Bulan Rokok Nasional

Oleh: Nurul Indra
 

Kalo dipikir-pikir, bulan Agustus ini cocok diperingati sebagai bulan kemerdekaan plus bulan rokok nasional. Hari dan tanggalnya silahkan tentukan sendiri. Mau dibarengin sama hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus juga boleh. Hal yang pasti, beberapa hari ini "dinding yahudi" ini dipenuhi dengan status tentang rokok.

Rokok, akhirnya jadi trending topik juga di media sosial. Upaya kampanye yang keren. Rokok makin populer. Kira-kira popularitasnya sudah menyaingi popularitas Jokowi dan Ahok belum yah? Nah kesempatan bagus nih buat PKS atau Gerindra yang masih bingung cari cagub yang popularitasnya menyaingi Ahok 

Rokok sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Bahkan mungkin ideologi. Fanatisme rokok mulai bermunculan. Para perokok tentunya pro sama harga rokok murah, dan segala kemudahan untuk merokok. Mereka yang tidak merokok dengan alasan kesehatan maupun pencitraan, bersorak gembira dengan rencana dimahalkannya harga rokok. Bukan sekedar naik yah, sengaja dimahalkan.

Aku sih bukan perokok. Alasannya kesehatan. Suer, aku alergi asap soalnya. Kena asap apa saja langsung batuk. Jaman kuliah aku pernah ngerokok. Sekedar penasaran, apa enaknya merokok, kok sampai bikin kecanduan. Lalubaku sedih dan bingung, 2 minggu ngerokok, mencoba cari nikmatnya tapi nggak dapet. Biasa aja. Akupun putus asa, nyerah, trus berhenti merokok.

Meski aku bukan perokok, aku nggak fanatik sama aliran pro maupun kontra rokok. Silahkan saja yakini keyakinan masing-masing soal rokok ini. Nggak usah saling tuding dan menyesatkan. Kayak debat agama saja. Kita sudah cukup pusing dengan ulah para bigot yang dikit-dikit bikang sesat, kafir, liberal.

Beberapa bulan lalu, ketika bertepatan dengan hari tembakau sedunia, aku pernah diskusi dengan seseorang tentang rokok dan tembakau ini. Intinya, rokok memang merugikan kesehatan untuk perokok itu sendiri. Tetapi soal dampak bagi perokok pasif, kurang lebih sama dengan dampak polusi asap pada umumnya. Bahwa perokok pasif sama risikonya dengan perokok aktif itu hanyalah propaganda berlebihan dari pihak kontra rokok yang fanatik.

Sebaiknya, baik pro rokok maupun yang kontra akur-akur saja deh. Saling menghargai saja. Aku sendiri bingung untuk menentukan sikap mau pro yang mana. Takutnya sih para penganut aliran rokok yang fanatik ini nggak ada bedanya dengan hater-lover jokowi/ahok, dan hater-lover khilafah yang fanatik. Beda dikit main buli.

Harga rokok dimahalkan. Kalau diprofiling sih. seharusnya banyak pejuang khilafah yang mendukung. Secara mereka banyak yang kontra sama rokok. Untuk itu, ngga ada yang perlu dikhawatirkan. FPI dan HTI gak bakal demo tolak.harga mahal rokok sih. Aman. Ya kan?

 

(Sumber: Status Facebook Nurul Indra)

Sunday, August 21, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: