Bukan Arab tapi Budaya Timur Tengah

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Ada cukup banyak yang salah paham bahkan sebagian ngamuk-ngamuk waktu saya memosting singkat tentang cadar sebagai "budaya gurun" Timur Tengah yang tidak cocok dengan geo-kultural Indonesia. Lucunya mereka yang ngamuk itu sambil ngomel menuduhku "anti budaya Arab".

Bagaimana mungkin saya anti-budaya Arab wong saya selalu menganjurkan ke murid-murid Arabku untuk merawat pakaian tradisional mereka (yaitu jubah bagi laki-laki) karena ada kecenderungan generasi mudanya kini lebih suka memakai pakaian kasual ala Barat, sementara jubah hanya dipakai untuk acara-acara tertentu saja (kawinan, wisuda, kantor atau acara-acara tradisional misalnya), bukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Jelas, bahwa orang-orang jenis ini tidak paham dan tidak bisa membedakan antara "Arab" dan "Timur Tengah". Sepertinya mereka juga menganggap kalau Timur Tengah itu identik dengan Arab, dan Arab diidentikkan dengan Muslim, dan Arab Muslim diidentikan dengan Sunni, dan Arab Muslim Sunni diidentikkan dengan Salafi-Wahabi.

Inilah akibat atau produk dari orang-orang yang tidak suka membaca, tidak mau belajar, tapi angkuh dan keminter. Kalau orang pinter sombong ada wajarnya. Tapi kalau orang bahlul sombong. Ini baru ajib.

Kata "Arab" itu jelas merujuk pada sebuah "kelompok etnik-linguistik" tertentu, sedangkan Timur Tengah itu merujuk ke sebuah geografi yang membentang di Asia Barat sampai Afrika Utara. Bahwa masyarakat Arab itu sebagian tinggal di Timur Tengah memang iya. Bahwa masyarakat Arab itu salah satu kelompok besar yang tinggal di Timur Tengah memang iyes. Tapi Timur Tengah bukan hanya dihuni oleh Arab, dan Arab bukan satu-satunya kelompok besar di Timur Tengah.

Di kawasan ini, selain Arab, ada sejumlah kelompok etnik-linguistik lain yang juga sangat besar populasinya seperti Kurdi, Persi, Azerbaijani atau Turki Anatolia. Komunitas Arab juga bukan satu-satunya kelompok "etnis pribumi" Timur Tengah. Ada banyak sekali yang lain: Assyria, Armenian, Aramean, Druze, Balochi, Berber, Koptik, Yahudi, Mandean, Samaritan, Shabak, Yazidi, Talishi, Tuareq, Gabbra, dlsb.

Nah, dalam sejarahnya, cadar, hijab, dan juga jubah itu dipraktikkan oleh berbagai kelompok masyarakat etnik-linguistik yang saya sebut tadi. Apakah mereka semua Muslim? Jelas Tidak. Apakah mereka semua memeluk "Agama Ibrahim" lain seperti Yahudi dan Islam? Juga tidak.

Jadi hijab maupun jubah itu sangat erat dengan geo-kultural Timur Tengah (apapaun agama dan suku-bangsa mereka), tidak ada sangkut-pautnya dengan identitas dan kualitas keimanan atau keagamaan seseorang. Maka, hanya orang-orang yang "kepalanya penjol" saja yang menganggap non-Muslim yang berkerudung atau bergamis sebagai "si kapir yang menyamar menjadi Muslim untuk menghancurkan Islam". Fanatik boleh, bego jangan.

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Thursday, May 3, 2018 - 08:15
Kategori Rubrik: