Bung Karno Tolak Tabir Pembatas Laki dan Perempuan

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Syahdan..., pada tahun 1939 ada sebuah berita tentang Bung Karno....: ia meninggalkan sebuah rapat Muhammadiyah sebagai protes.

Bung Karno tidak setuju..., karena ada tabir yang dipasang di sana untuk membatasi tempat perempuan dengan tempat laki-laki.

Koresponden Antara waktu itu pun mewawancarainya.

Bung Karno menegaskan....: tabir tampaknya soal kecil...., soal kain yang remeh....; tapi sebenarnya itu adalah soal maha besar dan maha penting..., sebab menyangkut posisi sosial perempuan.

”Saya ulangi...: tabir adalah simbol dari perbudakan kaum perempuan....!”

Bagi Bung Karno...., tabir adalah aturan agama yang lahir dalam sejarah sosial.

Seperti halnya kolonialisme...., ”perbudakan” seperti itu bukan hasil dari sabda yang kekal.

Perbudakan itu akan berubah...., dan juga bisa diubah....; seperti halnya juga pergerakan untuk menentang kolonialisme..., yang dilakukan oleh Hatta..., Tan Malaka..., dan sebelumnya Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat.

Pergerakan menentang kolonialisme Belanda..., telah melahirkan sebuah nasionalisme yang lain....: selalu melihat ke depan.

Nasionalisme itu berkait dengan agenda modernitas..., dan islam harus di garis depan dalam hal modernitas ini.

Nilai islam sebagai obor pembaharuan yang dicanangkan Rasul..., harus benar benar menjadi rahmat bagi semesta.

Perjuangan islam adalah perjuangan kaum terpelajar..., yaitu bagaimana membebaskan indonesia dari penjajahan sistem..., serta pembebasan dari tradisi kolot..., penuh mistik..., dan taklik buta.

Penjajahan dalam konsep pemikiran dengan dalil agama dan idiologi..., yang membuat manusia malas berpikir bebas...; adalah sumber kemunduran bagi manusia.

Karena..., keistimewaan manusia adalah pada kebebasan bersikap dan berpikir.

Tuhan menciptakan manusia dengan akal..., dan manusia diberi kebebasan menentukan pilihan karena akalnya itu.

Saking bebasnya..., sorga dan neraka pun diciptakan.

Silahkan pilih...; karena kalaulah Tuhan ingin semua seperti kehendakNya..., tentu akan mudah sekali bagiNya..., karena Tuhan itu Maha Kuasa.

Tapi..., adakah keimanan yang sejati dengan pemaksaan....?

Adakah kehidupan dengan pemaksaan....?

Dengan taklik....?

Karenanya... hanya orang bego yang mau diatur oleh pemikiran orang lain..., dan hidup mendera dalam kebahagian semu di bawah status pengekor.

Dia hanyalah kunang-kunang..., bukan lebah.

Soekarno sadar..., sebetulnya sebelum Belanda atau asing menjajah bangsa Indonesia..., bangsanya sudah terjajah lebih dulu oleh tradisi agama dan budaya yang memenjarakan akal.

Kekuatan pikiran terabaikan sudah.

Memahami kekuatan pikiran ini memang tak jauh dari hal pertama..., bahwa kita menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan.

Kedua..., kita bekerja sama dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa yang kita kehendaki.

Artinya..., Allah itu sangat dekat dengan kita.

Bahkan kalangan ahli tasawuf mengajarkan..., bahwa manusia harus memikirkan diri sebagai manifestasi Tuhan.

God as me..., Tuhan sebagaimana saya.

Sebagaimana paham wahdatul wujud..., bahwa kehendak seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan.

Pada tingkat tertentu..., menurut pandangan itu..., dalam pengalaman ruhani yang sangat tinggi..., yakni paling ujung dari seluruh perjalanan sufi..., manusia tidak lagi bisa membedakan mana dirinya dan mana Tuhan.

Pada tahap ini..., kemampuan akal tak lagi berfungsi untuk membedakan antara khalik dan makhluk..., antara Tuhan dan saya.

Karena berbagai peristiwa di alam ini tak lepas dari hasil yang dibentuk oleh pemikiran kita..., maka kita harus bertanggungjawab atas berbagai peristiwa di sekitar kita.

Think twice before you speak..., because your words and influence will plant the seed of either success or failure in the mind of another.

Baik dan buruk hasilnya..., adalah pilihan cara kita berpikir.

Andai ada orang lain berpikir negatif..., pesimis..., maka hindarilah karena kalau buruk yang terjadi..., maka kitapun ikut bertanggungjawab.

Nampaknya di era reformasi kini..., tradisi lama itu ingin dihidupkan lagi oleh sebagian orang di mana nasionalisme Indonesia mengandung pesimisme.

Sadarlah..., jaman terus bergerak ke depan.

Tak ada yang bisa membendung waktu bergerak.

Dan kemuliaan manusia semakin mendapat tempat bukan karena dokrin atau dalil atau tafsir..., tapi karena manusia semakin punya kemampuan akal untuk mencerna dan memahami Firman Tuhan.

Islam itu adalah rahmat bagi alam semesta..., bukan teror pemikiran atau senjata yang memaksa semua orang punya persepsi yang sama..., dan akhirnya melemahkan kekuatan pikiran.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Saturday, January 18, 2020 - 15:00
Kategori Rubrik: