Bukan Orang Sembarangan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

 Di dunia ini, tepatnya di Indonesia, ternyata ada ‘orang yang bukan sembarangan’. Kayak apa definisi, atau tanda-tandanya?

Kita sepakati dulu, apa itu ‘orang bukan sembarangan’. Tapi karena belum ada kesepakatan, kita pakai kemungkinan-kemungkinan dulu. Mungkin sebagaimana superman, atau superhero dalam kisah-kisah fiksi manusia super.

 

Seperti Superman, Batman, Robin, Supergirl, Capten America, juga Gundala, Godam, Laba-laba Merah, Sriti, Pangeran Mlaar. Jika merujuk mereka, kita sedikit punya gambaran. Biasanya memakai kostum lain dari yang lain. 

Ciri paling menonjol, para jagoan biasanya memakai legging dan jubah, dan yang pasti bukan daster. Namanya legging tentu ketat. Hingga badan mereka terlihat sentausa. Atletis. Menonjol di organ-organ vitalnya. Mangkanya mereka pede aja pakai sempak di luar legging.

Kayaknya, para superhero itu berwaham eksibisionis. Bukan hanya yang cowok, yang cewek juga. Di samping celdam di luar, bra juga begitu. Warnanya juga mesti konstras.

Mungkin para superhero punya kode etik internasional. Namun yang pasti orang-orang yang bukan sembarangan itu, adalah para pahlawan kebenaran. Bedakan dengan kebetulan, meski benar dan betul itu punya arti sama. Tapi bayangkan kalau kita nyebut pahlawan kebenaran sebagai pahlawan kebetulan.

Jenderal Besar Soeharto adalah pahlawan kebetulan. Misal kita nyebut gitu. Para pemujanya tentu ngamuk. Walau pun jika disebut pahlawan kebenaran juga belum tentu betul, meski mungkin saja benar jika disebut pahlawan kebetulan. Gus Dur pernah bilang Soeharto jasanya banyak, tapi dosanya lebih banyak lagi. Wah, Gus Dur itu waliullah, seperti keyakinan ketua PBNU, bisa ngerti dosa-dosa manusia.

Sebagai pahlawan kebenaran, para superhero tabiatnya adalah penolong. Pembasmi kejahatan. Dan tak pernah kalah. Jika Spiderman akhir-akhir ini dibuat lebih manusiawi, mungkin kayak tukang sulap jaman kiwari. Terpaksa jualan buku teori sulap, karena orang tak lagi kagum kesaktian sulapnya. Kalau penulis bikin platform latihan penulisan online? Ya, tak apalah. Namanya kreativitas.

Lantas, soal bukan orang sembarangan itu bijimana? Kita mungkin tak perlu bertanya pada MUI. Di jaman kenormalan baru kelak, ulama makin tak penting. Karena jaman new-normal yang kita butuh adalah ubaru. Para pewaris ilmu nabi yang sesungguhnya, yakni yang mempraktikkan ajaran kebesaran jiwa dan kerendahan hati dalam laku-jantra keseharian. 

Di jaman kebolak-balik ini, orang bukan sembarangan cirinya berbuat sembarangan. Dari situ akan tahu dirinya sembarangan atau bukan. Kalau ngikut lelang sepeda motor listrik Presiden, tapi kemudian ditangkap polisi, itu pasti orang sembarangan. Yang tidak sembarangan? Tau ‘ndirilah kelakuannya. Kayak superhero make sempak di luar, bukan begitu Tante Ernie? 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Saturday, May 23, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: