Bukunya Bakul Abab

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

Kemarin, secara tidak sengaja, saya menemukan buku ini di meja baca anak-anak PLD di kantor. Saya belum pernah baca buku FS, apalagi membelinya. Tidak usah saya tutup-tutupi, ada tembok ideologis yang membuat saya tidak menemukan satu alasan pun untuk membacanya. Apalagi, secara akademik, saya bukan peminat isu khilafah.

Saat buku itu tergeletak di meja, saya penasaran saja. Bukunya kelihatan tebal. Judulnya keminggris (ya iyalah, wong isinya pakai bahasa Indonesia gitu). Kalau Turis Belanda di Bali yang tidak kenal Felix dan membeli buku ini karena sampulnya, dia bisa pingsan setelah segel dibuka isinya bahasa Indonesia semua.

Ketebalan buku itu juga menipu. Ternyata yang tebal adalah kertasnya. Nah lo! Buku ini total hanya 159 halaman. Secara fisik, seperti lebih tebal dari buku Masjid Ramah Difabel yang hampir 200 halaman.

Penipuan terkait ketebalan buku juga terjadi di dalam bukunya. Fontnya gedhe, spasinya mungkin 2, dan 30-40% per halaman isinya gambar ilustrasi yang entah ngambil dari mana.

Bagian paling mengecewakan sebenarnya adalah kualitas bahasa buku itu. Saya tidak percaya kalau buku-buku Felix bisa laris manis jika mengacu ke buku ini. Kapasitas editornya recehan. Buktinya, dia membiarkan kata "anda" (sapaan) di buku tanpa huruf kapital. Satu contoh saja ya! Kalau kebanyakan saya nanti malah yang jadi editor.

Dengan segala 'mark-up' kata, jumlah halaman, ketebalan kertas, plus isinya yang gitu-gitu saja... Maka saya menduga demikian pula isu khilafah yang dia usung. Jargon hiperbolik kosong isi yang dijual dengan cover bagus berbahasa 'kemarab', tetapi koq ya ada yang membeli. Tamat!

Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin

Wednesday, October 9, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: