Bukan Bermaksud Membela Vero

 
Oleh: Sagat Siagian
Saya menyaksikan virtual talkshow Ahok di kanal Daniel Mananta. Secara khusus Ahok menjelaskan kembali beberapa momen bersama Veronica yang jadi dasar baginya untuk mengambil keputusan cerai.
Kalau ngobrol dan pergi bersama lelaki lain adalah takrif tak bisa ditawar untuk menyimpulkan seorang istri berselingkuh, jelas Veronica telah berselingkuh. Telak. Mutlak.
 
Dan kalau Anda dan saya bersetuju dengan takrif tersebut, kita patut mendukung keputusan Ahok menggugat cerai. Apalagi dia telah memberi kesempatan berkali-kali kepada Vero untuk melepaskan si good friend.
Tapi, bolehkah saya bertanya?
Apakah jika Anda menikah dengan seorang perempuan maka perempuan itu punya hak untuk mengatur dengan siapa Anda berkawan, makan siang, dinner, atau bincang sore? Apakah sebuah perkawinan berkuasa sedemikian mutlak untuk merampas sebagian besar dari kebebasan Anda?
Itu bukan pertanyaan bualan. Sebagian besar rumahtangga yang saya kenal punya kebijakan seperti itu. Entah suami membatasi dengan siapa istrinya bergaul, entah Istri bertindak bagai singa betina mengerangkeng suaminya.
Orang bule menyebut menikah sebagai “settled down”. Artinya? Sudah selesai. Berlabuh. Rampung. Tuntas. Tunai. Apa maksudnya?
Seluruh pencarian telah berakhir. Segala petulangan usai. Serenceng uji-coba purna. Dua manusia tiba pada satu ketetapan di ujung pencarian: kamulah yang telah digariskan Sang Hidup untuk menemaniku dan kutemani dalam mengarungi perjalanan selanjut.
Ingat, perjalanan itu sendiri belum berakhir bahkan berlanjut malah. Bedanya, semula Anda mengarunginya sendirian, sekarang berdua dengan orang yang telah Anda yakini sebagai misteri yang terkuak.
Dan karena perjalanan berlanjut maka masa lalu Anda tidak berhenti. Serombong orang yang Anda kenal sebelum menikah dengan Istri Anda masih di situ, masih di sana, masih di mari. Anda gak bisa menyetip mereka seperti meniadakan surat utang, mengganti bohlam, atau menendang kipas angin dan menukarnya dengan AC.
Orang-orang itu sudah ada di sana sebelum Istri atau Suami Anda berbaring di sebelah Anda saat membuka mata di pagi hari. Untuk beberapa hal tertentu mereka bahkan lebih mengenalmu daripada Istri atau Suamimu. Bagaimana mungkin kamu paksa suamimu untuk tidak berbincang atau makan siang dengannya?
Tapi Veronica jalan bareng dengan bekas pacarnya, katamu.
So what?
Apakah status ‘bekas pacar’ sama dengan cabo, atau gigolo, atau money boy sehingga terlarang bagi istrimu untuk berbincang dengannya? Semesta istrimu tak menciut karena menikah denganmu. Perkawinan seharusnya memberi ruang lebih lapang bagi masing-masing pihak untuk terus bertumbuh.
Tapi, berduaan dengan bekas pacar hanya menyisakan jarak dua strip dari ranjang, katamu lagi.
Bangsat, kamu. Sehina itukah kamu sehingga otakmu tak sanggup dibersihkan dari ranjang dan celana dalam?
Setiap orang punya keunikan. Kadang kamu merasa cocok untuk berbincang soal karir hanya dengan Anita atau Dini—dan di lain waktu merasa nyaman ngobrol sama Rini soal Alkitab. Apa kalian, para istri, mengira bahwa kalian cocok diajak berbicang soal apa saja? Busyet, kalian ternyata maha kuasa dan maha tahu.
Jika kebijakan sempit itu kalian tegakkan maka dengan lantang saya katakan: perkawinan kalian telah bermasalah sedari awal.
Perkawinan dibangun atas saling-percaya. Dan percaya beralaskan satu saja fondasi: cinta. Kalau cinta tak menyanggupkan kamu untuk percaya pada istrimu, untuk apa kalian menikah? Mantan pacar istrimu cuma 1% dari ancaman sesungguhnya yang membayang pernikahanmu.
Sebab ada saat dan tempat ketika istrimu berkesempatan bersua dengan seorang lelaki yang sanggup membuat tungkainya lunglai dan napasnya memburu. Istrimu tiba-tiba terserang temporarily insanity, kegilaan temporal. Ia tak sanggup menolak untuk diajak makan pada siang itu juga di sebuah cafe. Lalu dari percakapan 2 jam, hasrat tak lagi bisa dibendung. Ia dan lelaki setan-alas menaiki taksi menuju double six hotel. Semua tanggal, bahkan sosokmu terpenggal.
No, momen tersebut bukan lahir dari serenceng pendekatan dan janji temu berkali-kali yang berkemungkinan sempat untuk kamu curigai. Itu dimulai pada siang itu dan tuntas di sore hari. Istrimu kemudian pulang ke rumah dengan mengenang bahwa titit lelaki itu lebih besar dari pada punyamu. Ketika semua tanggal, mitos pun terpental. Tititmu terasa kecil karena sempitnya dunia yang kamu berikan kepada istrimu.
Untuk apa kamu batasi dengan siapa istrimu atau suamimu bergaul? Sebab, sekali lagi, terlalu sering hidup menyergapmu dengan berkarung kebetulan. Satu langkah dari rumah maka semilyar kemungkinan terbentang di depanmu: dari yang hina-dina hingga yang maha mulia. Sialnya, apa yang menurutmu hina kadang hadir dalam rupa kemilau: berbungkus gaun adibusana atau abaya; kadang tampil berbalut jas pemancar wibawa atau janggut sesuci air zamzam.
Hidup istrimu tak boleh berhenti karena kecurigaanmu. Pencapaian suamimu tak boleh terjegal karena kecurigaanmu. Sebesar apa pun kuatirmu, itu tak sebanding dengan kebesaran hidup yang kalian jalani.
Saya punya teman, ini sungguhan. Katakanlah namanya Hendro. Dia beristrikan perempuan cantik bernama Mitha. Seperti kebanyakan rumahtangga lain, sesekali mereka bersua masalah, yang kadang bikin percakapan berhenti berhari-hari. Kalau sudah begitu, Hendro curhat ke saya, juga ke satu orang lagi: Ningsih, bekas pacarnya.
Seperti saya kerap menasehati Hendro dengan menyajikan berbagai sudut pandang dalam mengamati-ulang persoalan dengan istrinya, demikian juga Ningsih. Terlalu sering persoalan pelik dapat diselesaikan dengan cara sederhana: memindah sudut pandang. Saya tak kenal Ningsih. Tapi Hendro mengaku bahwa saya dan Ningsih berkali-kali menyelamatkan perkawinannya.
Akhir tahun lalu Ningsih divonis dokter menderita kanker kelenjar getah bening stadium IV. Hampir saban hari Hendro membesuk Ningsih. Suatu kali dia ajak saya. Di sana kami berkenalan. Berkali-kali datang ke sana dengan perhatian sebukit, Hendro gak enak dengan suami Ningsih. Untuk mencegah timbulnya syak, Hendro akhirnya membawa Mitha ke rumah sakit, mengunjungi Ningsih. Tak lupa dia telepon saya untuk juga hadir.
Di sana Hendro bercerita kepada Mitha di hadapan Ningsih dan suaminya tentang siapa Ningsih dan juga semua kebaikan serta nasehatnya yang membuat rumahtangganya bersama Mitha tegak hingga hari ini. Tak lupa Hendro mengaku bahwa Ningsih adalah bekas pacarnya. Dua orang itu terenyak.
Sepekan kemudian Mitha menelpon saya. “Hat, kamu yakin Hendro gak pernah berselingkuh dengan Ningsih?”
Babi, kamu, rutuk saya tanpa penghambat.
Kata Maria Tobing, tokoh dalam buku saya, “Adagium: Namaku Kenisha”:
“‘percaya’ bukan kata yang terbentuk dalam satu hari, minggu, tahun, bahkan bukan dalam usia sembilan belas tahun pernikahan kami. ‘Percaya’ lahir dari cinta. Saya memutuskan percaya kepada suami saya setelah tersedia ruang lapang untuk menampung kekecewaan yang mungkin timbul akibat keputusan tersebut—setelah tahu persis bahwa saya masih akan sanggup memeluknya pun jika ia berbohong. Dengan ‘percaya’ Anda menang karena realitas yang kelak hadir tak sebanding dengan kesiapan Anda untuk menerimanya.”
Lepaskan istri atau suamimu berangkat ke kantor pada pagi hari. Cium lembut bibirnya dengan percaya penuh bahwa kau masih sanggup memeluknya senja nanti pun jika ternyata ia lebih dulu singgah di kamar lelaki atau perempuan lain sebelum tiba di rumah.
Cinta tak mencadangkan apa-apa.
(Sumber: Facebook Sahat Siagian)
Sunday, July 12, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: