Bujar Bajer Bujar Bajer

ilustrasi

Oleh : Erri Subakti

Saking sudah tidak ada isu lain untuk menggoyang kekuatan Jokowi, di-create-lah konten soal "buzzer Jokowi, buzzer istana, buzzer elit, dsb". Seakan2 mereka yg menuduh "buzzer Jokowi" itu tidak menggunakan buzzer ketika menyerang Jokowi. Bahkan... MEREKA sendiri adalah buzzer!

Muak saya melihat Mobilisasi dan Orkestrasi buzzer2 LSM, SJW, dan tentu saja buzzer kadal gurun.

Why akhirnya mereka menyerang dgn isu "buzzer Jokowi" ini? Ya karena buzzer2 SJW, LSM, dan kadrun itu sudah kehabisan konten lagi untuk membuat HOAX yg bisa merusak negeri ini.

Dengan mengelorakan isu "buzzer Jokowi" mereka membuat framing bahwa buzzer yg menyebarkan hoax. Meski sebaliknya justru banyak netizen Jokower yg membongkar siasat2 licik dan jahat dari mereka yg ingin mengganggu bahkan merusak negeri ini.

Media mainstream yg terkenal dgn investigasinya bahkan menurunkan tema khusus soal "buzzer istana." Terus terang saya langsung ngakak dalam hati. Lah media itu jaringannya udah kuat kok. Media itu jaringannya ada di istana juga, kementerian2, dan bahkan ada yg menduduki jabatan komisaris BUMN. Singkatnya, yg mereka sebut buzzer adalah ya.. Teman2 mereka sendiri, bahkan senior mereka.

Lha trus, why media tsb menyerang jaringannya sendiri?

Kind a long story...

Momen ini berkaitan dgn akan disahkannya sejumlah RUU.

Let me tell u something. Buka2an aja. Every single RUU itu sejak jaman kiblik, selalu di"infiltrasi" (sekarang direcoki) oleh western interest. Always... saya gak bisa gamblang membuktikan. But there so many you can check it out in google. Terutama UU yg bersifat strategis. Atau yg memiliki keterkaitan dengan interest mereka (asing).

Cara kerjanya? Gak dikerjakan dalam 1-2 tahun. Bukan kayak orang kita yg suka ngerjain sesuatu sistem kebut semalam. Mereka mikirnya five-ten years ahead.

So, they interest, first will be granted to local NGO, with title in academically language. Held in a very good activities or event. Then the local NGO will studying the brief from funding. Until they resulting some content to execute.

Dari sini kita sudah bisa melihat konstelasi ini:
Funding asing --> LSM (NGO) --> "academic event or activities" --> resulting some issues --> content material --->

Nah dari konten yg sudah disederhanakan itulah kita mengenal isu2 soal: ngeseks bisa go to jail, selangkanganku bukan milik negara, woman go home at night can go to jail, kita semua bisa kena, and so on and so on.

Yes, western funding has interest to make the revision for RUU.
Di sini gw bukan orang yg dukung RUU atau nolak RUU. Hanya menjelaskan situasi yg terjadi belakangan ini.

Lalu lewat mana materi konten tadi itu bisa bergaung secara nasional? Mahasiswa.. dan media tentu saja.. NGO feed the student with content material. But not the draft of RUU.

Itu makanya banyak mahasiswa yg blom baca draft RUU. Ya karena memang gak dikasih ke mereka draftnya. Jadi yg di"telan" oleh mahasiswa hanya materi konten dari LSM.

Lalu jadilah mahasiswa bergerak demo hari 1.

Sebelumnya tentu saja NGO melakukan conditioning ke "buzzer2 Jokowi" agar santuy aja... bukan demo ke Jokowi kok... ini demo soal RUU.

Funding asing --> LSM (NGO) --> "academic event or activities" --> resulting some issues --> content material ---> media & mahasiswa --> conditioning buzzer Jokowi --> demo.

OK.

Then... malam hari muncul massa yg bikin rusuh. Bukan mahasiswa. Who?

Nah ini... NGO dan mahasiswa forgotten about the excess, that they can blamed on.

Tentu saja melihat demo besar mahasiswa ada 1-2 (atau mungkin 3?) fihak yg memiliki interest lain dan ingin ambil keuntungan dari demo mahasiswa tsb.

Kerusuhan di malam hari itu akhirnya yg membuat "alarm" Jokower dan netizen terusik dan mulai merasa ada gangguan thd negeri, mulai muncul kekhawatiran akan munculnya kekacauan jelang "inauguration" of Jokowi as RI 1.

"Alarm" Jokower ini yg akhirnya mulai membanjiri medsos dan menunjukkan tentangannya akan demo2 yg terjadi. Netizen Jokower ini yg akhirnya mulai menyudutkan mereka yg mendukung demo, mengejek mereka yg ingin revisi RUU meski belum baca draftnya.

Di sinilah media nasional yg akhirnya harus anjlok ratingnya scr digital mulai menuduh adanya "buzzer istana" yg mereka sebut "ancaman demokrasi atau kegagalan reformasi". Koreksi jika salah, gak hafal yg mereka sebut sbg buzzer.

Fakta yg terjadi adalah: bukan "buzzer istana" atau buzzer Jokowi yg melawan media nasional tsb., bukan buzzer yg melawan SJW-NGO (LSM) melainkan kekuatan organik (akun asli dan tidak dibayar) yg dengan tulus dari hatinya menjaga Jokowi agar tidak diganggu sebelum inauguration RI 1. Semua itu MURNI Jokower dgn kesadaran hatinya. Ya iyalah Jokowi is the Winner or the Election. Wajar dan sangat wajar fansnya buessar secara real, dan setia.

Jadi buzzer gak usah nuduh buzzer. Faktanya "the winner really has a great fans". Admit it.

*sorry kalo mix in English....
*there is 1 letter that I never used in this writing. What letter is that? Who can answer?

Sumber : Status Facebook Erri Subakti

Sunday, October 6, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: