Bukan Salah Ahok, Sampai Kiamat Jakarta Akan Terus Banjir

Oleh : Cuker

2 hari lalu sebagian besar daerah di Jakarta tergenang banjir, termasuk jalan utama Gatot Subroto, Sudirman dan Thamrin, padahal Gubernur Ahok dan jajaran dibawahnya sudah mati-matian membuat berbagai macam dan proyek agar supaya Jakarta bebas banjir. (Mati-matian = sudah sampai mau mati, bukan pura-pura mati, red).

Begitu Jakarta kena banjir, langsung tanpa dikomando barisan anti Ahok menyalah-nyalahkan Gubernur Ahok yang tak becus mengurus Jakarta. Pengamat perkotaan dan ahli tata kota juga ramai-ramai mengemukakan pendapatnya bahwa gubernur Ahok salah bikin program, yang benar adalah mesti bikin ini, harus bikin itu agar supaya Jakarta bebas banjir.

 Gubernur Ahok yang merasa sudah bekerja benar dan serius, tentu tidak mau disalah-salahkan apalagi dianggap gagal membuat Jakarta bebas banjir, sebab menurut kacamatanya yang terjadi di Jakarta kemarin bukanah BANJIR, tetapi GENANGAN.

Ini harus dibedakan dan tak banyak orang mengerti tentang hal ini. Ahok memang pernah berjanji membuat Jakarta bebas banjir, tapi tidak pernah berjanji membuat Jakarta bebas genangan. Prinsip Ahok sudah jelas yaitu pemimpin tidak pernah salah, jika dipandang ada kesalahan pemimpin maka artinya anak buah tidak menjalankan tugas dengan baik, karena semua tugas pokok dan fungsi dalam pemerintahan dan penataan kota sudah dibagi habis sampai unit terkecil. Ahok sudah jelas dan tegas memerintahkan jajaran di bawahnya untuk bekerja keras menjadikan Jakarta lebih baik dan sejajar dengan kota-kota besar dunia.

Saya sendiri berpendapat, siapapun gubernur Jakarta, mau Jokowi, mau Ahok, mau Yusril, mau Ahmad Dhani, apalagi Haji Lulung, Jakarta akan selalu banjir, akan selalu ada genangan, bahkan ekstrimnya Saya berani mengatakan sampai kiamat Jakarta akan tetap banjir/terkenang, sepanjang :

 1. Debit hujan tinggi di daerah hulu (Bogor atau puncak) sana, apalagi bila hujan sampai berhari-hari, sehingga debit air yang memenuhi sungai terkirim ke Jakarta sebagai muaranya. Sehingga Jakarta tidak siap menampung melimpahnya kiriman air dari daerah hulu, sehingga banjir/genangan pun tak terelakan.

2. Adanya sabotase dari pemulung-pemulung sampah kabel bekas, yang hanya mengambil tembaganya saja dan membuang sampah bungkus kabel di gorong-gorong. Dasar pemulung pemalas, mau enaknya saja.

3. Adanya karung pasir atau ember berisi pasir yang terjatuh dari truk angkut ke gorong-gorong, ini sangat menghambat aliran air di gorong-gorong. Dasar kurang kerjaan itu truk angkut pasir, jatuhin pasir koq ke gorong-gorong, kenapa gak ke proyek perumahan yang saya dan teman-teman sedang garap.

 4. Adanya kano, mungkin suatu saat perahu yang terdampar, bahkan karam/tenggelam di gorong-gorong jalan utama Jakarta, sehingga menghalangi aliran air di gorong-gorong.

5. Adanya anak buah yang tak patuh perintah gubernur DKI Jakarta dalam menjalankan program Jakarta bebas ba6njir, misal relokasi penduduk di kolong jembatan Ancol, malah membelot mendukung calon gubernur lain bakal lawan atasannya atau gubernur incumbent.

6. Gubernur DKI Jakarta tidak mengangkat saya sebagai staf khusus atau staf ahli atau penasihat atau tenaga magang atau penyambung lidah dengan legislatif dan pengusaha. Saya lah yang paling menggerti permasalahan Jakarta, bukan orang-orang seperti Sunny Tanoe yang mungkin main banjir-banjiran di Jakarta aja belum pernah, berenang di kali sunter, kali jodo atau kali gunung sahari aja belum pernah, naik angkot atau bis kota keliling Jakarta aja belum pernah dll.

Ya sudah cukup 6 saja alasan aktual dan faktual kenapa Jakarta akan selalu tergenang, walaupun saya sebenarnya bisa membuat 10 alasan, bahkan 1001 alasan untuk pembenaran dan menolong Ahok dari tuduhan gagal menepati janji kampanyenya Jakarta bebas banjir. Sekian dan selamat tergenang, Salam sayang, Cuker** (ak)

Sumber tulisan :kompasiana.com

Sunday, April 24, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: