Bunama dan Panama Rebutan Papers

Oleh: Abhumi

 
Baru saja dunia dikejutkan oleh bocoran ICIJ (International Consortium of Investigative Journalist), dimana sejak awal 2015 mengeluarkan berkas “Panama Papers”, sekumpulan data sebesar 2,6 terabyte, yang digarap lebih dari 400 jurnalist dari 100 organisasi media dari 80 negara.

2,6 tera dipastikan lebih besar dari data computer personal kita. Bahkan mungkin lebih besar dari sebuah datacenter, bahkan selevel server mainframe korporasi besar sekalipun dipastikan akan ngeden bila harus memproses, karena membutuhkan waktu yang sangat lama.

2,6 tera tak pantas disebut bocor, sebab kuota sebesar itu cukup untuk menyimpan data sinetron "Tersanjung" secara lengkap plus "Tukang Bubur Naik Haji", bahkan hingga seluruh sinetron yang ada di Indonesia, karenanya tak heran ICIJ membutuhkan bantuan journalist mancanegara. 

Semenjak pertengahan 2015, deputi direktur ICIJ, Marina Walker Guevara, menghubungi Tempo. Membuka tabir Panama Papers. Ada 4 nama journalist Tempo yang tercantum sebagai bagian dari ratusan jurnalist pengunyah data ICIJ, yakni Wahyu Dhyatmika, Philipus Parera, Agoeng Wijaya dan Mustafa Silalahi.

Persis seperti ketika Citizen Four (Snowden) berkomunikasi dengan Laura Poitras untuk membongkar rahasia NSA, komunikasi antara journalist Tempo dengan ICIJ juga dilakukan lewat jalur yang terenkripsi berlapis untuk menjaga kerahasiaan. Wooow..

Lalu mengapa Tempo yang dipilih, padahal sudah diketahui secara luas, Tempo termasuk bagian bonus dalam nota pembelian ketika Ahok membeli TNI, KPK, dan Sarumpaet. Sudah pastilah muncul nama salah satu pesaing Ahok dibocoran tersebut yang berinitial SSU (Sasuki Sjahaja Uurnama) 

Menurut wangsit yang didapat, ICIJ sebetulnya sudah berusaha menghubungi media portalpiyungan, posmetro, voaislam dan nbcindonesia, tapi mereka tidak mencantumkan alamat lengkap, sehingga Marina WG tidak berhasil menemukan satu nama journalist pun disitu. 

Situs-situs tersebut sepertinya dikelola bagaikan Konohagakure. Journalist, editor, dan admin adalah ninja yang mahir menggunakan ilmu kanuragan Halimun dan Meisaigakure no Jutsu. Jadi dengan berat hati, Marina WG terpaksa bekerja sama dengan Tempo yang memiliki segudang wartawan yang bisa dibanggakan.

Perlu diingat ICIJ mungkin saja sudah dibeli Ahok, dan 400 journalist dari 100 media di 80 negara semua antek Ahok juga yang didanai taipan-taipannya itu.

Inilah tragedi kebocoran terbesar sepanjang sejarah. Waktu pilpres 2014 lalu, ketika om Prabowo bicara kebocoran, pasti Panama Papers yang beliau maksudkan. Jadi bukan hanya sekedar iklan cat tembok.. bocor.. bocor.. bocor..

Ah bisa jadi ini salah Jokowi lagi, atau Ahok yang sialan.? Yang pasti memperkaya diri tanpa pajak, seperti berenang di bak mandi agar tak terlihat orang lain, dan tak membutuhkan air bergejolak 

 
(Sumber: Facebook Abhumi)
Saturday, April 9, 2016 - 14:00
Kategori Rubrik: