Buku dan Refleksi Kehidupan

Ilustrasi

Oleh : Muhdhor Ali Abu Dirghom

"Untuk apa beli buku banyak-banyak? Toh cuma ditumpuk di rak dan tak dibaca"

Anda pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu? Atau mungkin justru anda yg menanyakan itu kepada kolega atau sahabat anda yg gemar mengoleksi buku? Atau mungkin anda pernah menanyakannya kepada diri anda sendiri?

Pada akhir tahun 1384 H, Syaikh 'Abdul Fattāh Abū Ghuddah rahimahullah berkesempatan mengunjungi Madinah untuk kedua kalinya dalam rangkaian perjalanan haji. Pada saat itu, beliau baru saja menerbitkan salah satu buku yg telah beliau tahqīq lengkap dengan catatan & komentar sarat faidah. Buku tersebut adalah "al-Ajwibah al-Fādhilah Li al-As`ilah al-'Asyarah al-Kāmilah" karya al-'Allāmah 'Abdul Hayy al-Laknawī al-Hindī rahimahullah.

Dalam perjalanan ke Madinah itu, beliau membawa serta beberapa eksemplar buku tersebut, dengan maksud menghadiahkannya kepada para gurunya yg bermukim di sana.

Di antara mereka adalah al-'Allāmah Muhammad Badr 'Ālam Meerthi al-Hindī rahimahullah, seorang ulama besar dalam bidang hadis dan fikih, yg pada waktu itu sedang menderita sakit parah dan harus terbaring di tempat tidurnya sepanjang hari.

Ketika Syaikh Abū Ghuddah menghadiahkan buku tadi kepada gurunya tersebut, sang guru mengungkapkan kegembiraan dan pujiannya kepada sang murid, sembari mengatakan bahwa sebenarnya beliau telah membeli buku itu sejak muncul di toko-toko buku di Madinah.

Namun sayangnya, beliau belum sempat membacanya karena sakit parah yg memaksa Syaikh untuk tidak banyak melakukan aktifitas belajar dan mengajar. Beliau tetap membelinya meskipun akhirnya tak sempat membacanya, karena menurutnya, "Aku membelinya karena ingin mewariskan buku-buku keilmuan kepada anak-anakku dan keluargaku. Menurutku itu adalah warisan yg jauh lebih berharga daripada harta benda".

Syaikh Abū Ghuddah mengomentari kisah yg beliau ceritakan ini dengan mengatakan, "Ucapan beliau tersebut menjadi pelajaran yg teramat berharga untukku yg aku petik manfaatnya". Rahimahumallah rahmatan waasi'ah, Syaikh Muhammad Badr 'Ālam wafat pada tahun berikutnya yaitu tahun 1385 H, sedangkan Syaikh Abū Ghuddah wafat pada tahun 1417 H.

Jadi, masihkah ragu untuk membeli dan mengkonsumsi buku? Masihkah tega hanya fotokopi beberapa halaman saja untuk keperluan presentasi dan berakhir di tempat sampah atau mungkin di tempat "pertimbangan"? Sementara paket data selalu full, gadget selalu tipe ter-update, socmed senantiasa bertabur cekrak-cekrek nongkrong makan minum di kafe lengkap dengan kepsyen ala-ala jaman now...

Bismillah.....

Sumber : Status Facebook Muhdhor Ali Abu Dirghom

Sunday, December 24, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: