Bunga Bank dan Money Laundry

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Jika duit yang mau kita tabung cuma 10-50 ribu Rupiah..., mungkin cukup Bank harian di pasar saja sebagai pengelolanya.

Jika duit yang kita tabung sudah ratusan ribu hingga jutaan Rupiah..., Bank konvensional bisa menjadi pilihan.

Dan jika duit kita sudah milyard an Rupiah..., kita tinggal pilih antara Bank berskala Nasional hingga Multinasional.

Bahkan..., keuntungan suku bunga yang ditawarkan bisa fleksibel dan negotiable.

Tapi..., jika duit kita sudah mencapai trilliunan rupiah..., justru pihak Bank yang akan berpikir serta mempertimbangkan untuk menerima dan mengelola dana kita.

Mulai disalurkan kemana..., hingga memastikan apakah itu adalah uang "halal" melalui prosedur KYC (Know Your Customer).

Ini sangat penting..., karena konsekwensi pembayaran jasa bunga kepada DPK (dana pihak ketiga) cukup besar..., dan institusinya jangan sampai menjadi "mesin" pencuci uang.

Jika sudah dipastikan uang tersebut benar-benar "halal"..., pihak Bank bisa menurunkan suku bunga supaya dana tersebut bisa terserap melalui fitur kredit.

Ini tentunya sudah melibatkan lintas stake holder...; mulai regulator hingga penyerap dana tersebut (user).

Dan tidak menutup kemungkinan..., dana itu digunakan oleh pemerintah sendiri sebagai user untuk proyek infrastruktur.

Jika dianalogikan..., ibaratnya negara berhutang kepada "brankasnya" sendiri.

Ini bisa terjadi..., jika tercipta trust yang tinggi terhadap pemerintah.

Lalu..., dari mana asal dana sebesar itu...?

Dana itu bisa berupa dana parkir di luar negeri..., yang pulang kampung untuk membiayai negerinya sendiri.

Sementara mereka yang gagal paham..., menganggap negara telah digadaikan kepada asing..., aseng..., asong..., oseng-oseng..., dan sebagainya.

Tapi harap dimaklumi saja..., bisa jadi itu karena keterbatasan pemahaman mereka saja.

Bagaimana jika ada uang trilliunan Rupiah itu didapatkan dengan cara "haram"....?

Misalnya mantan pejabat yang gajinya "hanya" ratusan juta..., tapi tabungannya hingga mencapai jutaan juta Rupiah...?

Jadi..., rasio antara masa jabatan dengan penghasilan sangat njomplang.

Harus disembunyikan kemana duitnya...?

Para 'Godfather' ini akan mencetak para 'Bossman'..., sebagai tempat penitipan sekaligus pengelola asetnya.

Para 'Bossman' ini menyebut tuannya sebagai 'The Shadow'..., untuk menutupi identitasnya.

Nah..., jika aset itu masih terlalu jumbo untuk dikelola para 'Bossman' itu..., maka mereka akan membentuk jaringan antar Bossman dalam skala global.

'Bossman' Indonesia akan terhubung dengan 'Bossman' di Panama.., Singapura..., London..., New York..., bahkan sampai Swiss.

Mereka kemudian membuat perusahaan cangkang..., dalam format kerahasiaan.

Mereka juga tidak akan membuka identitas 'The Shadow' di belakang mereka.

Bagi hasil yang dijanjikan bahkan melampaui suku bunga bank..., dan tentunya juga bebas pajak karena ini adalah bisnis Ultra Rahasia.

Lalu apa bentuk bisnis Ultra Rahasia itu...?

Salah satunya adalah Bisnis Perang.

Termasuk Bisnis Preman Berjubah Agama Lintas Negara...; yang merampas berbagai artefak dan kilang minyak..., yang kemudian hasilnya akan dibagi kepada para investornya.

Ya .., tangan para 'Bossman' itu sebenarnya telah berlumurany darah rakyat Irak..., Suriah..., Libya..., dan manusia dari berbagai belahan bumi lain.

Kini semua itu harus terhenti...; karena para 'Avengers' telah menggagas Perjanjian Transparansi Global yang diberlakukan sejak 2017 lalu.

Perjanjian ini telah menelanjangi alur pendanaan berbagai Bisnis Haram..., termasuk pendanaan mesin perang bernama ISIS..., Al Qaeda..., Al Nusra..., dan konco-konconya...; yang akhirnya rontok satu persatu.

'The Shadow' menjadi kelimpungan..., karena para 'Bossman' akhirnya mencari selamat sendiri-sendiri.

Aset mereka yang terparkir di luar negeri..., tidak berani mereka akui.

Padahal..., sudah
diberi kesempatan melalui Tax Amnesty.

Jelas mereka tak akan mengakui..., karena itu uang haram yang didapat dari hasil kejahatan.

Bukan hanya pencucian uang.., melainkan juga kejahatan perang dan kemanusiaan..., yang mungkin para 'Bossman' itu sendiri tak mengetahui dan menyadarinya.

Hal ini seperti cerita-cerita yang kita saksikan di film bioskop..., yang sepertinya hanya fantasi namun nyata adanya.

Rahayu

Sumber : Status facebook Buyung Kaneka Waluya

Wednesday, June 17, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: