Buih dan Simbol

Oleh : Narkosun

Akhir² ini lagi trend kalimat tauhid yg disablon di topi, baju dan bendera dipamerkan oleh mereka yg selama ini dikenal anti tahlilan. Saya amati kaum ini sebenarnya tidak PD dengan keyakinan agamanya. Mereka masih perlu pengakuan dari orang lain. Mereka ingin disebut sebagai “muslim sejati”, “orang sholih”, “lebih beriman dari orang lain”. Model² seperti ini jumlahnya banyak. Tapi mudah diombang-ambingkan bak buih di lautan. Diajak demo hayuuk, sebar hoax di sosmed ok, fitnah pemerintah bangga.

Mereka lebih tertarik pada simbol² agama tanpa mengetahui hakikatnya. Mereka berhenti di teks, tanpa bisa melihat konteks-nya. Mereka bangga dengan ritual² namun mengabaikan nilai spiritual-nya.

Kalimat tauhid itu seharusnya tidak hanya dijadikan simbol tapi dijadikan amalan yg mendarah daging. Melahirkan pribadi yg ramah dan toleran kepada orang lain. Dengan keberadaannya orang lain menjadi tenang dan damai bukan sebaliknya malah membuat ketakutan sekitarnya.

Lihat ulama-ulama kita, apakah masih perlu menunjukkan simbol² seperti itu? Tidak! Para ulama sudah tak perlu pengakuan orang lain, tidak riya’ dan ingin disebut paling beriman. Mereka tidak peduli penilaian orang lain. Mereka sudah selesai dengan urusan dunia ini. Jadi tidak perlu menyablon kalimat tahlil kemudian dipakai saat ngisi pengajian. Kalimat tahlil tidak perlu dipamerkan tapi diamalkan.

Jadi, gimana kalau kita ajak mereka yg suka pakai kalimat tahlil ini untuk pimpin tahlilan?? Jangan² ga ngerti cara bubarinnya...

 

Sumber : Facebook Narkosun

Thursday, September 13, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: