Bukan Habibie

Oleh: Gunawan Wibisono

 

Si bungsu bertanya, “kenapa Papa tidak seperti Eyang Habibie?”
Saya kaget, “Kok?”
Ia menyambung, “iya, eyang Habibie itu hebat
Saya tercenung.

 

Saya lalu cerita.
Pada masanya, sewaktu papa SMP -dahulu- ada bintang film bernama Bruce Lee. Jagoan kungfu. Badannya kecil tapi gesit bukan main. Pukulan dan tendangannya maut. Gerakannya super cepat dan mematikan. Hebatpokoknya. Ia disukai banyak orang!
Filmnya selalu dinanti. 

Pada waktu itu, kalau film Bruce Lee diputar di bioskop, hampir satu kelas –terutama para cowok – sepakat: bagaimanapun caranya, harus nonton! Entah itu nabung, merengek pada orang tua, jual jam tangan sampai berbohong minta uang untuk prakarya, yang penting nonton!
Pertunjukan jam 19.00 paling rame. Halaman bioskop berdebu karena penuh orang! Dari jam 18.00 sore orang rela antre. Dan, tukang catut yang beredar di seputar bioskop selalu punya cara untuk membujuk, “hayo..bruce lee, tinggal duduk, ni, gak perlu antre berdesakan”
Dan kami pun selalu tergiur.

Di dalam, penonton penuh! Dari deret kursi di atas sampai bawah. Balkon juga full! (dulu, bioskop ada balkonnya, lho. Jadi, penoton yang di bawah, bila jagoannya -sementara- kalah, dan penonton di balkon kesal, selalu saja ada bungkus rokok yang melayang kena kepala! Waktu itu belum ada botol plastik. Semua botol terbuat dari kaca. Dan, bersyukur belum ada penonton yang gila yang tega melempar botol beling ke bawah!)

Oh ya, waktu itu bioskop belum berpendingin. Orang bebas merokok. Ruangan pengap. Hahahaha. Asapnya membumbung “mewarnai” sinar proyektor. Kipas angin setiap tiga meter di kanan kiri dinding bekerja ekstra keras mendorong asap agar ke atas. Itulah sebabnya atap bioskop tulang tengahnya selalu dibuat terangkat setengah meter, gunanya ya itu tadi, tempat membuang asap rokok!

Dan, khusus untuk Mas Bruce Lee ini, waaah, luar biasa! Setiap dia berantem penonton selalu ikut campur: teriak-teriak, menyoraki dan tepuk tangan kalau pukulannya telak menghantam lawan.
Rame. Senang bukan kepalang. Papamu dan kawan-kawan ikutan tepuk tangan!

Sedang serunya Mas Bruce Lee berantem, lalu, pet! Pertunjukan terputus. Lampu neon dalam menyala, di layar muncul tulisan: maaf, interupsi! Orang kesal. Satu bioskop teriak: “huuuu!” sekencang mungkin.
Proyektor hanya satu, rol film pertama habis berarti petugas harus mengganti rol kedua. Butuh waktu lima menit. Itu sebabnya di layar muncul tulisan. 
Orang boleh ke kamar kecil. Pintu depan juga dibuka, penonton bisa keluar beli rokok, minuman, permen atau makanan kecil, bebas saja. 
Nah, kesempatan ini juga memunculkan penonton baru, penonton gelap yang ikut masuk. Mereka adalah orang-orang yang tak mampu beli karcis dan rela menonton pertunjukan meski hanya separuh. Petugas bioskop memaklumi, toh, penoton ‘siluman’ ini biasanya tahu diri dan duduk di bawah, di selasar.

Mas Bruce Lee memang memikat. Gebuk-gebukannya selalu seru, dia pasti menang.
Daaaan,....
Tahu tidak, nak, perunjukan yang sebenarnya adalah tatkala film usai! Lampu menyala terang, satu persatu penonton keluar, dan, lihatlah, semua orang mendadak jalannya berubah! Langkahnya agak merenggang, dengan posisi kaki serong keluar, lengan tangan terbuka bak jagoan, lengkap dengan tangan mengepal! Sorot mata dipertajam. 
Dan, ini yang bikin geli: setiap dua atau tiga langkah selalu mengusap hidung memakai ibu jari dengan empat jari lainnya tetap terkepal! Pendek kata semua bertingkah bak jagoan, siap berantem!
Hahahahaha
Semua mendadak menjadi Mas Bruce Lee!

Esoknya, di sekolah, saat istirahat pasti akan ramai:
“Saya jadi Bruce Lee!”
“Saya Jim Kelly!”
“Saya Sammo Hung!”
“Kamu pantasnya John Saxon!”
“Nggak, kamu Chuck Norris!”
Lalu kami ribut dan berantem sendiri. Tentu dengan gaya hidung yang diusap-usap ibu jari, sambil mengibas-ngibaskan rambut!
“Bertahun-tahun kemudian, tak ada satupun dari kami yang menjadi Mas Bruce Lee, John Saxon, Jim Kelly, Sammo Hung atau Chuck Norris. Kita --masing-masing-- tetap menjadi diri kita sendiri. 
Tidak, nak, papamu ini bukan Eyang Habibie, tidak sekolah di jerman, tidak juara, tidak jadi menteri dan tidak membuat pesawat, tapi, percayalah, pengalaman menonton film Bruce Lee dan tingkah laku kami dulu sangat membahagiakan. Tidak ada duanya!”
Si Bungsu terpana, 

saya menyambung,
“Karena itu, papamu juga tidak menuntut kamu jadi seperti Eyang Habibie. Jadilah dirimu sendiri, asal kamu bahagia, itu sudah cukup”

(Sumber: Facebook Gunawan Wibisono)

Thursday, September 19, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: