Bukan Uang tapi Moral

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Ini kejadian beberapa tahun lalu. Teman saya menggambarkan betapa dia baru saja berhasil membuat deal menga akuisisi perusahaan yang menurutnya punya propek bagus kalau di poles sedikit. Dan yang lebih penting harganya murah. Mengapa bisa murah? Karena dia berhasil meyakinkan kreditur bank untuk menghentikan dukungan pembiayaan. Sehingga perusahan terjebak dengan kesulitan cash flow. Dia datang menyelamatkan tapi sebetulnya memangsa dengan cara tanpa keluar uang tapi dengan kehebatan dia sebagai private equity player melalui skema shadow banking.

" Berapa orang karyawannya" tanya saya.

" Sekitar 3000 karyawan."

" Berapal lama perusahaan berdiri"

" Dua generasi dan generasi terakhir terkesan lemah dan manja. Makanya mudah menyerah dia"

Ketika itu kami sedang asyik bersantai di cafe. Di seberang nampak wanita cantik sedang duduk seorang diri. Teman ini memandang saya dan kemudian berkata " Wanita itu saya ajak gabung di meja kita".Dia melangkah mendekati table wanita itu. Tapi beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah memerah. Menurutnya wanita itu mengusir dia.Padahal dia tawarkan uang lebih dari cukup. Teman itu terdiam lama dan akhirnya dia berkata lirih "besok saya akan batalkan transaski. Saya akan telp banker agar batalkan financial clossing "

Mengapa ? tanya saya

"Peristiwa malam ini membuat saya berubah. Wanita itu tadi baru saja telah memberikan cahaya jalan kebenaran " Kamu tidak akan bisa membeli cinta dengan uang kamu. Sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan cinta walau uang kamu banyak. Saya kasihan dengan kamu" kata wanita itu.

"Mengapa dia kasihan dengan kamu " tanya saya.

" Selagi saya mendapatkan uang dengan cara salah maka saya tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Padahal tujuan hidup adalah untuk kebahagiaan dan uang tidak bisa membeli kebahagiaan, demikian kata wanita itu."

" Lantas apa rencana kamu selanjutnya dengan perusahaan yang akan kamu batalkan pengambil-alihan itu ?

"Saya akan menjadi angel investor untuk membina menagement perusahaan itu agar dapat tumbuh dan berkembang tanpa mengubur harapan pemegang saham. Ya berbagi itu menyenangkan dan tentu bahagia karena kita melakukannya dengan cinta. Saya harus berubah"

Nah anakku..Uang memang penting namun jauh lebih penting adalah cara mendapatkannya. Besar kecil bukanlah ukuran tapi sejauh mana kamu bisa berbahagia dengan uang kamu..paham ya sayang..

 

(Sumber: Facebook Erizeli)

Saturday, May 7, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: