Buku dan Istri

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Hubungan kita dengan buku itu harusnya kayak pasangan suami istri ideal. Tiap malam tidur seranjang, bareng dan kelonan. Pagi berangkat kerja cipika-cipiki, sore pulang cipika-cipiki lagi. Mesra, hangat dan dekat.

Maksudnya buku itu musti sering-sering dibuka dan dibaca. Jangan cuma disimpan doang.

Bahkan meski sebutannya 'istri simpanan', tapi dalam kenyataannya tetap rutin ketemuan, meski diam-diam. Buktinya hamil dan anaknya brojal brojol terus. Disimpan sih, tapi rajin dikunjungi.

Namun dalam kenyataannya, seringkali hubungan kita dan buku ibarat sepasang suami istri, tapi hidupnya terpisah jarak karena tinggal di lain kota. LDR -an istilahnya.

Dibilang suami ya suami sih, tapi jarang ketemu. Dibilang istri ya istri sih, tapi gak bisa dibelai. Cinta sih cinta, sayang sih sayang, tapi kenyataannya mereka kayak hidup sendiri-sendiri, tidak saling menemani.

Kita cinta buku sih, tapi jarang dibaca. Tersimpan rapi di rak buku. Saking rapinya, sampai kalau dicari malah nggak ketemu.

Yang agak parah teman saya. Dia ngakunya cinta buku. Makanya tiap saya menerbitkan buku baru, selalu minta dihadiahkan buku, kadang sambil maksa. Terpaksa saya hadiahkan. Dia bilang buat koleksi.

Eh, kapan waktu saya ke rumahnya, buku itu masih ada di pajang di lemari bukunya. Saya yakin banget buku saya itu tidak dibaca.

Lha gimana mau dibaca kalau segel plastiknya aja belum dibuka. Ngakunya sih mau dibuka, tapi kok takut kotor, jadi dibiarkan saja masih ada plastiknya. Gitu alasannya.

Ya atur aja sih. Orang buku itu milik dia. Tapi dalam hati saya komen. Itu sih ibarat nikah punya istri, tapi sampai gini hari istrinya belum digauli. Jadi istrinya masih awet perawan terus.

Ya nggak salah juga sih, tapi jadi kayak rada mubazzir gimana gitu hehehe

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, February 22, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: