawa beberapa amplop putih yang masih tertutup rapat.

Buya bilang : ini ada sepuluh amplop aku bagi pada kalian saya tak tau isinya berapa. Kata Buya pendek. Kami bertiga ada yang dapat tiga dan empat amplop— jangan tanya suka cita kami saat itu.

Tak ada kabar berapa isi amplop itu, tapi empati dan suka cita saat menerima amplop itu yang bikin aku ingat hingga hari ini.

*^^^^^*

Saya bukan Buya Syafii Maarif yang tak pernah membuka amplop bisyarah yang di dapat setiap usai ceramah atau khutbah. Beliau selalu simpan rapat dan diberikan kepada yang membutuhkan pada saat yang tepat.

Bagi saya, Buya Syafii Maarif adalah teladan, manusia biasa mubaligh seperti kita, buya bukan nabi yang ma’shum, bukan wali bergelimang karomah atau habaib dari dzuriah suci.

Buya Syafii Maarif tidak sendirian, para mubaligh dan ulama Muhammadiyah memang demikian — sederhana, tulus berbakti dan mengabaikan kepentingan pribadi. Dari ulama-ulama dan mubaligh sederhana ini lahir amal usaha yang luar biasa melampaui ketenaran personal.

Saya tak bisa sepenuhnya bisa meniru — meski sudah beberapa kali saya mencoba untuk tidak membuka dan memberikan pada yang membutuhkan. Godaan lebih kuat dari keinginan untuk hidup tidak butuh.

^*****^

Dengan santun Kyai Maimun Zubair pernah bernasehat agar setiap mubaligh atau dai guru ngaji punya usaha agar hidupnya tidak bergantung pada pemberian —- nashrun minallah wa fathunqariib

Sumber : Status Facebook @nurbaniyusuf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed