Buku, Era Digital, Social Media dan Virus Dusta

Oleh: Najwa Shihab

 

Saya ingin membuka kesempatan ini dengan pertanyaan: di zaman digital yang serba cepat ini, masih perlukah kita membaca buku? Bukankah informasi bisa didapatkan lewat sumber-sumber lain yang bukan buku? Kita tidak harus membaca buku lagi, kan, untuk menjadi manusia yang melek informasi? Media sosial hingga grup-grup percakapan di ponsel bukankah sudah lebih dari cukup untuk memasok informasi terbaru dari negara paling jauh sekali pun?

Saya tidak mengatakan bahwa dulu tidak ada hoax. Hanya saja, menurut saya, banjir bandang hoax hanya mungkin terjadi di era digital. Inilah simalakama yang sama-sama sedang kita hadapi saat ini.

 

 

Di satu sisi, era digital membuat informasi tidak mungkin lagi ditutup-tutupi, dikendalikan atau disensor oleh rezim. Hanya rezim yang benar-benar totaliter dan tertutup macam Korea Utara saja yang mungkin masih bisa mengendalikan informasi. Akan tetapi, secara umum, kita bisa mengatakan bahwa sudah mustahil lagi sekarang penguasa mengendalikan informasi.

Demokratisasi informasi inilah yang merupakan anugerah terbesar dari teknologi digital. Siapa pun itu, selama memiliki akses internet yang cukup, dan punya kehendak kuat untuk belajar, seseorang yang hanya mencicipi sekolah hingga bangku SMP sekali pun bisa saja menjadi otodidak yang brilian. Buku-buku yang dulu dilarang, bahkan yang surat pelarangannya masih belum dicabut hingga hari ini, sudah bisa dijangkau melalui mesin pencari dengan menggunakan kata-kata kunci yang tepat.

Sayangnya, demokratisasi informasi ini berbarengan dengan melubernya informasi-informasi instan, sepotong-potong, dan tergesa-gesa. Kecepatan seakan menjadi hukum besi dunia informasi di era digital. Semua berlomba menjadi yang tercepat. Jurnalisme digital, kendati tetap dikelola melalui ruang redaksi yang dilengkapi para editor, tetap saja ikut hanyut dalam perlombaan kecepatan ini. Berita tayang secepat-cepatnya, pembaharuan berita tayang dalam berita yang terpisah, jika pun ada konfirmasi dan klarifikasi seringnya tetap saja tayang dalam berita yang terpisah.

“Sepotong-sepotong”, “fragmentaris”, itulah kata kunci kedua setelah “kecepatan” dalam dunia informasi di era digital sekarang. Sulit untuk mendapatkan laporan yang utuh dan dalam, serta jernih menjelaskan asal-usul, duduk perkara, atawa konteks sebuah kejadian maupun fenomena.

Menjadi semakin pelik setelah teknologi juga menemukan media sosial. Media massa yang sudah terhanyut dalam ritme yang cepat dan gaya yang fragmentaris, kawin mawin dengan media sosial yang semakin memperkuat aspek kecepatan dan fragmentaris itu. Media sosial inilah yang membuat sebuah media bisa sangat kesulitan memberitakan sesuatu secara adil dan jernih. Media sosial memungkinkan naskah-naskah disebar dan menjadi viral berdasarkan preferensi ideologi para penggunanya. Berita yang berpihak pada A akan disebar oleh X, berita yang berpihak pada B akan disebar oleh Y.

Dan jangan lupa, media sosial bukan hanya sanggup menyebarkan konten-konten yang dibuat media massa, melainkan sanggup menghasilkan informasi atau konten itu sendiri. Dari sisi ini, tidak ada lagi bedanya media massa dan media sosial: keduanya sama-sama produsen informasi.

Duduk perkara seperti itulah yang membuat saya berpikir, seperti sudah saya singgung di awal, bahwa banjir bandang hoax hanya mungkin terjadi di era digital.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa membaca buku bisa menyelamatkan kita dari hoax. Sama sekali tidak begitu maksud saya. Dengan berat hati mesti kita akui, buku bukanlah panacea dari segala persoalan, termasuk problem banjir bandang hoax. Seorang pembaca buku pun sangat mungkin bisa dimakan oleh hoax.

Bahkan jurnal akademik prestisius seperti Jurnal Social Text, yang disunting oleh pemikir sekelas Frederic Jameson, bisa dibobol oleh hoax. Pada 1996, seorang fisikawan bernama Alan Sokal mengirim paper berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity”. Jurnal Social Text memuatnya. Beberapa pekan kemudian, Alan Sokal menulis pengakuan mengejutkan: paper yang ia tulis sebenarnya berisi hoax. Sokal sengaja melakukan hal itu untuk menguji seberapa tangguh prosedur akademik di Amerika Serikat memeriksa informasi.

Hoax Alan Sokal itu memperlihatkan satu hal: bahkan para akademisi, para ilmuwan, yang berpengalaman sekali pun, tidak kebal dari informasi yang salah dan palsu. Apalagi kita-kita ini? Apalagi masyarakat awam? Apalagi orang-orang yang tidak mempunyai daya pikir yang kritis?

Buku, sekali lagi, bukanlah obat mujarab. Akan tetapi, saya selalu percaya, dan masih percaya hingga hari ini, bahwa membaca buku adalah salah satu metode yang bagus untuk melatih cara berpikir yang tidak sepotong-sepotong. Membaca buku adalah perjalanan panjang yang memaksa para pembaca menunda kesimpulan, tidak tergesa-gesa menghakimi. Baris demi baris, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, bab demi bab harus dilalui lebih dulu. Seorang pembaca buku yang baik akan berhati-hati untuk menyimpulkan sebelum ia benar-benar menamatkan halaman terakhir, hingga baris pamungkas.

Seiring bertambahnya jam terbang membaca buku, seseorang akan makin terlatih berhati-hati dengan informasi. Membaca informasi tidak lagi menjadi aktivitas dua arah antara si pembaca dengan teks yang dibacanya, melainkan juga dengan semesta informasi yang sudah terakumulasi di kepalanya. Membaca bagi orang seperti ini tidak lagi semata aktifitas visual melihat huruf-huruf yang ada di depannya, tapi juga aktifitas non-visual yang melibatkan teks yang tak tampak, invisible text, yaitu pengalamannya dengan dunia dan kehidupan, juga dengan teks-teks lain yang pernah dibaca sebelumnya.

Dari sinilah seorang penerima informasi tidak akan menjadi penerima yang pasif, melainkan dapat bertransformasi menjadi pembuat makna yang mudah-mudahan tidak sia-sia.

(Najwa Shihab
Duta Baca Indonesia)

Sunday, October 22, 2017 - 21:00
Kategori Rubrik: