Bungkamnya Pegiat HAM dalam Tragedi Berdarah di Makobrimob

Oleh : Muhanto Hatta

Kita bangsa Indonesia, dalam 2 hari ini dibuat terhenyak oleh ulah Teroris. Betapa tidak, 5 orang Polisi jaga tewas tewas ditangan teroris dengan cara yg tidak berperikemanusian, dan atas kejuangannya dalam tugas, saya mengapresiasi langkah Polri yg telah menganugrahkan pahlawan anumerta kepada
Para korban yaitu; Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli serta Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Yang membuat kita lebih pilu, setelah Kematian Iptu Anumerta Yudi Rospuji S, isteri Tercinta telah melahirkan anak ke empat. Tentu saja kejadian ini sebagai sebuah cobaan yg tidak ringan buat sang Isteri, walaupun pemerintah melalui Mensos telah bertindak cepat untuk mengunjungi sekaligus memberi bantuan kepada Keluarga Korban. Tapi persoalannya bukan di sana, nyawa telah melayang dengan sangat sia sia karena di bunuh oleh gerombolan yg ada dalam binaannya.

Menurut infomasi dari paparan Menkopolhukam, seperti di lansir Detikcom, 10 Mei 2018, jam 9 05 dari Makobrimob. Mereka para Teroris telah berlaku sangat kejam kepada para Petugas, selain merampas sejata, juga menyiksa Petugas dan lalu membunuhnya. Perbuatan ini adalah perbuatan biadab dan tidak berprikemanusian.

Malah dalam kegiatan penyandraan, mereka para teroris merakit bom didalam makobrimob. Melihat langkah ini, motif mereka bukan hanya menyandera saja tapi ada motif lain yg lebih besar.
Barangkali dengan bom rakitan Mako sebagai tempat mereka di tahan akan di bikin choas. Luar biasa!

Dari selayang pandang tulisan diatas, ada yang menggelitik dari kejadian berdarah ini karena tidak bersuaranya para pejuang HAM termasuk Komnas HAM terhadap tragedi ini. Dan dimana Pak Pigai, sebagai Komisioner Komnas yg selalu berbicara miring kepada pemerintah, karena kalau pemerintah menjatuhkan jarum terus di sorot tapi pada tragedi ini suaranya BAK di telan bumi, padahal ini adalah wilayahnya yg harus di kritisi sebagai lembaga Hak Azasi Manusia. Ternyata tidak bertaring sebagai pejuang HAM, walaupun ada nyawa meregang, ada darah yg mengalir dari sebuah kekejaman, ingat mereka bukan sedang berperang, mereka sedang menjalankan tugas kemanusiannya sebagai petugas tapi di bunuh dengan cara cara yg keji.

Dengan diamnya seorang Pigai terhadap peristiwa berdarah, ssdikit banyak menimbulkan teka teki besar. Karena langkahnya di ikuti dengan penggiat suara suara nyinyir lainnya.

Demikian juga FZ yg biasa bersuara nyaring, bahkan berteriak teriak tentang masalah remeh temeh, kok diam seperti judul lagi sepi. Ayo kalau memang ada kepedulian terhadap bangsa dan negara ini, sikapi ulah dari para teroris dengan cara yg benar. Mereka telah merenggut nyawa para Petugas dengan langkahnya yg tidak berperi kemanusian.

Dalam kontek pandangan hukum, mereka sudah tidak mengenal unsur pembeda anatara masyarakat sipil atau aparat hukum, tujuannya satu, bunuh. Dan langkah langkah sadis mereka dimata HAM seperti dalam koridor pembiaran yg berada diwilayah abu abu. Barangkali berangkat dari pemikiran ini mereka seperti mendapat angin segar dalam menyikapi perbuatannya.

C. Suhadi SH MH.
Ketum, Negeriku Indonesia Jaya.

Sumber : facebook Muhanto Hatta

Friday, May 11, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: