Bumi Masih Hijau

Oleh: Tomi Lebang

Vaksin-vaksin telah dikirim ke 34 provinsi, menunggu otorisasi BPOM, lebih aman mana vaksin Sinovac atau Pfizer atau AstraZeneca atau Moderna, apakah perlu PCR dulu sebelum divaksin, dan seterusnya. 

Semenjak dinihari, pada hari-hari ini, semua isu tentang vaksin berseliweran, disebar dalam berbagai medium terutama grup-grup WhatsApp, berkelindan dengan kabar-kabar muram dan duka tentang kawan yang terjangkit atau nama yang berpulang.

 

Untunglah, di koleksi ikon favorit di telepon genggam saya -- dan saya kira kita semua -- sudah tersedia aneka desain ucapan “innalillahi wa inna ilaihi rajiun” atau “requiescat in pace” yang tinggal ditambahkan ke deretan ucapan-ucapan duka menyusul kawan-kawan lain.

Lelah? Sangat melelahkan. Apalagi nuansa percakapan tentang pandemi Covid-19 ini masih juga beririsan dengan kesukaan atau ketidaksukaan kepada otoritas tertinggi kita. Optimisme dan pesimisme masih bergantung kepada Anda pendukung Jokowi atau tidak. Nuansanya terasa tapi tak terucapkan.

Sepuluh bulan sudah dalam pandemi dan tahun sudah berganti, tapi kita belum beranjak dari keterbelahan itu. Padahal sesungguhnya urusan kemarin sudah berakhir ketika para penyebabnya – tokoh-tokoh yang bersaing dengan banyak pengikut – sudah jadi satu kawanan, sudah bersepakat untuk jadi atasan dan bawahan.

Bagaimana tidak lelah? Di Indonesia sudah lebih 772.000 kasus positif Covid-19 dengan 22.911 kematian sampai hari ini. Yang sembuh 639.103. Selebihnya, dalam perawatan atau sedang isolasi mandiri. Dan di luar itu, tanpa kita ketahui, tentu tak sedikit mereka yang tengah membawa virus dalam tubuhnya tapi tak bergejala dan tetap berkeliaran.

Indonesia lelah, dunia juga teramat lelah. Menurut hitungan worldometers, sampai hari ini, sudah 86,1 juta penduduk bumi yang terjangkit Covid-19 dengan 1,86 juta kematian. Dan angkanya terus bertambah. Amerika Serikat menjadi tempat virus menyebar paling banyak dengan 21,1 juta kasus dan kematian sampai 360.078 jiwa! Kematian karena Covid di India sudah 150.000 jiwa, di Inggris 75.024 jiwa, dan seterusnya.

Gelombang pandemi tak surut-surut, bahkan seolah-olah menjadikan momentum pergantian tahun untuk membiak lebih drastis. 

Kawan saya Akbar Faizal tengah mengunjungi putrinya yang bersekolah di Inggris pada akhir tahun kemarin, ketika Perdana Menteri Boris Johnson mengumumkan penutupan (lockdown) negara itu menyusul ditemukannya varian baru Covid-19 dan angka positif yang kini di kisaran 50.000 kasus per hari. 

Kini, Akbar hanya bisa menanti, seraya berusaha menikmati penantiannya dengan mengayuh sepeda di pusat kota London, atau mencoba memasak kapurung bersama anak istrinya, menanti jalur kepulangan terbuka lagi untuk kembali ke Tanah Air.

Lalu apa yang dinanti-nantikan oleh dunia? Harapan satu-satunya ya vaksin! Sudah sekian bulan para ilmuwan dunia berpacu dengan waktu dari pojok-pojok laboratorium di berbagai belahan bumi yang sepi, dari Tiongkok, Amerika Serikat, Rusia, Australia, Israel, sampai Kanada, berkutat dengan spesimen, reagen, formula obat, dll demi vaksin penyelamat umat manusia yang tengah panik ini. 

Dibantu teknologi mutakhir, superkomputer untuk simulasi cepat, mereka bisa meringkas waktu untuk riset dan uji klinis, dari biasanya bertahun-tahun dan kini dalam hitungan bulan.

Dan inilah hasilnya. Vaksin-vaksin telah tiba di tanah air kita. Kita bukan penemunya, tapi dengan pendekatan jauh-jauh hari, Indonesia mendapat akses ke negara yang membuatnya. Dengan itulah, harapan kita untuk keluar dari kelindan pandemi itu tetap terjaga.

Hari-hari ini, sembari kita tetap berdiskusi, bertengkar, menebar pesimisme dan optimisme tentang kemampuan negara menangani, vaksin-vaksin mulai disebar ke seluruh provinsi. Apapun sikap Anda, kehidupan yang ceria di negeri ini harus kembali dan berlanjut seperti sediakala sebelum pagebluk Covid-19 datang.

Bumi masih hijau terlihat dari angkasa. Kehidupan masih bergulir. Manusia jangan sampai punah karena pandemi sebelum kiamat tiba. Dan semua itu karena ada harapan yang datang dari orang-orang yang tak lelah mencari jalan keluar. Ingat kata mendiang Stephen Hawking, “masih dibutuhkan seribu juta juta juta juta tahun bagi bumi untuk (berputar) bertabrakan dengan matahari, jadi tak ada yang mendesak untuk dikuatirkan”.

Selamat siang kawan-kawan. Tetaplah sehat walau kau tak berguna.

(Sumber: facebook Tomi Lebang)

Wednesday, January 6, 2021 - 14:30
Kategori Rubrik: