Bung Karno dan Cita Rasa Seninya

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Pada tahun 1964, Presiden Sukarno mengoleksi 1.800 lukisan, 400 patung dan keramik. Beliau ditasbihkan sebagai presiden dengan koleksi senirupa terbanyak di muka bumi. Setidaknya menurut Agus Dermawan T, kritikus senirupa, yang pernah mendata benda seni istana baik yang di Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta hingga istana Tampaksiring - Bali.

Pada zaman Bung Karno lah dikenal pelukis tetap Istana yaitu Dullah dan Lee Man Fong. Meski perhatian Si Bung sendiri tak terpaku pada karya karya dua seniman pelukis pilihannya itu.

Alkisah, pada suatu hari Bung Karno jatuh cinta pada lukisan laki laki yang sedang memanah karya Henk Ngantung. "Lukisan bagus. Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus, terus, dan terus bergerak maju. 'Paulatim longius itur' (sebentar lagi kita pergi)!". Begitu komentar spontan Bung Karno.

Sukarno menyampaikan keinginannya membeli lukisan itu. Sayangnya lukisan bergambar orang memanah itu belum rampung - masih dalam proses penyelesian. Diperlukan model untuk menyelesaikan lukisan itu.

Tanpa ragu Sukarno menawarkan diri. "Aku, Sukarno akan jadi model," kata Si Bung Besar itu.

Henk Ngantung, yang kemudian jadi Gubernur Jakarta, tak bisa menolak. Dia menyelesaikan lukisannya dalam waktu kurang lebih 30 menit. Setelah selesai, Sukarno memasukkan lukisan itu langsung ke mobil dan membawa pulang ke rumahnya di Pengangsaan Timur 56, Jakarta.

BUNG KARNO juga menggemari musik dan tari sehingga akrab dengan Mus Mualim (alm), musisi jazz, suami Titiek Puspa dan bersahabat dengan seniman Bali Ni Reneng dan Ni Polok, legenda penari Bali pada zamannya.

Jauh sebelum menjadi presiden, pada masa pembuangannya di Ende, Flores, 1936, Sukarno muda mendirikan grup sandiwara, menulis naskah menyutradarai dan memementaskan. Dia juga melukis dengan cat cair.

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta seluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu.

Naskah-naskah itu seakan lenyap di tengah kemashuran Putra Sang Fajar sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Republik Indonesia.

Mereka yang lahir 1950 hingga 1970 mengenali tulisan tangan khas Sukarno dan menirunya. Menjadi trendsetter. Tak ada presiden yang memberikan pengaruh begitu kuat kepada rakyatnya - bahkan hingga caranya menulis tangan.

Saya adalah generasi terakhir yang wajib belajar menulis halus tebal tipis menggunkan dawat (tinta) ala Bung Karno.

Selain berwajah ganteng, Bung Karno juga perayu ulung. Surat surat cintanya membuat para wanita 'klepek klepek'.

Siapa yang lupa pada kegemaran Bung Karno menari lenso?

Martin Aleida, wartawan koran 'Harian Rakyat' yang biasa meliput kegiatan istana menyatakan, ada suatu kebiasaan di Istana saban kali Bung Karno menyampaikan wejangannya yakni selalu menjadikan pertunjukan kesenian sebagai acara penutup. Dan di sanalah Bung Karno kerap larut dalam tarian lenso.

TAK HANYA menggandrungi seni kontemporer, Bung Karno juga cinta musik tradisi dn leluhurnya. Wayang Kulit. Dia mengagumi tokoh Bima dan punya dalang kesayangan yaitu Ki Gitosewoko dari Blitar.

Meski sudah jadi presiden, Bung Karno tak sekadar penikmat pertunjukan. Dia ikut campur dalam urusan artistik. Lima hari sebelum pagelaran, Gitosewoko sudah berada di Istana dan diajak membahas lakon yang akan dipentaskan . Bahkan sanggitan atau penggarapannya di panggung.

“Gatotkaca tidak boleh sering memukul. Usahakan sekali memukul lawannya tumbang. Lalu Arjuna lebih tepat jika kau bawakan dengan laras (nada, red) dua atau lima, jadi lebih terkesan jantan. Suaranya harus kau tegaskan! Bukankah ksatria besar macam Arjuna, tidak tepat bila memiliki suara klemak-klemek, tidak bertenaga?” begitu pesannya.

Jelang malam pagelaran, Bung Karno kembali memeriksa sendiri tatanan instrumen gamelan. Gamelan diminta di atas panggung sejajar dengan kursi penonton. Lampu penerangan tidak boleh lebih dari 250 watt. Instrumen gong tidak boleh menutupi penglihatan penonton. Dan terakhir, para pesinden harus berada di belakang dalang.

Sukarno pun punya sinden favorit yaitu Nyi Tjondrolukito dari Yogyakarta. Nyi Tjondrolukito kelak dikenal sebagai 'Diva' di antara Sinden dan menjadi pasangan manggung dalang Ki Nartosabdo, tokoh "gagrag anyar" (new wave) di kalangan dalang wayang kulit purwa. Keduanya menjadi legenda.

MENURUT Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, ada dua ribu lukisan koleksi Soekarno yang ada di Istana Negara. Mikke mengetahui jumlah persis koleksi benda seni di Istana Negara, sebab sejak tahun 2010 dia ditunjuk menjadi konsultan kurator Istana.

"Dilihat dari jumlah koleksinya, dia (Soekarno) terbesar di dunia. Tidak ada pribadi berkuasa yang memiliki koleksi sebanyak Soekarno, koleksi lukisannya 2.000 pada tahun itu ya," katanya.

Saat mengakhiri tugasnya mendata semua koleksi seni di istana, Agus Dermawan T., menyampaikan pernyatan yang mengejutkan :

“Kami bersama pihak rumah tangga istana pernah menaksir nilai benda seni tersebut, " ujar kritikus seni, Agus Dermawan T.

"Hasilnya adalah sebesar dua triliun untuk 16 ribu barang seni yang ada di istana."

Menurut Guntur Soekarno, ada 2.000 lukisan milik Bung Karno pribadi yang merupakan karya dari 250 pelukis.

Tapi tak ada satu pun benda seni berharga yang dibawa Bung Karno saat dipaksa meninggalkan istana setelah kejatuhannya.

Tokoh Proklamator RI itu hanya diberi waktu 24 jam untuk berkemas kemas.

Sebelumnya ada surat dari Jenderal Soeharto, bahwa Bung Karno harus meninggalkan Istana Merdeka sebelum 16 Agustus 1967, sebagaimana ditulis Roso Daras dalam bukunya, "Total Bung Karno".

Benda berharga satu satunya yang dibawa adalah bendera Sang Saka Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati

Menurut Bondan Winarno, dalam buku 'Berkibarlah Benderaku-Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka' Soekarno menyembunyikan bendera merah putih saat lengser sebagai Presiden RI dan digantikan oleh Soeharto.

Bung Karno membawa benda pusaka itu dari Istana Negara, dibungkus dengan kertas koran. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Sunday, June 28, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: