Bukan Lagi "Konco Wingking"

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Orang orang Jawa tidak lagi menempatkan wanita sebagai "koco wingking" baik kepada wanita turunan ningrat atau pun rakyat kebanyakan. "Koco wingking" artinya hiasan, pemantas dan pelengkap rumah - yang ditempatkan di belakang. Hanya pengikut serta yang setia - bahkan ungkapan itu ditambahi dengan pengertian, “swargo nunut, neroko katut” – ke surga ikut, ke neraka juga terbawa.

Tentulah Anda tahu BRA Mooryati Soedibyo (Solo) dan Marta Tillaar (Kebumen), dua duanya menjadi pengusaha kecantikan ternama - memimpin ribuan karyawan bukan semata mata "ikut suami" sebagaimana tradisi Jawa ratusan tahun sebelumnya.

Dan jumlah wanita seperti Mooryati Soedibjo dan Martha Tilaar alangkah banyaknya saat ini. Bahkan melahirkan generasi penerus. Wanita wanita yang "cancut taliwondo" menyingsingkan lengan baju, maju ke depan, turun ke gelanggang, sebagai pebisnis, pengusaha, politisi, militer atau profesi apa pun, yang tak lagi menjadi pendamping.

Tentu saja saya tak bermaksud merendahkan peran wanita sebagai "pendamping" suami - pendukung dan ibu rumah-tangga. Karena sama mulianya . Ada peran Ibu Inggit dan Ibu Farmawati dalam kebesaran Bung Karno. Ada peran Bu Tien dalam sukses Pak Harto dan Ibu Ainun di samping Pak Habibie, dst. Sampai sukses Pak Jokowi atas dukungan Ibu Iriana.

Yang ingin dikatakan adalah wanita bisa menunjukkan potensi maksimalnya, jika diberi kesempatan.

Semua - setidaknya sebagian besarnya - terinspirasi oleh RA Kartini. Pelopor emansipasi wanita. Dan melanjutkan cita cita dan impian beliau.

Jauh sebelum ini, sejarah Nusantara juga diwarnai oleh para wanita hebat yang menduduki posisi puncak di wilayahnya.
Beberapa wanita yang menyandang predikat ratu di Jawa, antara lain: Ratu Jay Shima (ratu Kalingga), Pramodhawardhani (ratu Medang periode Jawa Tengah dari Dinasti Sailendra terakhir), Sri Isana Tunggawijaya (ratu Medang Periode Jawa Timur kedua), Tribhuwana Wijayatunggadewi (ratu Majapahit ketiga), Sri Suhita (ratu Majapahit keenam); dan Ratu Kalinyamat (adipati Jepara).

Di tanah Pasundan ada Mahisa Suramardini Warmandewi dan Sphatikarnawa Warmandewi (Salakanagara); Nyi Mas Ratu Patuakan dan Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Sumedanglarang).

Di luar pulau Jawa, ada Sultanah Nahrasiyah (Samudera Pasai); Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam, Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam, Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah, dan Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (Kesultanan Aceh Darussalam); Maharatu Mayang Mulawarni (Kutai Martapura); Tumanurung (Gowa); Sultana Zainab Zakiyatud-din, I-Danraja Siti Nafisah Karaeng Langelo, We Maniratu Arung Data, dan Sri Sultana Fatima (Bone); serta Ratu Wa Kaa Kaa dan Ratu Bulawambona (Buton).

INDONESIA pernah memiliki Wanita Presiden yakni Megawati Sokarnoputri ketika di jazirah Arab kaum wanitanya belum boleh menyetir mobilnya sendiri. Di Indonesia wanita sudah menyetir negara! Bahkan kemudian jadi "president maker", memberi jalan bagi naiknya Ir. Joko Widodo.

Sukses Jokowi dalam dua periode pemerintahannya kita tahu tak bisa dipisahkan oleh peran dua wanita cemerlang - selain Ibu Negara - yakni Dr. Sri Mulyani dan Menlu Retno Marsudi. Di negeri mana pun, Menteri Keuangan adalah "jantung negara" dan Menlu adalah "presiden ke dua" di forum internasional.

Karena itu maksimalkan potensi wanita Indonesia anak anak kita dan remajanya jangan dikungkung - jangan dikerudungi cita citanya - jangan ditutupi kain hitam kurungan ayam - baik kepalanya maupun pikirannya.

Jangan gelapkan pandangan anak anak kita seperti kacamata kuda, hanya memikirkan alam akhirat yang masih jauh. Menjadi mati (pikirannya) sebelum mati (raganya).

Berikan sayap ilmu dan bekali keberanian agar mengepak ke langit dan bukan jadi mesin ternak, dipoligami, diiming-imingi pahala, digombali indahnya surga - untuk melahirkan banyak anak agar jadi kader sebagaimana politisi partai pemuja kelamin dalam memperlakukan kaum wanitanya.

Pokoknya, jangan biarkan anak anak Anda jadi kadrun !

Kondisi nyata saat ini dibandingkan dunia lain, anak anak dan pendidikan anak di Indonesia banyak ketinggalan.

Kemampuan siswa Indonesia di usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains masih tergolong di bawah rata-rata sebagaimana dilaporkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Akumulasi skor di tiga indikator tersebut, Indonesia berada di peringkat 71 dari 78 negara.

Indonesia juga menempati ranking terendah yakni 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Meski berdasarkan hasil survei World Culture Index Score 2018, mulai meningkat signifikan.

Pendapatan rata rata warga negara kita di Asia Tenggara juga masih di bawah Thailand, Malayia, Brunei dan Singapura. Apalagi di benua Asia .
Yang harus kita tingkatkan bersama adalah "income per kapita".
Bukan "kadrun per kapita" ! ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Wednesday, August 5, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: