Bung Karno di Antara Muhammadiyah dan NU

Oleh : Haris el-Mahdi

Dalam pidato di depan peserta peringatan 50 tahun Muhammadiyah, 26 November 1962, Bung Karno berkisah tentang perjumpaannya dengan KH. Ahmad Dahlan. Bung Karno bertutur :

“Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tablig mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragam Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orang tua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

Tabligh itu membuat Bung Karno tercerahkan,. terutama berkaitan dengan pemahaman atas Islam yang berpihak pada kaum miskin (teokigi Al Ma’un) dan dorongan untuk melakukan ijtihad. Pun, sejak usia 15 tahun, Bung Karno kintil kemanapun KH. Ahmad Dahlan menggelar Tabligh.

Dan, masih dalam pidato itu, Bung Karno mengucapkan kata-kata yang melegenda di kalangan Muhammadiyah :

“Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggauta Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggautaan Muhammadiyah.”

Pertautan antara Bung Karno dan Muhammadiyah semakin erat ketika Bung Karno menjadi pengurus Muhammadiyah Bengkulu dan bahkan mempersunting Fatmawati, putri seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Meski demikian, Bung Karno tidak hanya mempunyai hubungan erat dengan Muhammadiyah, beliau juga membangun relasi yang intens dengan kyai-kyai NU. Bahkan, Bung Karno mengakui bahwa ia sangat mencintai NU.

Dalam muktamar NU ke 23, 28 Desember 1962, Bung Karno berpidato :

“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!”

Kecintaan Bung Karno kepada NU tidaklah berlebihan. Selama berjuang merebut kemerdekaan dan masa mempertahankan kemerdekaan, aliansi antara Bung Karno dan NU sangat dekat. Dalam bidang politik, misalnya, aliansi bung Karno dan NU terekam dalam NASAKOM, kepanjangan dari Nasionalis (PNI), Agama (NU), dan Komunis (PKI).

Ketika Muhammadiyah lebih condong pada Masyumi, memilih untuk mengambil jalan lain, NU ikut jalan Bung Karno. Pada masa-masa itu, meski berseberangan dengan Muhammadiyah, Bung Karno tetap meminta agar namanya tidak dicoret dari keanggotaan Muhammadiyah.

Dalam pidato pada muktamar NU ke 23, Bung Karno menarasikan salah satu peran tokoh NU :

“ Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara”

Dalam pidato itu, Bung Karno menegaskan bahwa NU adalah peneguh aliansi antara agama, nasionalisme, dan sosialisme.

Dalam pangkuan Muhammadiyah, Bung Karno menemukan Islam. Pun, Bung Karno pernah berseloroh :”saya bukan santri tetapi Islam sejati.

Dalam pelukan kyai-kyai NU, Bung Karno menemukan keteduhan dan teman setia dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. NU, terutama para Kyai-kyai, adalah sumber inspirasi saat Bung Karno butuh nasehat.

Bung Karno adalah orang Muhammadiyah yang sekaligus warga nahdiyyin. Ia memang bukan santri tapi dekat dengan kyai.**

Sumber : islami.co

Wednesday, June 7, 2017 - 12:15
Kategori Rubrik: