Bukan Politik Tapi Politikus Busuk

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Kalau pemilihan umum mengubah segala sesuatu, ia akan dinyatakan illegal, demikian kutbah Emma Goldman, filsuf politik kontemporer. Dan Anda tahu ketika Jokowi membuat perubahan-perubahan?

Dalam salah satu polling Pilpres 2019, ASN (Aparat Sipil Negara) majoritas lebih memilih Prabowo daripada Jokowi. Sekilas, fakta itu menyedihkan, seolah membenarkan paragraph awal tulisan ini.

 

 

Para punggawa negara, yang dibayar oleh negara, merasa tak nyaman dengan pemerintahan yang sedang berjalan. Misal ada tiga tenaga medis dengan status ASN aktif, memamerkan foto mereka dengan ikat kepala bertuliskan 2019 ganti presiden.

Meski data polling tahun 2019 mengenai pilihan ASN masih relative sama dengan 2014, namun ada perubahan menarik. Setidaknya data tahun ini lebih memberi optimisme Jokowi, karena jumlah ASN yang memilihnya bertambah 25% dari 2014. Hal yang juga bisa dimengerti karena peremajaan ASN, dan masuknya generasi muda yang melihat perubahan sistem kepegawaian, lebih memberi ruang pada mereka.

Perubahan memang sesuatu yang tak mudah diterima, oleh kaum konservatif. Apalagi mereka yang menjadi sasaran atau korban perubahan. Petaka bagi dirinya yang dulu duduk di kursi basah, kini duduk di kursi panas. Jokowi sebagai tukang meubel, tahu benar membuat kursi yang adem atau membara.

Perubahan natural, adalah perubahan karena keinginan bersama. Dan keinginan bersama yang menginginkan perubahan ke arah kebaikan, tak seperti setetes air yang kehilangan identitas saat bergabung dengan lautan. Karena punya peran masing-masing. Di kantoran maupun jalanan, sanggar-sanggar atau pasar-pasar modern dan tradisional. Kata BR Ambedkar, “Kehidupan manusia itu independen. Ia lahir bukan untuk pengembangan masyarakat saja, melainkan untuk pengembangan dirinya.”

Sementara itu dalam sistem politik yang elitis, partai hanya kendaraan bagi mereka dan rakyat hanya sebagai alasan atau atas nama. Partai cenderung tak punya fondasi dalam memajukan keadaan menjadi lebih benar dan bermoral. Menurut Dwight Eisenhower, itu bukanlah partai politik, melainkan hanya konspirasi merebut kekuasaan. Perhatikan pernyataan Sandiaga, jika Prabowo-Sandi menang, dia berjanji akan mengubah UU-ITE. Kita tahu, UU itu ranah parlemen, bukan Presiden. Itu sekedar contoh orientasi kekuasaan. Bukan hanya jelata, kandidat pilpres pun tidak ngeh sistem kenegaraan.

Ada orang yang generik. Mereka membuat tanggapan generik dan mengharap jawaban generik. Mereka tinggal dalam kotak, dan berpikir orang-orang yang tak cocok dengan kotak mereka itu aneh. Orang-orang generik seperti itu adalah orang-orang aneh. Seperti tumbuhan yang dimanipulasi secara genetik, tumbuh di dalam laboratorium. Seperti wajah yang tak dapat dibedakan. Seperti robot. Seperti ketidaktahuan. Sebagaimana begitulah antara lain ciri politikus busuk.

Namun sebagaimana agama, politik sesungguhnya tak pernah menjadi masalah. Orang-orang yang mengunakan untuk kekuasaan, itulah, yang bermasalah.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Saturday, February 2, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: