Buya Syafi'i dan Mencicil Hutang

Oleh: Wahyudi Akmaliah
 

Di penghujung jabatannya sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ada hutang yang belum terbayarkan oleh Buya Syafi'i, yaitu uang sejumlah Rp. 70 juta. Awalnya Buya mengira uang itu diberikan oleh donatur untuknya, ternyata itu untuk lembaga Muhammadiyah. Karena sebagian uang tersebut sudah terpakai, ia kemudian mengembalikan uang tersebut dengan cara mencicilnya.

Kesederhanaan dan kejujuran bukan retorika yang mesti ditunjukkan di publik melainkan lelaku harian yang dipraktikkan. Inilah salah satu kearifan seorang Buya, dimana saya menaruh hormat dan belajar. Jika memang itu bukan haknya, ia tidak akan mengambilnya. Meskipun itu sudah terpakai, ia akan mencicilnya.

 

 

Karena itu, keseganan dan hormat sebagian besar orang bukan karena tampuk kekuasaan yang pernah dijabatnya, tapi bagaimana amanah itu dikelola dengan sebaik dan sehormat-hormatnya. Hal inilah yang membuatnya menjadi keras kepala saat membela apa yang dianggapnya benar. Karena ia tidak memiliki pamrih kecuali keridhoan atas kebajikan yang dilakukannya.

Sikap seperti ini yang membuat orang-orang yang dikritiknya menguatkan saja ketika buya memberikan masukan, tanpa ada upaya mempertahankan diri. Sikap hidup semacam ini tidak datang tiba-tiba, tapi terpaan kemiskinan, kesusahan, dan dicampur rasa syukur dengan terus-menerus belajar dalam menemukan kebenaran salah satu buah yang kini dipetiknya.

Salah satu kalimatnya yang sering menjadi cambuk saya untuk belajar rendah hati darinya adalah, "saya bisa seperti sekarang ini semata-mata karena belas kasihan ombak yang membuat saya bisa terdampar ketepian". Sikap ini yang seharusnya menjadi hikmah dan teladan, bukan untuk siapapun, tetapi untuk saya dan keluarga kecil saya. Tidak lebih!.

Sebab, saat ini seberapa banyak orang yang mau belajar dengannya?

 

(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)

Sunday, June 4, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: