Buya, Amalmu Banyak, Dosamu Dicuri Orang

ilustrasi

Oleh : Alim

Dulu saya menulis tentang Buya, saat ramai pembacokan seorang Romo di sebelah kampung Buya tinggal (yang juga kampung saya). Saya menulis karena banyak netizen yang menghujat Buya, menuduhnya: kalau agama lain dibela, agama sendiri dihina... atau semacam itulah komen2nya.

Waktu itu saya jelaskan bahwa saat kejadian, Buya kebetulan berada di pasar, beberapa puluh meter dari Gereja tempat kejadian. So, simpel aja beliau datang ke lokasi. Tapi ya ramainya bukan main, tudingan, tuduhan, cacian dll. Beberapa nama yang nyinyir pada Buya masih saya ingat 

Nah, ketika Buya juga mendatangi mushala yang dibakar orang di Bantul, meski lokasi sangat jauh dari rumah Buya.. orang-orang itu pada mingkem. Sekadar apresiasipun nggak ada sama sekali.

Tak perlu tunjukkan secara vulgarpun kita tahu, mereka dari kelompok model beragama yang seperti apa, dan cara berpolitik yang seperti apa.

Kalau diingatkan, sangat mungkin mereka ini pura2 tidak ingat. Misalnya, Buya nengok Abu Bakar Baasyir saat sakit di penjara, ngobrol dan mendoakan. Padahal kita tahu, dua tokoh ini berseberangan cara berpikir keagamaannya. Dan... Buya itu menjadi saksi ahli di pengadilan yang meringankan Abu Bakar Baasyir lho..

Nah, kali ini juga mirip. Buya mendoakan Syeh Ali Jaber, minta Polisi usut tuntas dan jangan sampai terulang, lalu memberikan wejangan bagaimana peradaban ini harus dibangun. Statemen yang soft dan baik, sewajarnya seorang yang Sepuh bagi Bangsa Ini.

Komen-komen netizen.. masyaallah! Bikin pengen istighfar 1000x
Sebetulnya komennya ya itu2 aja sih.. plesetan nama, plesetan gelar, soal gaji BPIP (yang nggak pernah Buya ambil itu), soal Jokowi.... blas nggak ada kaitan sama isi statemen Buya terkait Syeh Ali Jaber.

Saya jadi berpikir. Seorang Buya yang shalat 5 waktu di masjid, dzikir/qiraah tak henti, baca bukunya kenceng, kalau ngobrol diskusi selalu terselip ayat Qur'an dst dst.. kok dibegitukan, berarti dosa beliau dicuri orang2 itu.
Sementara, pemberian-pemberiannya pada dlu'afa, masjid, pesentren, mahasiswa tak mampu, dan siapapun.. tak pernah dibicarakan orang, tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang. Mungkin Allah memang menjaga itu sebagai rahasia agar tidak menguap.

Poin saya lainnya, rupanya banyak netizen yang main medsos untuk melampiaskan kebencian. Bisa jadi, memang hidupnya susah, hatinya penuh gelisah, jadi yang terlontar cacian dan makian. Karena dasarnya benci, kalau ada yang nggak cocok ya langsung dicerca, sementara kalau lihat sesuatu yang cocok di hatinya dia diam saja hanya karena yang melakukan kebaikan itu orang yang selama ini terlanjur dicaci makinya.

Biasanya, kalau sempat jawab akan saya jawab, "Besok ketemu di pengadilan Allah saja"..

Sumber : Status Facebook Alim

Thursday, September 17, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: