Bukan Penjualan BUMN Tapi Pembentukan Holding Company

Ilustrasi

Oleh : Ari Wijaya

Beberapa hari ini belakangan berseliweran berita tentang bumn tambang PTBA, TINS n ANTM yang akan kehilangan status sebagai bumn PERSERO. Berita ini langsung disambut gegap gempita oleh sekelompk makhluk yang biasa dikenal sebagai kaum bumi datar (budat). Status dan meme beredar mendiskreditkan pemerintah dgn kata2 provokatif bahwa pemerintah menjual bumn, negara mau bangkrut dan sebagainya. Ada memang sebagian kecil dari kaum budat ini yg tahu bahwa berita itu tidak benar. Namun atas nama rasa benci mereka sengaja memelintir, menebar hoax untuk membodohi para budat2 lainnya karena prinsip budat adalah tolong menolong dalam kebodohan.

Namun demikian apa yang sebenarnya terjadi dengan bumn sektor tambang tsb? Yang terjadi adalah upaya pemerintah membentuk perusahaan induk atau holding company bagi bumn2 yang bergerak di sektor sejenis.

PTBA, TINS (PT. TIMAH) dan ANTAM merupakan bumn sektor tambang yang saat ini berstatus perusahaan terbuka dimana sahamnya diperdagangkan di bursa efek indonesia. Khusus antam bahkan sahamnya juga diperjualbelikan di bursa efek australia (dual listing). Di ketiga bumn ini pemerintah memiliki saham kurang lebih 70%, sisanya milik publik baik individu maupun institusi domestik ataupun asing. Siapa pun bisa memiliki saham PTBA, TINS dan ANTM dengan membelinya di BEI. Semoga kalau konsolidasi sektor finansial dan infratruktur nanti terlaksana kaum budat tidak kelojotan lagi trus menebar fitnah.. malu dikitlah sama tuhan ya gak cuy

PT. INALUM adalah bumn yang saat ini 100% sahamnya dimiliki pemerintah setelah di take over dari jepang beberapa tahun lalu jaman pak SBY. Inalum merupakan perusahaan tertutup. Untuk mengkonsolidasikan bumn2 yg bergerak di sektor tambang ini maka pemerintah menjadikan PT.INALUM (persero) sebagai induk usaha/holding bagi PTBA, ANTAM, TINS yang otomatis membuat PTBA, ANTM, TINS berubah status menjadi anak usaha dari PT.INALUM (persero) serta kehilangan status sbg 'persero' namun tetap bumn.

Transaksi ini hanya memindahkan saham dari kantong kiri ke kantong kanan. Tidak ada satu lembar pun saham pemerintah yang berkurang di perusahaan2 tsb. Tujuan dari aksi ini selain komsolidasi juga upaya mensinergikan bumn sejenis agar lebih efisien serta mempermudah upaya bumn dalam melakukan corporate action seperti right issue untuk penggalangan dana guna ekspansi bisnis. Nantinya pemerintah ingin bumn tambang dapat tumbuh sejajar bahkan melampaui perusahaan2 tambang multinasional seperti BHP Billiton, rio tinto, glencore, vale dll. Saham PT.Freeport indonesia yang saat ini dimiliki pemerintah 9% (nanti 51%) juga akan ditempatkan dibawah PT. INALUM (persero).

Kedepan pemerintah juga akan membentuk holding untuk bumn bidang keuangan, kabarnya PT. Danareksa yg akan ditunjuk sbg holding companynya dimana nanti bank BRI, Mandiri, BNI, BBTN akan ditempatkaN dibawah PT. Danareksa (persero) dengan tujuan yang sama.

Untuk bumn bidang infrastruktur, konstruksi, properti PT. Hutama Karya (persero) kabarnya akan jd holding company membawahi PT. ADHI Karya, WIKA, Waskita dan Jasa Marga.

PT. Danareksa (persero) dan PT.Hutama Karya (persero) adalah bumn yang 100% sahamnya milik pemerintah dimana anak2 usaha mereka merupakan perusahaan publik yang sudah listing di BEI.

semoga kalau konsolidasi sektor finansial dan infratruktur nanti terlaksana kaum budat tidak kelojotan lagi trus menebar fitnah.. malu dikitlah sama tuhan ya gak cuy

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Monday, November 20, 2017 - 16:15
Kategori Rubrik: