Bukan Dalilnya Tapi Siapa yang Berfatwa

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kita ini orang awam, kita bukan mujtahid. Siapa sih diantara kita yang bukan awam?

Coba yang merasa sudah bukan awam lagi dan sudah merasa jadi mujtahid, angkat tangannya. Setengah mujtahid deh, coba angkat tangan. Atau seperempat juga boleh.

Dipastikan nggak ada yang berani angkat tangan. Gimana mau angkat tangan, bahasa Arab gak paham, ushul fiqih gak paham, tafsir hadits juga gak paham. Kok bisa-bisanya ngaku jadi mujtahid?

Dah sepakat ya bahwa kita ini orang awam dan bukan mujtahid.

Nah buat kita, Saya, Anda, siapa pun yang mengaku orang awam macam kita-kita ini, yang namanya dalil itu bukan Al-Quran, bukan Sunnah dan bukan yang lainnya.

Kok gitu? Bukankah dalil itu Quran dan Sunnah?

Itu dalil buat para mujtahid saja. Sedangkan kita yang Qurannya masih pakai terjemahan, nggak usah ngaku-ngaku bisa berdalil dengan Al-Quran dan As-Sunnha. Baca aja nggak paham, kok. Salah pula membacanya. Lha kok ngaku-ngaku bisa berdalil pakai Al-Quran dan Sunnah. Apanya yang dijadikan dalil?

Kalau ditanya, kapan dan dimana ayat itu diturunkan, apa munasabahnya, bagaimana siyaq-nya. Bengong kan?

Bagi kita dalil itu adalah apa yang dikatakan oleh ulama yang kita akui kredibiltasnya. Contoh paling sederhana : bagaimana kita bisa tahu shahihnya sebuah hadits? Apa yang jadi bukti atas keshahihannya?

Pasti gak bisa jawab lah. Wong sama sekali nggak paham ilmu hadits. Suruh sebutkan syarat hadits shahih pun terbolak-balik melulu.

Buat kita yang awam ini cukup, shahih tidaknya suatu hadits ya dari hasil ber-TAQLID BUTA.

Kita TAQLID kepada ulama, dalam hal ini ulama ahli hadits. Contoh gampangnya Imam Bukhari. Kalau Beliau bilang hadits ini shahih, ya udah lah kita ngikut aja. Tidak banyak cingcong. Jelas kan bahwa kelas kita bukan mujtahid. Jangankan mujtahid, muhaddits saja bukan.

Sebagai orang awam yang bertaqlid, sama sekali kita tidak melakukan proses penelitian apapun kepada para perawi hadits sampai ke shahabat dan ke Rasulullah SAW. 100% kita cuma ngekor.

Itu bukti bahwa dalil kita kita bukan Quran dan Sunnah, tapi dalil kita adalah pendapat para ulama. Dalam hal ini temanya masalah keshahihan hadits, makanya kita TAQLID saja sama Imam Bukhari.

Nanti ada cabang ilmu lain yang sedikit lebih berat, yaitu tentang hukum suatu masalah. Bedakan antara keshahihan hadits dengan hukum suatu masalah. Itu adalah dua cabang ilmu yang berbeda.

Kalau kita bicara tentang hukum, ilmunya bukan hadits, tapi ilmunya ilmu fiqih. Para ulamanya bukan lagi Bukhari atau Muslim, tapi Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya. Kelasnya di atas ahli hadits. Maksudnya para ahli fiqih itu kelasnya sudah di atas kelas para muhaddits.

Ketika ada pertanyaan, apa hukumnya shalat berjamaah di masjid? Kita jawab : sunnah muakkadah atau fardhu kifayah. Dalilnya apa? Jawabannya bukan Quran atau hadits, tapi aqwal (statement) para fuqaha. Ulama Hanafi dan Maliki bilang sunnah muakkadah. Ulama Syafi'iyah mengatakan Fardhu Kifayah.

Kalau sudah kita sebut nama-nama 'besar' itu, ya sudah selesai. Nggak usah lagi bagaimana kok bisa menyimpulkan jadi sunnah muakkadah atau fardhu kifayah. Tidak perlu, kecuali mau duduk berlama-lama di bangku kuliah Fakultas Syariah jenjang S1, S2 dan S3.

Kalau cuma sekedar awet jadi orang awam doang, nggak usah kejauhan lah. Apalagi pakai sok belagak merasa paling pinter sendirian, lalu semua ulama disalah-salahkan. Nggak pernah ngaji, tiba-tiba kok pinter sendiri? Pakai ilmu apa? Ilmu Ladunny?

Sama saja kita bertanya kepada Imam Bukhari : Apa dasarnya Anda bilang hadits ini shahih? Ngomongnya gitu sambil kecak pinggang. Kan semua orang jadi tahu kapasitasnya. Malah pamer ketidak-pahaman.

Saran saya kalau ilmu kita rada kurang, mending kita diam saja. Nggak usah pamer-pamer gitu. Malu-maluin aja.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, March 24, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: